Teman Surga Magelang : Ruang Hijrah Kekinian bagi Muslimah Generasi Z

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 17:39 WIB
Kegiatan kopdar Teman Surga Magelang yang diadakan tiap dua bulan sekali. (Dok TSM)
Kegiatan kopdar Teman Surga Magelang yang diadakan tiap dua bulan sekali. (Dok TSM)

 

RADARMAGELANG.ID, Magelang - Di tengah gempuran budaya liberalis, sekelompok perempuan di Magelang memilih jalan berbeda. Mereka berkumpul, saling menguatkan, dan berhijrah bersama. Itulah semangat yang diusung Komunitas Teman Surga Magelang (TSM).

Teman Surga Magelang (TSM) lahir pada 21 April 2019. Digagas oleh sekelompok pertemanan kecil dengan satu visi, membangun ruang hijrah yang saling merangkul.

Nidaaul Hasanah dan Fakhnita Utami yang kini menjabat sebagai pengurus internal, mengaku ide komunitas ini muncul dari kebutuhan akan teman seperjuangan dalam berproses menjadi lebih baik.

"Kita merasa kalau hijrah sendiri itu sulit. Makanya kita butuh komunitas, gimana caranya supaya kita bisa hijrah bareng-bareng, dan biar bisa istikomah bareng," tutur Nita.

Komunitas ini awalnya dirintis 5 hingga 10 orang, tanpa ada sosok pendiri tunggal yang ditetapkan secara resmi.

Menariknya, jejak digital awal TSM sempat mengalami kejadian pahit. Akun Instagram lama komunitas ini, yang sudah memiliki lebih dari 10 ribu pengikut, diretas oleh pihak tak bertanggung jawab yang meminta tebusan sejumlah uang.

Baca Juga: Komunitas Tanpa Nama : Gerakan Sunyi di Lereng Sumbing, Menjaga Air Tanpa Pamrih

Alih-alih membayar, pengurus TSM memilih merelakan akun tersebut dan membangun akun baru dari nol.

"Ya udah, diikhlasin aja," kenang Nita sambil tertawa kecil mengenang kejadian yang sempat membuat mereka sedih itu.

Kini, akun baru TSM berhasil kembali menghimpun ribuan pengikut, seiring makin dikenalnya komunitas ini di kalangan anak muda Magelang.

Berbeda dengan komunitas kajian pada umumnya, segmentasi audiens TSM sejak awal fokus menyasar anak muda.

Menurut Nida, sasaran ini muncul dari fenomena gelombang hijrah yang melanda kalangan artis dan anak muda perkotaan sekitar satu dekade lalu. 

Sementara menurutnya, di Magelang, ruang kajian yang ramah anak muda hampir tidak ada.

"Kebanyakan kajian isinya ibu-ibu, pembahasannya juga ibu-ibu banget dan kurang relevan dengan permasalahan aktual anak muda saat ini," ujarnya.

Sebagai komunitas yang juga membangun koneksi melalui Instagram dan grup WhatsApp yang kini beranggotakan hampir 200 orang, kegiatan rutin TSM terbagi menjadi dua jalur. 

Yakni diskusi online mingguan khusus anggota grup, dan kopi darat (Kopdar) yang digelar terbuka untuk umum setiap dua bulan sekali. Kopdar inilah yang menjadi program unggulan sekaligus pintu masuk bagi anak muda baru yang penasaran dengan komunitas ini.

Lokasi kegiatannya menyasar tempat-tempat yang dianggap representatif dengan selera anak muda masa kini.

Sedangkan materi kajian disampaikan bergantian oleh pengurus internal maupun pemateri khusus yang dianggap "nyambung" berbicara dengan bahasa gen Z.

"Ngemong gen Z tuh lumayan effort. Jadi itu menjadi salah satu strategi yang kita upayakan supaya mereka tertarik mengaji," ujar Nida.

Dari situ, TSM hadir sebagai jembatan bagi anak muda yang ingin mengaji tanpa merasa canggung atau salah tempat.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pengemasan kajian agar sesuai gaya kekinian gen Z. Bukan sekadar duduk mendengarkan ceramah di masjid, namun disisipi dengan ice breaking dan diskusi reflektif yang selaras dengan isu aktual. 

"Konsepnya karena gen Z, isinya cewek semua, kita ada nyanyi bareng, muhasabah bareng. Jadi dibikin have fun aja,” jelas Nita. 

 Merangkul Bukan Tak Menghakimi

Bagi TSM, tujuan utama bukan sekadar mengumpulkan massa, melainkan menjadi teman seperjalanan dalam proses hijrah. Baik yang baru memulai maupun yang sudah lama berproses.

Sesuai tagline mereka, "Sahabat Hijrah Sampai Jannah", komunitas ini menegaskan tidak ada budaya menghakimi di dalamnya.

Meski sudah berjalan tujuh tahun, TSM mengakui tantangan terbesar justru datang dari dalam diri target audiensnya sendiri.

Banyak anak muda yang sebenarnya tertarik dan sempat menghubungi lewat pesan langsung, namun akhirnya mengurungkan niat karena berbagai pertimbangan. 

Mulai dari rasa tidak percaya diri, keterbatasan waktu, hingga dukungan lingkungan sekitar yang belum tentu sejalan. "Kita nggak bisa memaksa. Kita hanya bisa mengajak," ucap Nida.

Nida dan Nita mengaku bukan berlatar belakang pesantren, melainkan lulusan sekolah umum yang juga pernah melalui fase awal hijrah dengan segala keraguannya. Karena itu, mereka memilih merangkul, bukan menuntut kesempurnaan instan dari anggotanya.

Nida menegaskan perbedaan konkret TSM dengan komunitas lain juga terletak dari cara mereka memaknai Islam.

Bagi TSM, Islam bukan sekadar rangkaian ibadah ritual seperti salat, puasa, dan zakat, melainkan a way of  life atau pedoman hidup yang menyeluruh, mencakup pendidikan, kesehatan, hingga cara menjawab persoalan kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan yang segar dan tetap membumi, TSM membuktikan bahwa dakwah dan kedekatan dengan gen Z bukan dua hal yang bertentangan. Melainkan bisa berjalan beriringan, asal dikemas dengan cara yang tepat. (talitha shafiaulia/setia adiana/lis

Editor : Lis Retno Wibowo
teman surga magelang hijrah generasi z