RADARMAGELANG.ID, Magelang - Kota Magelang selalu punya cara unik untuk merawat ingatan masa lalu dari bangunan-bangunan kolonial yang masih ada.
Jejak kenangan tersebut bisa dirasakan di Kedai Idris yang berada di kawasan Bayeman, Jalan Kolonel Sugiono, Kemirirejo, Magelang Tengah.
Bukan sekadar tempat nongkrong biasa, kedai ini mencuri perhatian warga Magelang karena mempertahankan keaslian bangunan yang merupakan warisan era 1918-an.
Ruangan yang kini digunakan untuk kedai, dulunya difungsikan sebagai bengkel di tahun 1970.
Memasuki tahun 1999, ruangan ini beralih fungsi untuk menyimpan gamelan dan wayang milik salah satu pengelola kedai, Henokh Aldebaran Ngili.
Henokh adalah cucu buyut dari Dominees (Ds) Idris Nakam Siswawasana yang juga dikenal sebagai pendeta Siswawasana.
Sebelum era kemerdekaan, sang kakek buyut membeli bangunan tersebut dari pendeta Markelijin, yang juga menjabat Kepala Badan Misi Zending untuk Merapi Merbabu. Transaksi pembelian berlangsung di tahun 1952.
Sejak itu, bangunan tersebut digunakan untuk rumah pribadi. Namun sebelum wafat, sang kakek buyut mewakafkan bangunan bersejarah tersebut kepada pihak gereja.
Ada cerita menarik lainnya. Henokh mengungkapkan, rumah tersebut sempat tidak ditinggali. Sebab, saat agresi 1 dan agresi 2, rumah tersebut diserang oleh pejuang Republik, karena diduga menjadi gudang senjata.
Padahal saat itu, bangunan tersebut juga difungsikan sebagai gudang obat dan makanan untuk Zendingsziekenhuis atau Rumah Sakit Zending (saat ini RSUD Tidar Kota Magelang).
“Saat kemerdekaan, oleh mbah buyut, Zendingsziekenhuis diberikan kepada Republik, karena saat itu Indonesia belum punya rumah sakit terutama untuk membantu perjuangan rakyat Republik, dan saat itu RST yang dulu masih dikuasai oleh Belanda,” terangnya.
Penamaan kedai ini pun sengaja diambil dari nama sang kakek buyut. Bagi keluarga besar Henokh, penamaan kedai dan penggunaan bagunan tersebut adalah cara keluarga mengabadikan sejarah sang leluhur.
“Jadi, kedai ini dibuka sebagai bentuk merawat ingatan kami semua,” tuturnya.
Tidak hanya dari kenangan bangunan dan cerita menarik di baliknya, Kedai Idris juga menghadirkan nostalgia dari menu-menu Nusantara, kreasi dari buku resep Mustika Rasa digagas oleh Presiden Soekarno tahun 1960.
Jika berkunjung ke Kedai Idris, menu yang wajib dicoba adalah soto dan sup tulang.
Kedua menu tersebut menghadirkan cita rasa rempah-rempah asli Indonesia yang begitu menggoda lidah.
Harganya pun ramah di kantong. Soto sapi dibanderol Rp 20.000 per porsi dan sup tulang sapi Rp 24.000.
Henokh menyebutkan, seluruh menu yang tersedia di kedai ini merupakan hidangan sehari-hari keluarganya, dan tidak terkecuali dengan menu camilan.
Melalui konsep ini, ia ingin menghadirkan makanan rumahan di tengah persaingan makanan cepat saji dan makanan ultra-proses yang kian menjamur.
Adapun kudapan yang cukup unik adalah menu tahu ikan honje. Camilan gorengan ini merupakan olahan tahu dengan ikan yang dimasak dengan bunga kecombrang dan disajikan dengan sambal petis.
Sementara menu yang lebih kekinian ada bitterballen. Menu ini berasal dari olahan daging, sayuran, krim, telur, dan tepung panir. Kedai ini buka setiap hari, mulai jam makan siang hingga tengah malam. (put/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo