Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Komunitas Perjal Temanggung : Jadi Ruang Baca Alternatif, Hidupkan Budaya Literasi

Devi Khofifatur Rizqi • Jumat, 1 Mei 2026 | 19:51 WIB
Komunitas Perjal berupaya menggerakkan minat baca masyarakat secara inklusif. (Istimewa)
Komunitas Perjal berupaya menggerakkan minat baca masyarakat secara inklusif. (Istimewa)

 

Minimnya ruang publik dan fasilitas literasi informal, membuat Komunitas Perpustakaan Jalanan (Perjal) Temanggung hadir di tengah masyarakat. Mereka menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk membaca secara santai dan bebas.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Komunitas Perjal digawangi empat anggota aktif. Yakni Wahyu Nugroho, Sa’adah Nurwidyani Jamallika, Tatag Candrayana, dan Adam Jauhari.

Mereka konsisten membuka lapak baca setiap hari Minggu. Menyuguhkan berbagai jenis bacaan untuk masyarakat secara gratis.

"Biasanya kami melapak setiap Minggu jam 09.00 pagi di Alun-alun Temanggung," ungkap Asa, sapaan akrab Sa’adah Nurwidyani Jamallika, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (1/5/2026).

Koleksi bacaan yang dimiliki komunitas ini masih terbatas. Sekitar 150 buku.

Perjal Temanggung terbentuk dari inisiatif sederhana pada 2018. Ketika itu, Perjal lahir dari keinginan anak muda untuk menghadirkan ruang membaca yang lebih inklusif dan tidak kaku. 

"Awalnya, hanya sebuah ruang komunitas kecil. Lalu berkembang dan menjadi titik temu berbagai aktivitas kreatif. Dulu kami ingin teman-teman punya kebiasaan membaca. Ternyata responnya bagus, banyak yang tertarik,”ujar Asa.

Seiring waktu, Perjal tidak hanya menghadirkan buku. Tetapi berbagai kegiatan seperti musik, seni cukil, hingga pembuatan zine. 

Namun pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas komunitas ini terhenti. Lamanya hampir dua tahun vakum.

Baru pada akhir 2025, Perjal kembali aktif meski dengan jumlah anggota yang lebih sedikit.

Kini, mereka rutin membuka lapak baca setiap hari Minggu, meski harus berpindah-pindah lokasi.

Asa menyebut, kegiatan melapak Perjal Temanggung harus nomaden. Lantaran Alun-alun Temanggung yang menjadi lokasi utama kini tidak lagi memperbolehkan aktivitas komunitas. Itu menjadi tantangan tersendiri. 

Padahal sebelumnya, lanjut Asa, lokasi tersebut menjadi salah satu titik favorit untuk menggelar lapak baca.

“Padahal ini ruang publik. Harusnya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan seperti ini. Kami juga tidak berjualan, murni berbagi ruang baca,” ungkapnya.

Kegiatan lapak baca Perjal Temanggung yang diminati masyarakat. (istimewa)
Kegiatan lapak baca Perjal Temanggung yang diminati masyarakat. (istimewa)

 

Sebagai alternatif, Perjal mencoba membuka lapak di Pasar Papringan, Ngadiprono.

Mereka berencana menjajaki lokasi lain seperti kawasan GOR dan titik-titik keramaian warga.

Meski koleksi buku terbatas dan sebagian besar berasal dari milik pribadi anggota, minat masyarakat Temanggung dinilai cukup baik.

Buku komik dan novel menjadi yang paling diminati. Utamanya oleh anak-anak dan remaja.

Untuk menarik minat pengunjung, Perjal juga menyediakan aktivitas mewarnai bagi anak-anak. Cara ini dinilai efektif untuk mengenalkan budaya membaca sejak dini.

“Biasanya anak-anak datang untuk mewarnai, lalu kami kenalkan buku. Orang tuanya juga jadi ikut membaca sambil menunggu,” kata Wahyu, anggota Perjal.

Dibandingkan sebelum pandemi, tren minat baca kini mulai bergeser.

Jika sebelumnya didominasi anak-anak, kini mulai banyak anak muda yang tertarik membaca. Terutama, setelah beraktivitas seperti olahraga.

Wahyu mengatakan, ke depan, Perjal berencana mengembangkan kegiatan literasi seperti workshop menulis, kolase, hingga pembuatan zine. 

Selain itu, mereka berharap memiliki sumber pendanaan mandiri. Hal tersebut untuk mendukung operasional dan menambah koleksi buku.

Sehingga Perjal dapat terus tumbuh sebagai bagian dari upaya membangun budaya literasi di Temanggung.

“Kami ingin tetap konsisten dulu. Harapannya nanti bisa berkembang, koleksi bertambah, dan semakin banyak masyarakat yang tertarik membaca,” harapnya. (dev/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#Komunitas Perpustakaan Jalanan (Perjal) #ruang alternatif #minat baca