RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Tri Buana Desy Ariyanti adalah sosok perempuan inspiratif asal Magelang yang memilih kembali ke desanya setelah menempuh pendidikan di luar negeri. Ia pulang bukan untuk mencari kenyamanan, melainkan membawa semangat perubahan bagi perempuan desa agar mandiri secara ekonomi melalui potensi lokal. Melalui KRAOSAN, ia menjadikan anyaman bambu bukan sekadar kerajinan, tetapi gerakan sosial yang memberdayakan perempuan desa.
Desy merupakan lulusan S1 Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) di Institut Teknologi Bandung dan penerima beasiswa Australia Awards untuk melanjutkan studi Small and Micro Enterprises (UMKM) di Monash University, Melbourne. Setelah menyelesaikan studinya, Desy merasa terpanggil untuk berkontribusi langsung di kampung halaman. Ia melihat masih banyak perempuan di sekitar tempat tinggalnya yang menghadapi keterbatasan pendidikan dan ekonomi.
“Saya menempuh pendidikan sekitar 18 tahun, sedangkan kebanyakan di sini hanya tujuh tahun. Ketimpangan itu yang membuat saya khawatir,” tuturnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan data yang ia kumpulkan, pada tahun 2019 tercatat 1.972 kasus pernikahan dini di Kabupaten Magelang. Fakta tersebut membuat Desy ingin mencari cara yang lebih konkret untuk membantu perempuan desa memiliki kemandirian ekonomi.
Pengalaman pribadi dan latar pendidikannya membuat Desy merasa perlu turun tangan. Ia ingin menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk berdaya. Desy mendirikan KRAOSAN, sebuah usaha sosial berbasis kerajinan bambu yang fokus pada pemberdayaan perempuan di desanya.
Awalnya Desy mendirikan usaha makanan bernama Raos Magelang pada tahun 2019. Namun pandemi COVID-19 di awal tahun 2020 membuat penjualannya turun drastis.
“Saya mikir, gak bisa berhenti begitu aja. Akhirnya saya bikin hampers” kenangnya.
Dari usaha hampers inilah ide baru muncul. Banyak pelanggan yang tertarik dengan wadah bambu buatan lokal daripada isi makanannya.
“Banyak yang nanya, bisa beli wadahnya aja nggak? Akhirnya saya bikin brand baru KRAOSAN – Craft by Raos Artisan ,” jelasnya.
Melalui KRAOSAN, ia mengajak para perempuan untuk menganyam bambu menjadi produk bernilai tinggi mulai dari besek eksklusif dan wadah hampers hingga kerajinan dekoratif yang kini menembus pasar nasional dan internasional.
Desy menyadari tantangan terbesar bukan terletak pada modal, melainkan pada perubahan pola pikir masyarakat. Ia menilai, pengrajin di desanya perlu melihat bukti nyata terlebih dahulu agar yakin inovasinya membawa hasil positif, karena menurutnya perubahan dimulai dari mereka yang mau mencoba dan menjadi bukti hidup bahwa cara baru itu berhasil.
Dalam menentukan harga, KRAOSAN selalu melibatkan para pengrajin secara langsung.
“Kita duduk bersama, menentukan harga yang adil. Karena yang dinilai bukan hanya bahan, tapi juga waktu, tenaga, dan keterampilan,” kata Desy.
Pendekatan itu membuat produk KRAOSAN dihargai lebih tinggi, bahkan mencapai 13 kali lipat dari harga produk sejenis di pasar lokal.
Keberanian Desy membawa KRAOSAN menembus pasar internasional menjadi bukti keseriusannya. Sekitar 80 persen produk KRAOSAN telah diekspor ke Malaysia, sementara sisanya dipasarkan di Indonesia. Ia juga tengah menyiapkan ekspansi ke pasar Eropa yang lebih menghargai produk ramah lingkungan.
Saat ini KRAOSAN memiliki sekitar 30 SKU (varian produk) dengan best seller berupa besek eksklusif dan kotak-kotak anyaman. KRAOSAN tidak hanya beroperasi di wilayah Borobudur, namun juga telah berkumpul dengan pengrajin dari beberapa kecamatan lain, seperti Windusari dan Sleman.
Secara hukum, KRAOSAN berbentuk badan usaha PT KRAOSAN Inovasi Kreatif yang mengusung model bisnis sosial. Terdapat sekitar 20 mitra pengrajin yang terlibat dalam produksi. Selain itu, KRAOSAN juga memiliki tim inti yang beranggotakan enam hingga tujuh karyawan yang menangani operasional harian.
Tak hanya fokus pada peningkatan pendapatan, pada tahun 2024 KRAOSAN juga menyalurkan beasiswa bagi anak-anak para pengrajin agar mereka dapat melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang.
Di balik keberhasilan produk KRAOSAN, Desy menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap perempuan desa.
“Perempuan tuh menurut saya sangat perlu untuk berpendidikan begitu ya, karena dia kemudian bisa memerdekakan pikiran dari banyak sekali stigmatisasi sosial yang ada,” ujarnya.
Desy berharap pada tahun 2026 KRAOSAN dapat berkembang lebih luas dan mampu mengekspor produk dalam skala besar. Ia optimistis karena model bisnis sosial yang dijalankan sudah terbentuk dengan baik.
Desy melihat pasar luar negeri, terutama Eropa, punya peluang besar karena masyarakatnya sudah lebih sadar akan pentingnya produk ramah lingkungan. Berdasarkan pengalamannya, saat ia membawa produk bambu cup ke Inggris, banyak orang yang tertarik dan kagum.
Melihat peluang tersebut, Desy berharap KRAOSAN dapat lebih mudah menembus pasar internasional serta melibatkan lebih banyak warga Magelang, khususnya para pengrajin berbahan alami, agar dapat tumbuh bersama dan memberi dampak positif.
Menurut Desy, keberhasilan KRAOSAN bukan hanya tentang bisnis, melainkan tentang dampak sosial yang ditimbulkan. Ia percaya, semakin luas pasar yang terjangkau, semakin banyak perempuan yang bisa diberdayakan.
Selain KRAOSAN, Desy juga menggagas dua inisiatif sosial lainnya, yaitu Obaho Movement dan Obaho Charity Shop. Obaho Movement bergerak di bidang sosial dan pendidikan, dengan tujuan menumbuhkan rasa peduli dan empati anak muda terhadap kehidupan masyarakat desa.
Sedangkan Obaho Charity Shop adalah toko amal yang menjual barang-barang donasi atau preloved. Di sini, orang bisa berbelanja sekaligus berdonasi, dan hasil penjualannya digunakan untuk mendukung berbagai program sosial dan pendidikan yang dijalankan Desy melalui Obaho. (mg3/mg6)
Editor : H. Arif Riyanto