Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

It Was Just an Accident, Jafar Panahi: Ketika Film Jadi Bentuk Perlawanan Paling Sunyi

Magang Radar Magelang • Senin, 27 Oktober 2025 | 18:00 WIB
Poster film It Was Just an Accident, sebuah film karya Jafar Panahi
Poster film It Was Just an Accident, sebuah film karya Jafar Panahi

RADARMAGELANG.ID--Film It Was Just an Accident garapan Jafar Panahi yang tayang di Bioskop tanah air pada Oktober 2025 membuka sesuatu yang besar. Mengupas akan luka, ingatan, dan kekuasaan, begitulah yang terjadi dalam It Was Just an Accident.

Dengan berhasilnya film ini dalam memenangkan Palme d'Or pada 24 Mei 2025 yang merupakan penghargaan tertinggi dalam Cannes Film Festival, membuktikan fenomenalnya. Menariknya lagi, film ini bukan mewakili negaranya yaitu Iran, justru malah menjadi perwakilan Prancis dalam ajang Piala Oscar 2026 di kategori Best International Feature Film, karena dikerjakan melalui kerja sama distribusi bersama rumah produksi Prancis.

Film ini tak sekadar thriller moral, namun menjadi pernyataan politik, karya seni, dan bentuk keberanian Sang Sutradara yaitu Jafar Panahi di tengah sistem yang selalu berkeinginan menekan kreativitas. Sutradara asal Iran ini tak pernah berhenti melawan meski selalu dibungkam oleh negaranya sendiri.

Film dengan mengisahkan tokoh Vahid yang merupakan seorang mantan tahanan politik yang tengah menjalankan kehidupan yang sederhana sebagai mekanik mobil di pinggiran kota. Di suatu hari, ia menabrak seorang pria tua bernama Eghbal, yang menuduhnya ceroboh. Namun tak lama, Vahid menyadari sesuatu yang terasa familiar dari wajah pria itu, dalam keyakinannya ia menduga bahwa Eghbal merupakan salah satu penyiksanya saat berada di penjara puluhan tahun silam.

Dengan ditemani sahabat lamanya, Shiva yang merupakan seorang fotografer sekaligus mantan tahanan politik, Vahid mulai menulusuri kebenaran dari balik identitas pria itu. Dengan pertanyaan akan apakah semua hanya "kebetulan," atau masa lalu yang memang tak pernah benar-benar berakhir.

Dalam pencariannya, Panahi secara cermat menyinggung akan luka sosial dan politik pada bangsanya. Ia tak secara eksplisit menunding, tetapi melalui keheningan, melalui di setiap tatapan, dan di setiap kebetulan kecil yang terasa seperti halnya serangan halus terhadap sistem yang membungkam kebenaran.

Seperti di karya-karya Panahi sebelumnya mulai dari Taxi Tehran kemudian No Bears, dalam film ini juga masih menjadi bentuk protes lembutnya terhadap penekanan akan kebebasan berekspresi di Iran.

Meski Panahi masih dilarang untuk membuat film di negaranya, ia selalu kembali bersama karyanya dengan temuan berbagai caranya untuk selalu hadir tanpa kehadiran, dengan memanfaatkan kerja sama internasional agar pesannya tetap tersampaikan pada dunia.

"It Was Just an Accident" memuat tentang trauma kolektif, rasa bersalah, dan keinginan manusia dalam menuntuk keadilan, bahkan ketika tak ada ruang untuk dapat bersuara.

Dalam film ini juga menjadi bukti bahwa sinema masih menjasi salah satu ruang aman dalam pengungkapan kebenaran. Panahi tak berkobar-kobar meneriakan perlawanan, namun ia cerminkan dalam filmnya yang menggema.

It Was Just an Accident bukan sekadar film yang memuat kecelakan, tapi juga tentang manusia yang tetap berani melangkah setelah jatuh. Tentang bagaimana seniman menolak menyerah dalam diam. Tentang bagaimana sinema dapat menjadi semua bentuk perlawanan paling sunyi yang paling abadii. (mg8)

Editor : H. Arif Riyanto
#Cannes Film Festival 2025 #Cannes Film Festival #Palme d'Or #Best International Feature Film #It Was Just an Accident #Jafar Panahi #film