RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Di rumah sederhana di Dusun Kragilan, Desa Donorojo, Kecamatan Mertoyudan, tinggal seorang lelaki sepuh bernama Mbah Sastro Sudirjo. Lahir pada 12 Februari 1922, Mbah Sastro kini berusia 103 tahun.
Meski renta, ia masih menunjukkan keteguhan dan semangat hidup yang luar biasa. Saat ini ia tinggal bersama anak keduanya dari istri keenam, Isropingah (54)
Saat tim Jawa Pos Radar Magelang mengunjungi kediaman Mbah Sastro, lelaki itu sedang membelah kayu untuk bahan bakar tungku. Di sela aktivitasnya, tongkat kayu yang kini menjadi tumpuan langkahnya, tak pernah jauh dari genggaman.
Penglihatan Mbah Sastro masih berfungsi baik meski mulai kabur saat melihat jarak jauh. Sementara pendengarannya tetap jernih, beliau pun masih mampu bercakap dengan lancar.
Penglihatan Mbah Sastro masih berfungsi cukup baik meski mulai kabur untuk jarak jauh. Pendengarannya tetap jernih, sehingga ia masih mampu bercakap dengan lancar. Meski hidup di tengah masyarakat Jawa dan berusia lanjut, Mbah Sastro tidak menganut ajaran kejawen.
Ia berpegang teguh pada ajaran Islam yang diyakini sejak muda. Ia mengaku tidak memiliki kebiasaan istimewa selain selalu bersyukur dan membaca ayat-ayat pendek setiap malam sebelum tidur, seperti Surat Al-Ikhlas, Ayat Kursi, serta tahlil lirih hingga terlelap.
Di balik rambut putih dan langkah yang pelan, semangatnya dalam beribadah tak pernah padam. Setiap waktu salat tiba, Mbah Sastro pasti berjalan menuju masjid. Tidak peduli panas terik atau hujan deras mengguyur desa, ia tetap melangkah dengan tenang
“Nik wes krungu (dengar) adzan, udan deres tetep mangkat bawa teken (tongkat)”, ujar Isropingah.
Mbah Sastro baru mulai menggunakan tongkat beberapa waktu terakhir setelah terjatuh dari sepeda onthel ketika hujan deras saat hendak ke masjid. Tongkat kayu yang sederhana itu kini menjadi penopang setia yang membuatnya tetap bisa menjalankan kewajiban sholat berjamaah.
Kebiasaanya tampak sederhana, Mbah Sastro terbiasa mandi air dingin dan tidak memiliki pantangan makanan. Meski usianya lebih dari satu abad, beliau tetap menikmati hidangan sederhana yang disiapkan anaknya tanpa pilih-pilih, serta rutin mengonsumsi buah pace (mengkudu).
“Nek dahar (makan) sayur lompong mau, kubis, nik raono ya tempe tahu gelem (mau), ngga ada pantangan,” kata Isropingah.
Di sela aktivitasnya, Mbah Sastro pun masih kerap menikmati sebatang rokok tanpa pernah mengeluh sakit. Meski usianya telah lebih dari satu abad, kesehatannya tetap terjaga.
Ia jarang bahkan hampir tidak pernah sakit. Menariknya, meski masih aktif merokok, tubuhnya tetap bugar dan aman dari keluhan penyakit.
“Alhamdulillah, Mbah masih sehat. Belum pernah ke rumah sakit,” tambah Ispropingah.
Secara administratif, Mbah Sastro tercatat sebagai pemilih berkelanjutan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), meski sejauh ini belum pernah digunakan.
Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah menikah tujuh kali, nama-nama istrinya kini sebagian besar sudah tak lagi diingat karena waktu dan beberapa di antaranya telah berpulang. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai tujuh anak, dua cucu, tiga cicit, dan tiga buyut.
Kisah hidup Mbah Sastro penuh pengalaman dramatis. Ia pernah digigit ular dan jatuh dari pohon kelapa hingga nyaris kehilangan nyawa.
“Saya itu pernah ngrasakke kaya wong mati sedelo, semaput boten kelingan, kawit luhur tekan isya ndalu, dibopong boten ngerti, adikula sing adoh pun dugi mriki, ternyata seh melek” tutur Mbah Sastro.
Tak hanya itu, Mbah Sastro juga bercerita tentang pengalaman luar biasa lainnya. Setelah kejadian digigit ular, hewan yang sama konon datang kembali ke rumahnya pada malam hari. Ular itu melingkar di halaman, seperti hendak meminta maaf dan menyedot kembali bisa yang sudah masuk kedalam tubuh Mbah Sastro.
“ulone mlebu ngomah, melingker nang ngarep omah. Aku yo ngomong, ‘yo wis, aku ngapura, kowe ojo nesu maneh.’ Ora suwe, ulone lungo, anehe awak iki ra loro meneh,” kisah Mbah Sastro sambil tersenyum.
Bagi Mbah Sastro, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa hidup dan mati sepenuhnya kuasa Tuhan, sementara manusia hanya bisa menerima dengan ikhlas.
Pada masa mudanya, Mbah Sastro dikenal aktif, mahir berkuda, pernah bermain ketoprak, serta menembang Kinanti sambil menabuh gendang dan bedug.
Kini, di usia lebih dari seabad, ia tetap menjadi panutan di lingkungannya, bukan karena fisik yang prima, melainkan karena konsistensi ibadah dan kesederhanaan hidup yang ditunjukkan sehari-hari. (mg6/mg3)
Editor : H. Arif Riyanto