Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Menjadi Diri Sendiri: Pesan Psikolog Ela Minchah di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Magang Radar Magelang • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 00:04 WIB
Sosok Ela Minchah, Psikolog yang mendirikan Biro Psikologi Cerita
Sosok Ela Minchah, Psikolog yang mendirikan Biro Psikologi Cerita

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan mental. 

Bagi Ela Minchah Laila Alawiyah, M.Psi., Psi., hari ini memiliki makna yang sangat personal. Psikolog perempuan kelahiran 1987 ini memaknainya sebagai kesempatan untuk berkontribusi lebih luas dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa.

Ela, yang kini menetap di Jl. Sultan Agung Nepak RT 06 RW 01, Mertoyudan, Magelang, dikenal sebagai pendiri Biro Psikologi Cerita, sebuah wadah layanan psikologi yang berdiri sejak tahun 2020. 

Sebelumnya, ia telah berpengalaman mengajar selama tujuh tahun sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain OCB Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta (2012) dan FKIP Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma).

Lulusan S1 Psikologi UII Yogyakarta (2008) dan S2 Magister Profesi Psikologi di kampus yang sama (2012) ini kini aktif memberikan pelayanan konseling, asesmen, serta edukasi publik seputar kesehatan mental.

Perempuan dan Makna Menjadi Diri Sendiri

Ela percaya bahwa setiap perempuan berhak menjadi dirinya sendiri, apapun perannya dalam kehidupan.

“Cita-cita harus diukir dari kecil, entah menjadi ibu rumah tangga atau istri seseorang, kita tetap perempuan yang utuh. Selagi masih muda, berkarirlah, nikmatilah hasil jerih payah itu. Self love itu penting. Walaupun kita telah menjadi istri dan ibu, bahkan menjadi seorang nenek, kita harus tetap kembali menjadi diri sendiri, jangan mengubah kepribadian kita hanya untuk menyenangkan orang lain,” tuturnya.

Bagi Ela, keseimbangan antara peran keluarga dan diri pribadi adalah bentuk nyata dari kesehatan jiwa. Ia mencontohkan bahwa perempuan bisa tetap berdaya dan berkontribusi tanpa kehilangan kelembutan dan nilai-nilai dirinya.

Dua Karir dalam Hidup: Beribadah dan Bergembira

Filosofi hidup Ela sederhana tapi bermakna, yakni “Perjalanan kehidupan mengantarkan saya pada pemahaman bahwa hidup di dunia punya dua karir, yaitu beribadah dan bergembira.”

Ia meyakini bahwa ibadah tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga memperkuat spiritualitas yang berpengaruh langsung pada kestabilan mental. Sementara rasa gembira menciptakan energi positif yang membuat hidup terasa lebih ringan dijalani.

Sehat Mental Bukan Berarti Tidak Sakit

Ela mengutip pandangan World Health Organization (WHO) yang mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan di mana seseorang menyadari kemampuannya, mampu menghadapi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan berkontribusi bagi lingkungannya.

Menurutnya, seseorang bisa dikatakan sehat secara mental ketika fungsi fisik dan mentalnya berjalan seimbang dan ia mampu memaknai apa yang dijalani setiap hari.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental juga menjadi keprihatinannya. 

“Selama ini banyak yang mengira ke psikolog itu harus sakit dulu. Padahal justru sebaliknya, datang ke psikolog adalah bentuk kepedulian diri sebelum terlambat”, jelasnya.

Melalui Biro Psikologi Cerita miliknya, Ela menghadirkan layanan Mental Health Check Up (MHCU), dengan mencakup screening psikologis, asesmen individu maupun kelompok, konseling, terapi, hingga psikotest.

Dengan tegas Ela menyatakan, kesehatan fisik saja tidak cukup, “ Di dalam akal yang sehat terdapat jiwa yang kuat, begitu juga sebaliknya. Keduanya harus berjalan selaras”.

Tantangan dan Fenomena Gen Z

Ela juga menyoroti masalah kesehatan mental yang dialami oleh anak muda terutama Generasi Z, yang dijuluki sebagai “generasi stroberi” yang mudah retak saat menghadapi tekanan.

Menurutnya, meskipun faktor genetik berperan, lingkungan sosial juga memiliki dampak yang lebih besar. Masalah mental yang sering ditemui di tengah masyarakat baik pada remaja maupun dewasa, meliputi perundungan atau bullying, peningkatan perasaan tidak aman atau insecure. dan kesulitan dalam hubungan interpersonal (konflik relasi)

Tantangan utama yang masih dihadapi adalah rendahnya kesadaran publik bahwa menjaga kesehatan mental adalah hal yang harus dilakukan secara proaktif, bukan hanya ketika seseorang sudah sakit. Dalam hal ini, psikolog berperan membantu individu mengenali potensi, kelemahan, dan arah pengembangan diri, bukan sekadar bertugas menyembuhkan gangguan.

Langkah Sederhana Menjaga Kesehatan Mental

Ela mengajak masyarakat untuk mulai dari hal-hal kecil, seperti:

  1. Mengelola emosi dan stres, dengan memberi jeda saat memuncaknya emosi untuk memberi ruang pada diri sendiri.
  2. Menjalin hubungan sosial yang sehat, yaitu membangun komunikasi baik iu di rumah, di tempat kerja, atau lingkungan sekitar.
  3. Berpikir positif terhadap diri sendiri, tidak lupa untuk menghargai proses dan segala keputusan yang diambil.
  4. Menemukan makna hidup, dengan tujuan yang membuat hidup terasa berharga.

Menurutnya, kesadaran selalu muncul dari diri sendiri termasuk untuk sehat mental. “Faktor luar seperti keluarga atau teman hanyalah penguat. Intinya, setiap orang punya kemampuan self-healing yang diberikan Tuhan, tingga disadari dan digunakan dengan baik”, ujarnya.

Pesan di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini, Ela mengajak masyarakat untuk lebih sayang pada diri sendiri.

“Hari kesehatan mental sedunia ini adalah hari dimana orang-orang kita ajak untuk saling menyadari, sayang pada diri sendiri. Itu jauh lebih penting daripada kita mengorbankan sesuatu yang sifatnya muluk-muluk tetapi mengabaikan diri sendiri. Kesehatan mental harus kita jaga supaya kita paham betul makna kebersyukuran, apa yang sudah tuhan anugerahkan kepada kita” ucapnya

Ia menutup dengan pesan penuh makna,

“Pertahankanlah ibadah dan kegembiraan dalam diri kita. Ketika spiritualitas dan kebahagiaan seimbang, maka kita akan ringan dalam menjalani kehidupan. Di situlah kesehatan mental sejati berada”, tegasnya. (Najwa Salsabila Saharani/ Diar Putri Ananda)

Editor : H. Arif Riyanto
#beribadah #hari kesehatan jiwa sedunia #Ela Minchah #10 oktober #Biro Psikologi cerita #psikologi #Bergembira #perempuan