RADARMAGELANG.ID, Magelang – Perempuan kini tak lagi hanya berperan di balik layar rumah tangga, tapi mulai bangkit dan mengambil peran aktif dalam dunia digital. Komunitas Perempuan Berdaya di Magelang hadir sebagai ruang pengembangan potensi yang memberikan peluang bagi perempuan dari berbagai kalangan usia untuk belajar, berkarya, dan berinovasi tanpa batas melalui teknologi.
Komunitas yang didirikan pada 3 November 2024 oleh Dista Ayu ini telah berhasil mengumpulkan sekitar 300 perempuan anggota yang tersebar di Magelang dan berbagai daerah di Indonesia.
Awalnya, komunitas ini lahir dari kelas mentoring digital yang diadakan Dista secara independen. Dari batch 1 sampai batch 7, para peserta berinteraksi dalam grup belajar, yang kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas.
Kini, komunitas ini sudah mencapai batch 21 dan menjadi rumah bagi perempuan berusia 17 hingga 52 tahun yang ingin mengasah kemampuan digital mereka.
Visi dan misi Komunitas Perempuan Berdaya fokus untuk mengusung literasi digital sebagai kunci pemberdayaan perempuan.
Komunitas ini menggelar beragam pelatihan, mulai dari public speaking, pembuatan produk digital lewat Canva, affiliate marketing, hingga kelas-kelas yang berfokus pada bagaimana cara memonetisasi keterampilan digital.
Semua ini dirancang supaya perempuan dapat menghasilkan pendapatan dari rumah tanpa meninggalkan peran mereka sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.
Dista Ayu sendiri punya cerita menarik di balik komunitas ini.
Ia sempat merasa ter-pressure saat terpilih menjadi duta Canva Indonesia dan diminta membuat komunitas.
Berangkat dari situ, Dista membangun Komunitas Perempuan Berdaya sebagai wadah pertama yang fokus pada affiliate, lalu memperluas dengan komunitas lain seperti Canva Lover Magelang dan Lynk.id.
Total, Dista kini memimpin tiga komunitas dengan passion berbeda.
Sejauh ini, Komunitas Perempuan Berdaya telah menyelenggarakan sekitar 30 event offline dan memiliki program rutin bulanan bernama "Canva Corner," yang diadakan setiap Jumat pada minggu pertama.
Selain itu, setiap minggu komunitas mengadakan sesi zoom dengan materi yang bervariasi untuk menunjang pengembangan keterampilan digital para anggotanya.
Membangun komunitas perempuan tentu tidak tanpa tantangan.
Dista mengakui bahwa dinamika emosi dan perasaan yang khas pada perempuan kadang menjadi ujian tersendiri.
“Sebagai founder, sebisa mungkin harus tegas ketika mengambil keputusan. Kalau dalam komunitas sudah ada anggota yang membentuk grup (geng/circle), itu tidak akan sehat. Jadi, biasanya aku akan mengeluarkan mereka atau membiarkan mereka buat kumpulan sendiri biar komunitas tetap fokus sesuai tujuan awal,” ujar Dista saat ditemui Jawa Pos Radar Magelang, Jumat (3/10/2025).
Dalam perjalanan komunitas, Dista sudah meraih beberapa pencapaian, seperti terpilih menjadi duta Canva Indonesia, menjadi pemateri berbagai event, dan mendapatkan gelar 'star' dari Lynk.id.
Sedangkan Komunitas Perempuan Berdaya berhasil masuk 15 besar komunitas di SheHacks Indonesia.
Harapan Dista ke depan sangat mulia.
Ia ingin ibu rumah tangga tak lagi harus bekerja di luar rumah, tapi tetap bisa berkarya dan produktif lewat program digital tanpa mengabaikan pengasuhan anak.
Ini juga untuk memecah pola asuh yang selama ini kurang ideal.
“Aku pengen para perempuan tidak merasa takut dan skeptis dengan perkembangan digital. Kalau kita merasa takut, justru kita akan menjadi manusia yang tertinggal. Kita tidak akan pernah digesek dengan perkembangan teknologi jika kita mampu memanfaatkannya,” harapnya.
Puncak dari perjuangan komunitas ini akan ditandai dengan event besar “Transformasi Komunitas Perempuan Berdaya” pada 2 November 2025 mendatang.
Event ini sekaligus merayakan anniversary komunitas dan memberikan penghargaan kepada 50 anggota paling aktif.
Komunitas Perempuan Berdaya membuktikan bahwa dengan semangat, keteguhan, dan kecakapan digital, perempuan dapat menjadi sosok yang mandiri, kuat, dan mampu mewujudkan mimpi dan perubahan nyata di era digital. (nailah sekar abhinaya w/frisca nur febrista)
Editor : H. Arif Riyanto