RADARMAGELANG.ID -- Nama aslinya Ir. Pamudji, BRE., M.Eng.Sc., tapi masyarakat lebih akrab menyapanya Om Pam.
Lahir di Madiun pada 1950.
Ia kini dikenal bukan hanya sebagai pensiunan PNS, tetapi juga sebagai trainer keluarga, konselor sosial, dan penulis puluhan buku.
Meski sudah memasuki usia senja, semangatnya dalam mendampingi masyarakat tak pernah surut.
“Saya dibesarkan oleh pemerintah, jadi saya harus mengabdi untuk pemerintah,” ucapnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Magelang di kediamannya, Perumahan Bina Marga, Jurangombo Selatan, Magelang Selatan.
Om Pam menempuh pendidikan awal di Sekolah Rakyat Desa Babadan Lor, Madiun, lalu melanjutkan hingga STM Negeri 1 Madiun jurusan Bangunan Air.
Karier panjangnya di dunia teknik sipil bermula sejak 1974 di Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah, hingga pensiun di 2007.
Ia sempat menimba ilmu di ITB, Universitas Diponegoro, hingga University of New South Wales, Australia.
Namun, setelah pensiun, ia justru memilih jalan berbeda.
Yakni, pemberdayaan sumber daya manusia (SDM).
Dari membuka kursus pengembangan SDM, mendirikan forum keluarga, dipercaya menjadi Ketua LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan) Jurangombo Selatan hingga Ketua DPD LPM Kota Magelang.
“Awalnya saya tidak tahu LPM itu apa, tapi tiba-tiba didorong masyarakat untuk maju. Eh, ternyata dipercaya sampai dua periode,” ujarnya sambil tersenyum.
Konsultasi Gratis, Menangani Kasus Berat
Dedikasi Om Pam terlihat jelas dari langkahnya membuka layanan konsultasi gratis untuk keluarga dan remaja.
Ia ingin menjembatani kebutuhan masyarakat yang sulit menjangkau layanan profesional berbiaya tinggi.
“Konsultasi itu mahal, apalagi di Magelang tidak banyak. Saya ingin membantu meringankan beban keluarga,” jelasnya.
Kasus-kasus yang ia tangani tak main-main: KDRT, perselingkuhan, remaja hamil di luar nikah, hingga penyalahgunaan narkoba dan LGBT.
Salah satu yang paling ia kenang adalah ketika mendampingi seorang pria yang sempat terjebak dalam orientasi homoseksual.
“Sekarang dia sudah menikah dan punya dua anak,” ceritanya.
Modalnya? Neuro-Linguistic Programming (NLP) dan hipnosis.
Dua pendekatan ini ia pelajari secara otodidak dan kerap dipraktikkan saat mendampingi masyarakat.
Menulis 40 Buku & Aktif di Media Sosial
Tak hanya memberi konsultasi, Om Pam juga produktif menulis.
Sejak dua tahun lalu, ia telah menerbitkan sekitar 40 buku dengan fokus pada pengembangan diri berbasis NLP.
Buku pertamanya berjudul The Lucky Zone, sementara yang sedang ia garap berjudul Growth Mindset.
“Banyak ide saya justru muncul di kamar mandi,” ujarnya sambil terkekeh.
Selain menulis, ia aktif berbagi konten pembelajaran di SnackVideo.
Media sosial menjadi salah satu caranya mendekati generasi muda dengan gaya yang lebih ringan.
Di balik kiprahnya, ada dukungan penuh dari istri dan anak-anaknya.
“Istri saya dulu aktif di sosial, sekarang gantian saya. Beliau sangat mendukung,” katanya.
Meski sering menghadapi masalah berat, Om Pam tak pernah merasa terbebani. Baginya, kuncinya adalah menjaga energi positif.
“Kalau capek ya istirahat sebentar. Saya selalu bilang pada diri sendiri, semua masalah itu tantangan, bukan beban,” ucapnya dengan mantap.
Pesan untuk Generasi Muda
Mengamati fenomena remaja saat ini, Om Pam menyebut masalah percintaan dan ekonomi keluarga masih jadi persoalan utama.
Ia juga mengingatkan agar generasi muda bijak menggunakan gadget.
“Gadget itu membantu, tapi jangan sampai membuat kita kehilangan filosofi hidup. Kreativitas itu tidak boleh mati,” pesannya.
Sebagai Ketua DPD LPM Kota Magelang, ia berharap masyarakat Magelang bisa semakin kreatif dan peduli.
“Kota Magelang ini kecil, tapi kalau warganya kreatif, bisa menghadapi persoalan apa pun,” pungkasnya. (NAJWA SALSABILA SAHARANI/ILHAM BAGUS PAMUNGKAS).
Editor : H. Arif Riyanto