Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Bermodal Awal Rp500 Ribu, Usaha Souvenir Kayu Subur Jaya Craft Magelang Mampu Tembus Pasar Nasional

Magang Radar Magelang • Minggu, 21 September 2025 | 06:53 WIB
Suryono, pemilik usaha Subur Jaya Craft sedang memegang beberapa produk buatannya.
Suryono, pemilik usaha Subur Jaya Craft sedang memegang beberapa produk buatannya.

RADARMAGELANG.ID – Dari modal awal Rp500 ribu, kini usaha kerajinan kayu  Subur Jaya Craft yang dirintis Sunaryo bersama sang anak, Bayu, 30, berkembang pesat.

Usaha yang berlokasi di Dusun Cetokan, Kabupaten Magelang ini memproduksi souvenir kayu berupa talenan, centong, spatula, hingga pisau kayu, dan telah menembus pasar berbagai daerah di Indonesia bahkan sempat merambah ke luar negeri.

Sunaryo sebelumnya pernah merantau ke Pekanbaru. Ia mulai belajar membuat souvenir kayu secara otodidak sejak 2011. Kemudian pada 2017, Sunaryo serius mengembangkan usaha sendiri dengan nama Subur Jaya. Nama tersebut diambil dari CV yang ia dirikan saat masih bekerja di Pekanbaru.

Awalnya, pemasaran dilakukan secara langsung (door to door) oleh sang anak, Bayu, ke Jakarta dan Surabaya. Namun, titik balik terjadi menjelang pandemi Covid-19. 

Produksi sempat terhenti setahun, tetapi kemudian bangkit melalui penjualan online. Marketplace seperti Shopee menjadi penyelamat, bahkan anak Sunaryo kini fokus mengelola pemasaran digital. 

Produk yang ditawarkan sebagian besar berbahan kayu mahoni, dipasok dari Salatiga, Solo, dan Purworejo. Produk yang diproduksi dapat dicustom model dan ukurannya sesuai dengan permintaan konsumen.

“Ibarat ini (talenan berukuran 10x20 cm) jadi gacuk (andalan) saya,”ujar Bayu saat ditemui oleh Jawapos Radar Magelang pada Kamis (18/9).

Baca Juga: BW Craft, Pelopor di Balik Sandal Upanat Ikonik Borobudur Magelang

Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai Rp15.000 per kodi untuk centong, Rp25.000 – Rp35.000 per kodi untuk talenan polos, hingga Rp3.500 per biji jika sudah disablon dan diberi kemasan.

Permintaan besar pernah datang saat Pemilu 2024, yaitu pesanan 14.000 talenan dari salah satu partai di Lampung, dengan pengerjaan 2,5 bulan. 

Pesanan juga pernah dikirim hingga Papua, bahkan sempat merambah Malaysia meski kontrak putus karena kendala pengiriman saat pandemi. Tawaran ekspor sumpit dari Korea dan Cina juga pernah datang, tetapi terbentur regulasi ekspor yang sulit.

Salah seorang perajin sedang memproduksi talenan
Salah seorang perajin sedang memproduksi talenan

Kini Subur Jaya Craft memiliki lima pekerja yang bekerja di rumah produksi, sementara lima orang lainnya menangani sablon, pengemasan, dan pengiriman. 

Produksi sehari bisa mencapai 1.000 produk dengan waktu kerja jam 8 pagi sampai 4 sore. 

Kendati omzet rata-rata mencapai Rp40 juta per bulan, tantangan tetap dirasakan.

Jika dulu kesulitan utama adalah pemasaran dan persaingan harga, kini kendala terbesar adalah cuaca. Musim hujan membuat proses pengeringan terhambat dan harga kayu naik karena penebang sulit beraktivitas.

Di awal berdiri, usaha ini sempat ditolak warga sekitar karena bisingnya mesin dan masyarakat belum familiar dengan usaha perkayuan. Namun, setelah Bayu berdialog, warga mendukung karena usaha ini mampu membuka lapangan pekerjaan lokal. 

Saat ini pelanggan tetap (reseller) tersebar di Magelang, Bandung, Jambi, Palembang, hingga Pekanbaru.

Bayu berharap pemerintah dapat memberi perhatian lebih, terutama terkait bantuan alat produksi serta kemudahan regulasi ekspor. 

“Kalau ada dukungan mesin dan regulasi lebih mudah, kami optimis bisa memperluas pasar hingga mancanegara,” ujarnya dengan penuh harap. (mg7/mg9/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#korea #nasional #china #perajin souvenir #ekspor #papua #kayu mahoni