Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Jejak KH Mandhur, Ulama Asal Temanggung yang Menginspirasi, Pernah Jadi Imam Besar Masjid Agung Darussalam Temanggung

Magang Radar Magelang • Senin, 16 September 2024 | 19:50 WIB
KH Mandhur ulama asal temanggung yang menginspirasi banyak orang
KH Mandhur ulama asal temanggung yang menginspirasi banyak orang

RADARMAGELANG.ID--KH Mandhur berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama di Temanggung, Jawa Tengah.

Ia lahir pada tahun 1862 di Parakan, Temanggung, dan dibesarkan dalam lingkungan yang mendorong pembelajaran agama serta semangat perjuangan.

Ayahnya, Joyo Jendul, adalah seorang pengikut Pangeran Diponegoro, yang berjuang melawan penjajah Belanda.

Latar belakang sebagai anak seorang pejuang memengaruhi pembentukan karakter dan dedikasi Mandhur terhadap kemerdekaan.

Sejak kanak-kanak, Mandhur sudah dididik dalam bidang ilmu agama.

Mandhur menunjukkan semangat besar dalam mempelajari agama.

Sehingga ia meminta kepada ayahnya untuk mendaftarkannya ke pesantren.

Akhirnya, Joyo Jendul memutuskan untuk mengirim Mandhur ke Pondok Pesantren Punduh di Magelang.

Lokasinya yang cukup jauh dari rumahnya tak memadamkan semangat Mandhur dalam mencari ilmu.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Punduh, Mandhur melanjutkan keilmuannya di pondok pesantren yang lebih besar di Jawa Timur dan akhirnya berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.

Selain itu, Mnadhur juga pernah berbaiat kepada KH Umar, seorang mursyid tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Magelang.

Beberapa tahun kemudian, Mandhur pulang ke kampung halamannya.

Tidak lama kemudian, ia menikah dan menetap di Dusun Ngebel, Desa Kedungumpul, Kandangan, Temanggung.

Di sana, Mandhur sangat dihormati masyarakat setempat sebagai dai.

Berkat inisiatifnya, Masjid At-Takwa didirikan sebagai pusat kegiatan keagamaan di Kandangan.

Lahan untuk masjid ini adalah hibah dari mertuanya.

Sekitar tahun 1924, kawasan sekitar Masjid At-Takwa mulai berfungsi sebagai lingkungan pesantren.

Mandhur pun membangun beberapa bangunan kamar untuk para santri.

Masyarakat setempat bekerja sama secara gotong royong untuk merealisasikan pembangunan ini.

Dari waktu ke waktu, area tersebut semakin berkembang menjadi pesantren yang dikenal sebagai Pondok Pesantren Al-Falah.

Selain menjalankan tugasnya di pondok pesantren, Kiai Mandhur juga aktif dalam organisasi.

Ia terlibat dalam Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 1926 atas inisiatif para ulama tradisionalis Islam, terutama KH Hasyim Asy’ari.

Di NU, Kiai Mandhur pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah NU Cabang Temanggung, dengan markasnya yang terletak di Parakan.

Setelah munculnya Resolusi Jihad, Mandhur bergabung dalam Barisan Bambu Runcing atau Barisan Muslimin Temanggung yang dipimpin oleh KH Subkhi.

Selain itu, KH Mandhur pernah memimpin BMT Daerah Temanggung, di mana pada masa itu, perwakilan BMT didirikan di setiap daerah untuk mempermudah koordinasi dan dukungan bagi para pejuang.

Pada tahun 1950, KH Mandhur diberi amanah untuk menjadi Imam Besar di Masjid Agung Darussalam Temanggung.

Sejak saat itu, KH Mandhur pindah dari kediamannya yang lama ke pusat Kabupaten Temanggung untuk mempermudah pelaksanaan berbagai tugasnya sebagai imam besar.

Di sana, mubaligh yang lahir pada tahun 1862 ini tinggal di sebuah rumah bekas milik orang Prancis, yang terletak tepat di seberang Masjid Agung Darussalam.

Lalu tak lama kemudian, KH Mandhur bersama jamaah tarekatnya, mendirikan pondok pesantrennya sendiri yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya, yang diberi nama Pondok Pesantren Mujahiddin.

Pesantren tersebut masih beroperasi sampai sekarang dan dipimpin oleh putranya, KH Ahmad Bandanuji.

Pada 4 Rabiul Awal, bertepatan dengan 18 Februari 1980, KH Mandhur meninggal dunia pada usia 118 tahun.

Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di pemakaman Dusun Ngebel, Desa Kedungumpul, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. (mg21/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#bambu runcing #dai #Nadhatul Ulama #temanggung #masjid agung darussalam #imam besar #ulama