Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Perajin Sarung Goyor “Botol Terbang” Kota Magelang Sudah Produksi Sejak 74 Tahun Lalu, Selembar Sarung Tenun Lewati 13 Proses Produksi

Puput Puspitasari • Minggu, 3 Maret 2024 | 04:33 WIB
Umar Saleh berada di pabriknya dan menunjukkan hasil sarung tenun Botol Terbang buatannya.
Umar Saleh berada di pabriknya dan menunjukkan hasil sarung tenun Botol Terbang buatannya.

RADARMAGELANG.ID,  Semarang –  Siapa sangka di sebuah kota kecil seperti Kota Magelang masih ada perajin sarung goyor atau sarung tenun ikat.

Sebuah warisan budaya Indonesia yang kini dilestarikan oleh Umar Saleh. 

Umar--sapaan akrabnya--adalah cucu dari Mukhsin, pendiri pabrik sarung goyor SM Alkatiri bermerek Botol Terbang pada tahun 1950 atau 74 tahun yang lalu.

Usaha ini kemudian diwariskan Mukhsin  kepada Saleh Muhsin yang merupakan ayah Umar. Sementara Umar mulai belajar menenun sarung pada tahun 1994, dan sampai sekarang yang meneruskan usaha tersebut di Kota Magelang.

Sementara adiknya Umar, memegang pabrik sarung di Solo. 

Sarung tenun ini bertahan karena keunikannya.

Karyawan sedang menenun sarung goyor Botol Terbang. Proses tenun merupakan tahapan terakhir.
Karyawan sedang menenun sarung goyor Botol Terbang. Proses tenun merupakan tahapan terakhir.

Kata Umar, sebanyak 13 proses pembuatan sarung dikerjakan secara tradisional.

Mulai dari seutas benang sampai menjadi sehelai sarung siap pakai. 

Proses ini diawali dengan mengelompokkan benang berdasarkan ukurannya.

Benang-benang itu kemudian diputihkan dan dikeringkan.

Benang itu kemudian dipintal dengan mesin kelos sampai menjadi gulungan benang.

Selanjutnya masuk pada tahap sekir untuk menggambar motif, mengikat, mencelupkan ke pewarna, dipalet, sampai proses terakhir adalah menenun kain.

Tidak heran, selembar sarung goyor dibanderol dengan harga Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta. 

"Mahalnya di prosesnya ini, semua pakai tenaga (manusia, Red)," ucap Umar.

Seluruh proses membutuhkan waktu berhari-hari.

Sedangkan proses menenun satu potong sarung, butuh 1-2 hari.

Proses tenun juga diklaim sebagai proses tersulit.

Butuh ketelitian perajian.

Terkadang di tengah jalan, benang tenun terputus.

Atau salah simpul, sehingga motifnya harus dibongkar. 

 "Karena prosesnya yang lama, kami (pabrik Magelang, Red) mampu hanya memproduksi 8-10 kodi sarung selama sebulan," ungkapnya.

Satu kodi 20 potong sarung, sehingga total produksi 160-200 potong sarung sebulan.

Pemasaran sarung miliknya itu sudah merambah ke Timur Tengah.

Khususnya Saudi Arabia.

Sementara pemasaran di Indonesia, sudah menyebar se-Nusantara. 

 "Dua tahun lalu, saya lihat orang Magelang tidak ada yang memakai sarung saya ini karena mahal. Sekarang ada gengsi memakai barang mahal, jadi laku. Tua dan muda, sudah mulai banyak yang pakai," terangnya. 

Umar yakin, sekali pakai sarung goyor, langsung jatuh cinta.

Sarung ini sangat nyaman bila dipakai dalam segala cuaca.

Ketika hawa terasa panas, sarung ini justru terasa adem.

Sebaliknya saat cuaca dingin, sarung ini memberikan efek hangat bila dipakai. 

"Karena bahannya 100 persen katun, nggak ada nilonnya. Benangnya saya pakai dari Tiongkok, pewarnanya dari Tiongkok dan India. Semua kualitas bagus," ungkapnya. 

 Semua orang yang pernah membeli sarung buatan Umar, pasti bisa membedakan antara keindahan sarung goyor asli dengan yang tembakan.

"Kalau sudah tahu enaknya pakai sarung goyor, besok pasti beli lagi yang asli," imbuhnya. 

Motif khas sarung tenun Botol Terbang milik Umar Saleh berciri khas.
Motif khas sarung tenun Botol Terbang milik Umar Saleh berciri khas.

Umar berharap, usahanya ini mampu bertahan di tengah gempuran produk sarung pabrikan. Meskipun dalam prosesnya, tidak ada sentuhan alat modern sama-sekali.

Bahkan alat tenun yang dimilikinya ini belum pernah diganti sejak zaman sang kakek.

Mesin tenunnya itu terbuat dari kayu jati berkualitas.

Umar hanya mengganti beberapa bagian alat tenun yang bergerak.

"Yang ganti cuma bagian atas-atas saja, karena bergerak," imbuhnya

Baca Juga: Dukung UMKM, Wali Kota Pekalongan Wajibkan ASN Pakai Sarung Batik setiap Jumat

Umar akan terus melanjutkan usaha ini. Bukan saja karena alasan mempertahankan usaha warisan, tapi juga karena ingin menjaga simbol budaya Indonesia yang memiliki nilai seni tinggi. 

Salah satu karyawan Umar, Budi, 65, mengaku sudah 35 tahun bekerja menjadi perajin sarung tenun.

Pekerjaan ini bukan hanya semata-mata untuk mencari nafkah, tapi lebih dari itu, jiwanya telah menyatu dengan pekerjaan ini.

"Rasanya senang dan bangga bisa menjadi perajin tenun. Unik dan beda," ungkapnya. (put/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#Sarung Tenun Goyor #sarung tenun #perajin sarung goyor #sarung #Kota Magelang #Alat Tradisional