Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Menara Kudus, Simbol Akulturasi dan Toleransi

Agus AP • Kamis, 6 April 2023 | 19:43 WIB
Photo
Photo
RADARMAGELANG.ID-Keunikan bentuk Menara Kudus, juga keberadaan Makam Sunan Kudus dalam satu kompleks, mendorong orang-orang untuk datang, bahkan dari luar pulau.

ELIN datang jauh sekali dari Kabupaten Tapin di Kalimantan Selatan sana. Itu pun bersama tiga rekan seperjalanan tujuan utamanya sebenarnya ke Solo.

Tapi, karena masih ada waktu, mereka menyempatkan untuk menyeberang ke bagian utara Jawa Tengah, persisnya ke Kudus.

”Ini baru sampai. Selesai salat Duhur, terus mau lanjut berziarah (ke Makam Sunan Kudus). Mau lihat-lihat dulu karena ini baru kali pertama ke Menara Kudus,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Kudus yang menemuinya pada Selasa (4/4) siang lalu.

Selain Menara Kudus, di kompleks yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, itu ada Masjid Al Aqsa dan Makam Sunan Kudus.

Photo
Photo


Pada Selasa siang lalu itu memang peziarah tak banyak. Tapi, di hari-hari sebelum Ramadan, bisa sampai 3 ribu orang yang datang dalam sehari.

Menara Kudus membetot perhatian karena bangunan yang didirikan Sunan Kudus pada 1685 itu bisa dibilang simbol akulturasi di tanah Jawa. Ada pengaruh Hindu pada arsitekturnya yang mirip candi.

Sebagaimana pula ada soto daging kerbau di Kudus yang juga merupakan simbol toleransi di Kota Kretek itu. Sebab, sapi merupakan binatang suci bagi pemeluk Hindu.

Mengutip buku Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kudus, Menara Kudus memiliki tinggi sekitar 18 meter. Bahannya berasal dari batu, bata merah, sirap, dan semen.

Bentuk atapnya layaknya tumpang bersusun tiga. Terdapat bundaran-bundaran seperti piring yang menempel memutar di bagian tengah tubuh menara.

Keunikan bentuk itu pula, menurut Ni’mah, salah seorang penjaga toko peci di kawasan tersebut, dari hasil interaksinya dengan berbagai pengunjung, yang menjadi salah satu daya tarik.

”Daya tarik lain tentu Makam Sunan Kudus,” katanya.

Di serambi luar Masjid Al Aqsa juga terdapat gapura kembar menghadap ke barat dan timur berdempetan. Bahannya sama dengan menara.

Selama Ramadan, biasanya kendaraan roda dua diparkir di halaman sebelum masuk gapura gerbang tajug (pintu masuk ke lokasi wudu).

Lokasinya berada di sebelah selatan menara. Biasanya, gerbang tajug tersebut merupakan akses peziarah untuk mengambil wudu sebelum masuk ke area Makam Sunan Kudus.

Sebelum masuk gerbang tajug juga terdapat gapura padureksan kidul menara. Dikutip dari buku yang sama, gapura padureksan dianggap paling keramat.

Banyak rajah yang tersimpan di pintu pertama masuk tajug menara tersebut.

Humas Menara Kudus Denny Nur Hakim menyebutkan, pada Ramadan peziarah sebenarnya tetap mengalir.

Dan, akan terus bertambah begitu memasuki H-15 Idul Fitri. Namun, kebanyakan didominasi warga lokal.

Kalaupun ada rombongan luar kota, kemungkinan sebatas dari daerah-daerah sekitar Kudus seperti Jepara atau Demak.

”Masuk Syawal akan mulai ramai kembali,” kata Denny.

Meski demikian, kegiatan selama Ramadan tetap ramai di kompleks Menara Kudus. Titik beratnya pada dakwah. Pada bulan puasa sebelumnya dihelat sepekan sekali, tapi tahun ini full setiap hari.

”Setelah salat Subuh, ada pengajian tafsir Alquran oleh KH Yusrul Hana Sya’roni. Lokasinya di Masjid Al Aqsa,” terangnya.

Setelah itu, seusai salat Asar, ada pengajian kitab Durratun Nasihin oleh KH Muhammad Fathan. Dilanjutkan buka puasa bersama masyarakat umum.

”Pada malamnya setelah salat Tarawih, dilanjut darusan umum (pengajian umum, Red). Setiap malam, pengisi pengajian berbeda-beda,” ujarnya. (*/c19/ttg) Editor : Agus AP
#Desa Kauman #Menara Kudus #Kecamatan Kota #Makam Sunan Kudus #Kudus #Masjid Al Aqsa