Zannetive band, grup musik asal Magelang yang melejit di jalur alternatif rock. Dengan mengangkat tema lagu seputar realitas kehidupan, dua single lagu berhasil dirilis.
RADARMAGELANG.ID, Magelang - Zannetive digawangi oleh Ardiwa Dzuh sebagai vokalis, Ernest Zafi dan Aditya Maulana sebagai gitaris, Muhammad Iqbal sebagai bassis, serta Alvito Indra yang mengisi posisi drummer.
Formasi lengkap ini baru terbentuk Desember 2024, meski cikal bakalnya sudah muncul lebih awal dari sebuah obrolan santai.
"Awalnya berangkat dari obrolan iseng antara saya dan Ardiwa. Kami sama-sama memiliki keinginan untuk membentuk sebuah band," ujar Ernest Zafi dan Muhammad Iqbal ketika ditemui Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, saat itu belum ada pembahasan serius mengenai arah band ke depan. Semua bermula ketika Ardiwa mulai menulis lirik, yang kemudian dikembangkan Ernest menjadi lagu.
Baca Juga: SBY Ikut Nyanyi di Festival Musik Pelajar di GOR Samapta Magelang
Dari proses itu, mereka mulai mencari personel tambahan. Aditya Maulana menjadi orang pertama yang bergabung sebagai gitaris, disusul Alvito Indra sebagai drummer, dan terakhir Muhammad Iqbal sebagai bassis.
Berbeda dengan kebanyakan band yang memiliki filosofi khusus di balik namanya, Zannetive justru lahir dari momen spontan saat latihan.
"Waktu itu kami sedang latihan dan ingin memberi judul sebuah lagu, padahal nama band saja belum ada. Lalu Iqbal sempat bercanda, “Band saja belum punya nama, kok sudah mau bikin judul lagu?” kenang Ernest.
Dari obrolan ringan tersebut, nama Zannetive akhirnya muncul dan disepakati bersama, tanpa makna atau filosofi khusus di baliknya.
Soal latar belakang bermusik, Ernest mengungkapkan tidak ada satu pun personel yang memiliki latar belakang formal di bidang musik sebelum membentuk Zannetive.
Kelima personel memang menyukai musik, tetapi tidak semuanya aktif berkegiatan di dunia musik sebelumnya.
Dari sisi warna musik, Zannetive memantapkan diri berada di ranah alternatif rock. Namun, kelima personel berupaya meracik aransemen agar musiknya tetap dapat dinikmati oleh pendengar yang belum terlalu akrab dengan genre tersebut.
Menariknya, band ini mengaku tidak sengaja mengacu pada musisi atau band tertentu dalam berkarya. Tetapi lebih mengedepankan selera dan karakter masing-masing personel.
Meski begitu, setelah beberapa karya dirilis, publik kerap menyebut musik Zannetive memiliki kemiripan dengan Skandal, sehingga band tersebut kini turut menjadi salah satu referensi mereka.
Zannetive telah merilis dua single, yaitu "Kickback" dan "Begitulah Seharusnya". Ernest menjelaskan, "Kickback" mengangkat isu mengenai kondisi anak muda yang terhimpit keadaan ekonomi dan harus memikul beban keluarga, baik untuk memenuhi kebutuhan pribadi maupun membantu kebutuhan rumah.
Judul tersebut dipilih sebagai simbol titik balik atau perlawanan, dengan pesan bahwa akan selalu ada titik balik bagi mereka yang memilih tetap berjuang dan tidak menyerah.
Sementara itu, "Begitulah Seharusnya" berangkat dari sudut pandang Ardiwa sebagai vokalis, mengangkat cerita mengenai arti kebersamaan dalam sebuah pertemanan berdasarkan pengalaman pribadinya.
Dalam proses penciptaan lagu, Ernest menjelaskan diawali dari lirik yang ditulis Ardiwa, kemudian dikembangkan menjadi progres lagu dan aransemen awal.
Hasilnya lalu didiskusikan bersama seluruh personel hingga mencapai kesepakatan bentuk akhir lagu. Meski Ardiwa kerap menjadi penulis lirik, Ernest menegaskan proses kreatif di Zannetive terbuka untuk semua personel.
"Semua personel memiliki kebebasan untuk membuat lirik maupun memberikan ide aransemen. Tidak ada aturan bahwa hanya satu orang yang boleh menulis lagu. Siapa pun bisa berkontribusi," katanya.
Di balik semangat berkarya, Zannetive juga menghadapi tantangan tersendiri, terutama soal pembagian waktu.
Kelima personel memiliki kesibukan yang berbeda-beda, ada yang bekerja dan ada yang masih menempuh pendidikan, sehingga cukup sulit menentukan waktu untuk berkumpul dan mengerjakan lagu bersama. "Tantangan terbesar kami adalah waktu," pungkas Ernest.
Meski demikian, Zannetive tetap berkomitmen untuk terus berkarya dan memperkenalkan musik alternatif rock khas mereka kepada lebih banyak pendengar. (muhammad fairuzi afiq/muhammad bintang pamungkas/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo