Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Di Balik Layar The Autopsy of Jane Doe, Film Horor yang Mendapat Pujian Stephen King

Magang Radar Magelang • Jumat, 24 Oktober 2025 | 03:52 WIB
Poster resmi film The Autopsy of Jane Doe yang rilis 2016 silam
Poster resmi film The Autopsy of Jane Doe yang rilis 2016 silam

RADARMAGELANG.ID – Hadir sebagai karya spektakuler dari sineas Norwegia, André Øvredal, film horor supranatural The Autopsy of Jane Doe resmi memukau penonton sejak pemutaran perdana di Festival Film Internasional Toronto pada September 2016 silam. Film ini menuai pujian bukan hanya dari penggemar horor, tetapi juga dari para kritikus film di berbagai belahan dunia.

Mengusung cerita penuh ketegangan, film ini mengikuti dua sosok utama: Tommy (Brian Cox), seorang ayah dan koroner, bersama putranya, Austin (Emile Hirsch), yang juga bekerja di kamar mayat. Suatu hari, mereka menerima tugas rumit dari kepolisian untuk melakukan otopsi pada sebuah jenazah misterius tanpa identitas, yang dikenal dengan julukan “Jane Doe.”

Di Amerika Utara, nama Jane Doe (dan John Doe untuk pria) memang sudah sangat melekat sebagai sebutan bagi mayat yang tidak diketahui identitasnya. Namun, penggunaan nama ini tidak terbatas hanya pada kasus mayat, nama tersebut juga menjadi istilah umum dalam perkara hukum, pengisian formulir dengan data fiktif, hingga nama samaran anonimus.

Dalam film ini, sosok Jane Doe adalah jenazah wanita yang ditemukan sebagai bagian dari kasus pembunuhan massal yang menggegerkan sebuah kota kecil, setelah polisi menyelidiki pembantaian satu keluarga. Namun, di balik kisah menyeramkan yang dihadirkan, ada fakta-fakta unik di balik layar yang membuat film ini semakin menarik untuk diikuti.

Fakta-Fakta Menarik di Balik The Autopsy of Jane Doe

Mungkin sebagian penonton bertanya-tanya, apakah sosok Jane Doe sepanjang film adalah mannequin atau manusia sungguhan? Ternyata, peran itu dimainkan langsung oleh aktris Olwen Kelly. 

Sutradara André Øvredal mengungkapkan alasan pemilihannya karena Kelly memiliki teknik yoga dengan pernapasan yang luar biasa. Ia mampu mengatur napasnya agar tampak benar-benar seperti mayat yang dingin dan tak bernyawa di atas meja otopsi.

Proses ini tidak mudah, Olwen harus bertahan antara delapan hingga sepuluh jam sehari selama berminggu-minggu penuh melakukan adegan ini dengan kesabaran dan kontrol mental luar biasa.

Untuk mendalami perannya sebagai Austin, putra Tommy yang melaksanakan otopsi, Emile Hirsch menjalani pengalaman nyata dengan belajar langsung dari seorang koroner profesional. Ia menyaksikan proses otopsi dan mengamati bagaimana para koroner berbicara serta berinteraksi sehari-hari. Pengalaman ini membuat acting Hirsch terasa sangat autentik dan penuh nuansa yang realistis.

Sementara itu, Brian Cox, pemeran ayahnya, memilih pendekatan berbeda, ia tidak memiliki keberanian untuk melihat langsung jenazah yang diperiksa.

Film horor The Autopsy of Jane Doe tidak hanya memikat lewat cerita menegangkan dan suasana mencekam, tapi juga lewat proses produksinya yang unik. Tidak seperti kebanyakan film yang pengambilan gambarnya dilakukan secara terpisah dan berantakan sesuai kebutuhan produksi, film ini memilih jalur berbeda: pengambilan gambar dilakukan secara kronologis.

Menurut aktor Brian Cox, metode ini sangat krusial untuk menjaga keselarasan dan kelancaran proses syuting, terutama karena settingnya yang sebagian besar berada di atas meja otopsi yang rumit dan memerlukan persiapan sangat detail. Ia turut mengapresiasi keterampilan sutradara André Øvredal yang mampu mengelola proyek ini dengan rapi.

Øvredal mengakui salah satu sumber inspirasinya datang dari film The Conjuring, sebuah film horor legendaris yang dianggapnya berhasil menghidupkan kembali esensi klasik horor. Setelah melihat kesuksesan The Conjuring, Øvredal terdorong untuk membuat film horor yang juga memiliki kekuatan dan kesederhanaan serupa. Ia pun menemukan naskah The Autopsy of Jane Doe melalui The Black List dan yakin bahwa cerita tersebut cocok untuk diwujudkan dengan pendekatan uniknya.

Sebelumnya, nama Øvredal telah dikenal lewat film horor found footage Trollhunter, yang membawa gaya bermutu tinggi terhadap genre yang menantang ini.

Meski tak sebesar The Conjuring di pasar komersial, The Autopsy of Jane Doe mampu meraih skor kritikus yang impresif, yaitu 86% di Rotten Tomatoes, sama tingginya dengan The Conjuring. Kritikus memuji film ini karena mampu membangun ketegangan dengan sangat baik, menghadirkan rasa takut yang intens, dan cara cerita diangkat dengan kreatif lewat petunjuk-petunjuk halus yang mengundang penasaran.

Namun, sayang pendapatan box office film ini sangat terbatas: hanya menghasilkan sekitar $6,1 juta secara global dan hanya $10.474 di Amerika Serikat. Karena kurangnya keuntungan finansial, peluang untuk sekuel pun jadi tertutup, berbeda jauh dengan The Conjuring yang menciptakan universe horor tersendiri dengan banyak sekuel dan spin-off.

Salah satu validasi paling bergengsi untuk film horor adalah pujian dari Stephen King, raja genre ini. Dalam unggahan di akun X (dulu Twitter), King menyatakan bahwa The Autopsy of Jane Doe adalah kengerian yang mencengangkan. Ia bahkan mewanti-wanti penonton untuk menonton film ini, tetapi jangan sendirian. Pujian ini semakin mengokohkan posisi film sebagai karya yang wajib ditonton bagi pecinta genre horor. (mg7)

Editor : H. Arif Riyanto
#jane doe #The Conjuring #horor supranatural #2016 #John Doe #stephen king #film horor #The Autopsy of Jane Doe