RADAR MAGELANG.ID - Dunia perfilman tidak ada habisnya menyimpan berbagai fakta unik atau kisah dibalik terciptanya film tersebut. Film horor merupakan salah satu genre yang cukup digemari banyak orang. Di sisi lain film horor juga memiliki cerita yang bahkan lebih menyeramkan dibanding film horor itu sendiri, salah satunya yaitu film berjudul The Exorcism of Emily Rose yang dinobatkan sebagai salah satu film exorcism yang paling mengerikan di dunia.
Film ini dilatarbelakangi sebuah kisah nyata seseorang bernama Anneliese Michel. Seorang wanita asal Jerman yang memiliki kisah serupa pada sekitar tahun 1970. Anneliese Michel merupakan seorang katolik yang taat di Kota Bavaria, Jerman. Ketika dirinya berusia enam belas tahun, ia mendadak jatuh pingsan di sekolahnya dan berjalan seperti seseorang yang kebingungan. Dirinya mengaku jika tidak mengingat kejadian tersebut, namun orang orang di sekitarnya termasuk keluarganya mengatakan jika dirinya seperti seseorang yang dirasuki.
Berjalan setahun kemudian, Anneliese Michel mengalami kejadian serupa yakni terbangun dari tidurnya dalam keadaan kesurupan, tubuhnya kejang dan bergerak tidak terkendali sebelum akhirnya ia mengunjungi dokter ahli saraf untuk pemeriksaan. Dokter mengatakan jika Anneliese mengalami kondisi epilepsi lobus temporal atau gangguan yang mengakibatkan dirinya kejang, hilang ingatan, dan halusinasi visual dan pendengaran. Epilepsi ini juga berisiko menyebabkan sindrom Geschwind atau serangkaian perubahan perilaku ekstrem meliputi hipergrafia atau penulisan yang berlebihan, hiperreligiusitas atau keagamaan yang berlebihan, homoseksualitas dan masih banyak lagi. Setelah di diagnosa oleh dokter saraf dirinya mulai mengkonsumsi obat obatan untuk menyembuhkan epilepsinya dan melanjutkan hidupnya dengan mendaftar kuliah di Universitas Würzburg pada 1973.
Baca Juga: Kebiasaan Sebelum Tidur Yang Ternyata Dapat Membuat Tidur Tidak Nyenyak
Beberapa hari bahkan bulan berlalu, obat obatan yang ia konsumsi tidak menunjukan efek kepada tubuhnya dan kondisinya semakin memburuk. Hingga akhirnya dirinya percaya bahwa ia benar benar kerasukan setan dan perlu mencari jalur lain selain pengobatan medis. Ia merasa mulai melihat wajah iblis kemanapun ia pergi dan mendengar bisikan bisikan aneh di telinganya. Bahkan saat ia berdoa ia mendengar iblis berbisik di telinganya yang mengatakan “terkutuk” dan akan “membusuk di neraka”. Lalu ia pun mulai mencari bantuan dari imam atau pendeta namun semua pendeta yang ia datangi menolak untuk membantunya dan mengatakan jika Anneliese harus mencari bantuan medis saja, karena pendeta perlu ijin dari uskup jika akan menyembuhkan seseorang.
Frustasi dengan yang terjadi pada dirinya, ia pun merobek robek pakaiannya, dan secara kompulsif melakukan 400 kali squat dalam sehari, merangkak di bawah meja dan menggonggong seperti anjing dalam kurun waktu dua hari. Ia juga memakan laba laba hidup, menggigit kepala burung yang sudah mati, dan menjilat air seninya sendiri di lantai. Ibunya yang merasa semakin khawatir pun ikut mencari pertolongan hingga akhirnya bertemu dengan pendeta yang bernama Ernst Alt yang percaya bahwa Anneliese benar benar kerasukan. Alt kemudian mengajukan sebuah petisi kepada uskup lokal, kemudian seorang uskup bernama Josef Stangl menyetujui petisi tersebut dan memberi ijin kepada seorang pendeta lokal bernama Arnold Renz untuk melakukan pengobatan exorcism namun dengan permintaan untuk melakukannya secara rahasia.
Selama sepuluh bulan kedepan, setelah disetujui oleh uskup untuk melakukan exorcism, Alt dan Renz melakukan 67 kali exorcism yang berlangsung hingga empat jam. Dalam sesi ini Anneliese mengatakan jika dirinya percaya bahwa ia dirasuki enam iblis bernama Lucifer, Cain, Judas Iscariot, Adolf Hitler, Nero, dan Fleischmann (seorang pendeta yang dipermalukan). Semua iblis yang ada di dalam dirinya terus menerus berdebat dan saling menyerang satu sama lain dengan perkataan yang kasar. Anneliese sering berbicara tentang penebusan dosa kaum muda dan nakal pada masa itu dan para imam yang murtad dari gereja modern. Hingga titik terparah yaitu Anneliese mematahkan tulang dan merobek tendon di lututnya karena terus menerus berlutut sambil berdoa.
Baca Juga: Misteri Danau Vostok, Perairan Raksasa Tersembunyi di Antartika
Selama sepuluh bulan tersebut, Anneliese sering ditahan oleh para pendeta untuk memudahkan dalam proses penyembuhan atau ritual pengusiran setan. Anneliese semakin lama secara perlahan mulai berhenti makan dan minum, dan terus menerus melakukan aktivitas penyembuhan yang sangat menyiksa dirinya hingga melukai diri sendiri. Hingga pada akhirnya ia meninggal karena kekurangan gizi dan mengalami dehidrasi pada 1 Juli 1976 di usianya 23 tahun. Pasca kematiannya, kisah Anneliese menjadi topik hangat di Jerman setelah orang tua dan kedua pendeta didakwa melakukan pembunuhan karena kelalaian. Orang tua Anneliese dan pendeta diduga tidak memanusiakan Anneliese dan menganggap lalai dalam merawat hingga dehidrasi dan kekurangan gizi. Kedua pendeta dinyatakan bersalah karena dianggap melakukan pembunuhan karena kelalaian dan dijatuhi enam bulan penjara (yang kemudian ditangguhkan) dan tiga tahun masa percobaan. orang tua Anneliese dibebaskan dari hukuman karena dianggap sangat menderita dalam kriteria hukuman dalam hukum Jerman. (mg5)
Editor : H. Arif Riyanto