RADARMAGELANG.ID, Semarang - Pemerintah merespon suara dan asiprasi sejumlah warga yang menyoroti rencana pembangunan proyek Pembangkit Listrk Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Priatin Hadi Wijaya menyebut proyek PLTP Gunung Ungaran tidak dilakukan dengan sembarangan sehingga sampai saat ini belum ditentukan lokasi titik pengeborannya.
“Saat ini masih dalam proses studi. Nantinya PLN yang diminta menyampaikan laporan secara berkala, termasuk pembaruan data bawah permukaan melalui kajian geofisika, geokimia, dan geologi.
Baca Juga: Gunung Ungaran Potensi Hasilkan 55 Megawatt Panas Bumi, Pengeboran Baru Bisa 2028
Proses penentuan lokasi pengeboran dan fasilitas produksi akan melalui kajian serta koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah," ungkap Priatin dalam Diskusi dan Dialog yang digelar di Kampus FISIP Universitas Diponegoro Semarang, pada Kamis (17/9/2026).
Ia juga menepis kekhawatiran bahwa pengembangan panas bumi secara otomatis akan merusak situs budaya seperti Candi Gedong Songo di kawasan Ungaran.
Priatin menambahkan PLTP Dieng menjadi bukti riil bila seluruh infrastruktur yang dibangun sangat jauh dari cagar budaya yakni kawasan Candi Arjuna dan lainnya, termasuk nantinya yang di Ungaran juga akan jauh dari kawasan Candi Gedongsongo.
“Penentuan titik pengeboran tidak dilakukan secara sembarangan dan akan memperhatikan berbagai aspek, termasuk keberadaan situs maupun kondisi lingkungan di sekitar lokasi,"imbuhnya.
Hal senada juga disampaikan Executive Vice Precident Management Geothermal PT PLN, John Yudi Steve Rembet.
Ditegaskan, lokasi PLTP tersebut jaraknya lebih dari dua kilometer dari Candi Gedong Songo.
"Jauh (dari Candi Gedong Songo). Kalau bahasa tadi sekitar dua kilometer, perimeternya dua kilometer itu. Tapi bisa lebih jauh lagi, itu kan perimeternya ya. Jadi bisa tidak persis di dua kilometer. Bangunan dan kegiatan wisata Candi Gedongsongo masih bisa berjalan dan utuh. Kami berkomitmen berusaha menghindari itu," jelas John di acara yang sama.
Di sisi lain, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah Fahmi Bastian meminta pemerintah mempertimbangkan kembali berbagai aspek sebelum pengembangan panas bumi Gunung Ungaran dilanjutkan.
Ia menilai kebutuhan energi perlu dibandingkan dengan pilihan sumber energi lain, termasuk dari sisi investasi dan risiko lingkungan.
"Kalau dalam konteks urgensi energi, sebenarnya tidak terlalu membutuhkan. Kalau bicara cadangan, cadangan kita itu di atas 30 persen. Kalau hanya 55 MW dengan investasi Rp5,7 triliun, ini perlu dikaji lagi," katanya.
Fahmi membandingkan rencana tersebut dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang menurut dia dapat menghasilkan kapasitas lebih besar dengan kebutuhan investasi yang berbeda.
Selain persoalan investasi, WALHI menyoroti potensi dampak lingkungan.
Termasuk penggunaan air dan perubahan tutupan lahan selama pembangunan serta pengoperasian pembangkit.
Menurut dia, perubahan fungsi kawasan hutan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan apabila pembangunan infrastruktur panas bumi dilakukan di kawasan pegunungan.
"Geothermal memang zero emisi, tetapi tidak zero bencana. Dampak terhadap konteks kebencanaan juga perlu diperhitungkan," ujarnya. (rls/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo