RADARMAGELANG.ID--Perang meletus jauh di Timur Tengah, tetapi getarannya sampai juga ke pasar-pasar kecil di negeri ini. Ia tidak datang sebagai dentuman, melainkan sebagai harga yang pelan-pelan naik: ongkos angkut bergerak, bahan bakar beringsut, dan plastik yang begitu akrab dalam keseharian ikut menjadi mahal. Tiba-tiba kita sadar, dunia yang terasa jauh itu ternyata bisa mengetuk dapur kita sendiri.
Di titik itulah pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani yang mendorong penggunaan kemasan dari bahan organik menjadi relevan. Ketika harga plastik dilaporkan melonjak 30 sampai 80 persen, ajakan itu terdengar bukan sebagai slogan, melainkan sebagai upaya mencari pijakan yang lebih masuk akal. Sebab yang pertama kali merasakan sesak bukanlah ruang rapat atau angka-angka di layar, melainkan para pelaku usaha kecil yang tiap hari harus menghitung biaya dengan cermat agar dagangannya tetap hidup.
Bagi usaha kecil, bungkus bukan soal pinggiran. Ia bagian dari ongkos hidup. BPS mencatat, pada 2023 Indonesia memiliki 4,85 juta usaha penyediaan makanan dan minuman dengan serapan tenaga kerja mencapai 9,80 juta orang. Angka itu membuat kita paham mengapa kenaikan harga plastik cepat terasa sampai ke bawah. Dari warung nasi sampai usaha oleh-oleh, dari jajanan pasar sampai rumahan, semuanya berdiri di atas hitungan yang tipis. Sedikit saja biaya naik, ruang bernapas mereka ikut menyempit.
Masalahnya, plastik tidak hanya mahal hari ini, tetapi juga mahal bagi hari esok. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan timbulan sampah Indonesia pada 2023 mencapai 56,63 juta ton, dan baru 39,01 persen yang terkelola layak. Karena itu, dorongan untuk menoleh ke bahan alami tidak semata relevan karena harga plastik sedang naik. Ia juga penting karena kita sudah terlalu lama membayar kepraktisan dengan sampah yang menetap lebih lama daripada umur pakainya.
Namun bahan alami tentu tidak cukup dibayangkan sebagai wacana. Ia harus hadir sebagai sesuatu yang akrab dan masuk akal. Kita mengenal daun pisang untuk bungkus nasi, lontong, pepes, dan jajanan. Kita mengenal daun jati untuk tempe atau makanan tertentu. Ada pula besek, anyaman bambu, dan serat-serat alam yang sejak dulu menyatu dengan kebudayaan makan kita.
Dalam soal tempe, misalnya, penelitian UGM menunjukkan komponen flavor tempe bungkus daun pisang berbeda dari tempe bungkus plastik, dan studi lain juga menemukan pembungkus daun cenderung lebih disukai daripada plastik. Jadi, pembungkus alami bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal rasa, aroma, dan pengalaman makan yang lebih kaya.
Desa-desa kita sebenarnya tidak memulai dari nol. Di Magelang ada Besek Ngluwar yang tercatat sebagai produk UMKM lokal. Di Purworejo, Desa Jati menampilkan katalog kerajinan anyaman bambu dan batok. Di Temanggung, Desa Kebonsari masih memuat anyaman bambu sebagai bagian dari ekonomi kreatif desa. Di Wonosobo, Desa Mudal dikenal sebagai sentra kerajinan bambu yang menjangkau pasar lebih luas. Semua itu memberi pesan yang sama: bahan baku ada, keterampilan ada, ingatan budayanya pun masih ada. Yang kerap belum cukup hanya ruang agar semuanya tumbuh dengan tenang dan berkelanjutan.
Di sinilah peran pemerintah daerah ditunggu. Pemda membuka jalan lebar agar para perajin naik kelas: memakai kemasan alami dalam kegiatan resmi, membantu desain dan mutu, memudahkan akses modal, serta mempertemukan perajin dengan pasar, sekolah, hotel, rumah makan, koperasi, BUMDes, hingga pusat oleh-oleh. Puan Maharani sendiri menekankan bahwa peralihan ini membutuhkan dukungan sistem, regulasi, fasilitasi, dan sosialisasi. Tanpa itu, bahan alami akan tetap dipuji sebagai kearifan lokal, tetapi sulit tumbuh sebagai kekuatan ekonomi.
Kita tentu tidak sedang bermimpi meninggalkan plastik dalam semalam. Hidup tidak berubah secepat itu. Tetapi perubahan besar hampir selalu lahir dari benda-benda yang dekat dengan tangan. Mulai bungkus makanan, tas belanja, besek konsumsi, kemasan oleh-oleh. Dari sanalah kebiasaan baru tumbuh. Dan dari sanalah desa, perajin, dan UMKM bisa kembali berdiri, sebagai pelaku yang sungguh hadir. Bahkan naik kelas.
Dalam dunia yang gaduh dan mahal seperti sekarang, barangkali jalan keluar memang tidak selalu datang dari sesuatu yang rumit. Kadang ia hadir sebagai hal yang pernah akrab: selembar daun, anyaman yang sabar, dan tangan-tangan perajin dari desa yang bekerja dalam sunyi. (*)
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dapil Jawa Tengah VI
Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis
Editor : H. Arif Riyanto