Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Riuh di Bursa, Sepi di Ekonomi

Magang Radar Magelang • Jumat, 6 Maret 2026 | 20:08 WIB

 

Raditya Saputra, Co Founder Basagita.com
Raditya Saputra, Co Founder Basagita.com

Oleh: Raditya Saputra

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) bukan hanya sekadar menyajikan angka-angka harga saham saja, namun merupakan ringkasan dari psikologi pasar, distribusi likuiditas, serta barometer kepercayaan investor terhadap arah pembangunan dan ekonomi Indonesia. Per artikel ini ditulis, IHSG sudah menyentuh level 8.235 dan masih diproyeksikan akan kembali ke angka 9.000 bahkan menyentuh level 10.000 di penghujung tahun. Pesan di balik proyeksi ini terbilang sederhana, yaitu optimisme. Namun, di belakang grafik IHSG, ekonomi Indonesia tidak terlihat mengalami akselerasi yang berarti. Di sinilah paradoks muncul.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025–2026 berada di kisaran 5,0–5,2%, di bawah target APBN 5,4%. Sejumlah ekonom menilai 2026 bahkan berpotensi lebih berat akibat stagnasi dan risiko eksternal, mulai dari ketegangan perdagangan hingga perlambatan global. IMF memang merevisi naik tipis proyeksi pertumbuhan menjadi 5,1%, tetapi tetap menyoroti ketidakpastian global. Angka-angka tersebut tidak memperlihatkan krisis tapi juga tidak memperlihatkan adanya ekspansi yang kuat

Bila berbicara teorinya, kenaikan indeks seharusnya mencerminkan ekspektasi positif di sisi ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan laba yang didapatkan perusahaan. Pasar saham seyogyanya adalah cermin kepercayaan terhadap bisnis yang ada di Indonesia. Namun, praktiknya menunjukkan fondasi yang berbeda. Ekonomi tidak berakselerasi, sementara indeks berlari, melaju lebih agresif. Jarak antara realita dan persepsi lahir.

Mengambil contoh di sektor perbankan, saham big banks yang selama ini menjadi indikator mesin ekonomi Indonesia justru melambat. Bank Mandiri (BMRI) turun 28,7% Bank BRI (BBRI) turun 38,43% dari titik tertingginya hanya dalam 2 tahun saja per artikel ini ditulis. Bank BCA (BBCA) mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Realisasi keuntungan BBCA meningkat namun nilai sahamnya masih terus mengalami penurunan di saat BMRI dan BBRI mulai mengalami rebound.

Bila memang IHSG mencerminkan kekuatan ekonomi, bank sebagai penyalur kredit adalah sektor yang seharusnya bergerak dengan lebih signifikan sebagai gambaran fundamental ekonomi. Sayang, reli yang terjadi saat ini tidak mencerminkan hal tersebut. Lantas, bila saham big banks mengalami perlambatan meskipun labanya naik, apa yang mendorong IHSG berkali-kali mengalami all time high?

Jumlah investor ritel di pasar saham Indonesia sudah mencapai 21,3 juta. Mereka mendominasi transaksi harian pasar modal dengan nilai 16 triliun rupiah per hari atau setara dengan 52% transaksi harian. Pola investasi pun pada akhirnya bergeser. Euforia “cepat cuan” yang terjadi di kripto mulai terasa di pasar saham. Kecenderungan untuk mencari momentum trading dan didorong dengan janji manis yang lahir dari narasi-narasi seperti MSCI pada akhirnya memunculkan saham-saham dengan PER tinggi yang terus dibeli, sementara blue chip ditinggalkan.

Dengan kata lain, IHSG kini ditopang oleh rotasi likuditias dan penguatan-penguatan di saham-saham tertentu terutama yang didorong oleh narasi. IHSG kini tidak ditopang oleh membaiknya ekonomi secara menyeluruh, namun karena dinamika arus dana di saham-saham dengan narasi yang menjanjikan.

Di sinilah paradoks itu menjadi nyata. IHSG secara teoritis adalah cermin kepercayaan terhadap ekonomi. Namun ketika pertumbuhan ekonomi masih lemah, sektor domestik utama melemah, dan reli digerakkan oleh saham berbasis cerita, maka indeks tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kekuatan riil. IHSG hanya mencerminkan ekspektasi, distribusi likuiditas, dan optimisme selektif.

Saat ini, lantai bursa memang riuh. Memang nyaring. Tapi denyut di sektor-sektor pendorong ekonomi, terutama pada saham-saham perbankan masih sepi yang menandakan ekonomi tidak sekokoh yang dikira. Riuh ini dapat dihipotesiskan sebagai gema optimisme akibat narasi, bukan berakar dari fondasi ekonomi. (*/aro)

Co Founder Basagita.com

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
#bursa #ihsg #psikologi #saham