Oleh: Wibowo Prasetyo
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan DPR RI
RADARMAGELANG.ID--Perayaan Natal 2025 dan pergantian Tahun Baru 2026 berlangsung di tengah suasana kebangsaan yang penuh dinamika. Sukacita Natal hadir bersamaan dengan duka mendalam yang dirasakan sebagian saudara sebangsa akibat bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Situasi ini mengingatkan kita bahwa setiap perayaan keagamaan tidak pernah berdiri di ruang hampa, melainkan selalu berkelindan dengan realitas sosial yang dihadapi bangsa.
Dalam konteks itulah, Natal dan Tahun Baru semestinya dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan atau seremoni keagamaan. Ia adalah momentum refleksi bersama tentang makna persatuan, solidaritas, dan empati sebagai fondasi kehidupan berbangsa. Natal, dengan pesan universal tentang kasih, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama, sesungguhnya menawarkan nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui batas agama dan keyakinan.
Kasih Natal tidak berhenti pada perayaan liturgis, tetapi menemukan relevansinya ketika diterjemahkan dalam kepedulian nyata terhadap mereka yang sedang menderita. Ketika bencana merenggut rumah, harta benda, bahkan orang-orang tercinta, di sanalah nilai kemanusiaan diuji. Apakah kita hadir hanya sebagai penonton yang berempati dari kejauhan, ataukah sebagai sesama anak bangsa yang saling menguatkan dalam aksi nyata.
Indonesia dibangun di atas semangat gotong royong dan solidaritas sosial. Sejarah panjang bangsa ini menunjukkan bahwa keberagaman—baik agama, suku, maupun budaya—bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan yang menyatukan jika dikelola dengan kesadaran kolektif. Karena itu, setiap perayaan keagamaan sejatinya menjadi ruang perjumpaan nilai-nilai kebajikan yang memperkuat persaudaraan lintas iman dan golongan.
Di tengah duka akibat bencana di Sumatera, kita melihat bagaimana solidaritas sosial kembali menemukan momentumnya. Pemerintah, lembaga kemanusiaan, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil bergerak bersama membantu para korban. Langkah cepat dalam penanganan darurat, distribusi bantuan, hingga upaya pemulihan patut diapresiasi. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa bencana bukan hanya soal respons sesaat, melainkan soal ketahanan sosial jangka panjang.
Sebagai bangsa yang berada di kawasan rawan bencana, Indonesia dituntut untuk terus memperkuat budaya tanggap bencana yang berbasis pada partisipasi masyarakat. Solidaritas tidak boleh bersifat musiman, apalagi selektif. Ia harus menjadi kesadaran bersama bahwa setiap warga negara memiliki tanggung jawab moral untuk saling menjaga dan melindungi.
Memasuki Tahun Baru 2026, tantangan kebangsaan yang dihadapi Indonesia semakin kompleks. Perubahan iklim meningkatkan risiko bencana alam, dinamika sosial-ekonomi menuntut kebijakan yang adaptif, sementara kohesi sosial perlu terus dirawat di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi. Tantangan-tantangan tersebut tidak mungkin dihadapi secara individual atau sektoral. Persatuan dan kerja sama lintas kelompok menjadi kunci utama.
Tahun baru seharusnya menjadi momentum memperbarui tekad kebangsaan. Bahwa di tengah perbedaan, kita tetap memiliki tujuan bersama sebagai bangsa. Bahwa kemajuan Indonesia tidak boleh dibangun di atas penderitaan sebagian warganya. Bahwa keadilan sosial hanya dapat terwujud jika kepedulian menjadi napas dalam setiap kebijakan dan tindakan.
Sebagai anggota DPR RI yang membidangi urusan keagamaan, sosial, dan kebencanaan, saya meyakini bahwa kolaborasi antara negara dan masyarakat adalah fondasi penting dalam menghadapi situasi krisis. Negara hadir melalui kebijakan, anggaran, dan sistem perlindungan sosial, sementara masyarakat sipil menguatkannya dengan solidaritas, relawan, dan jaringan kemanusiaan. Sinergi inilah yang mencerminkan makna sejati persatuan dalam keberagaman.
Natal dan Tahun Baru juga mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah rumah bersama. Rumah yang hanya akan kokoh jika setiap penghuninya saling peduli dan menjaga. Dalam rumah besar bernama Indonesia, tidak boleh ada warga yang merasa sendiri menghadapi bencana, kemiskinan, atau ketidakadilan.
Akhirnya, marilah kita jadikan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sebagai momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kebangsaan kita. Bahwa empati adalah fondasi persatuan, dan persatuan adalah modal utama untuk menghadapi setiap ujian zaman. Dengan semangat kasih Natal dan harapan baru di Tahun 2026, mari kita rawat Indonesia sebagai rumah bersama yang rukun, peduli, dan berkeadilan—terutama bagi mereka yang sedang tertimpa musibah.
Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. (*)
Editor : H. Arif Riyanto