Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Smart Farming: Riset SV UNS Hadirkan IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps, Inovasi Pemupukan Cerdas Presisi untuk Memperkuat Potensi Ekspor Salak

H. Arif Riyanto • Jumat, 14 November 2025 | 21:51 WIB
Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Madiun memperkenalkan IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps, teknologi pemupukan cerdas dan presisi
Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Madiun memperkenalkan IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps, teknologi pemupukan cerdas dan presisi

RADARMAGELANG.ID, Sleman— Inovasi pertanian berbasis teknologi kembali lahir dari dunia akademik. Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Madiun memperkenalkan IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps, teknologi pemupukan cerdas dan presisi yang berdampak langsung terhadap efisiensi budidaya serta peningkatan daya saing komoditas salak.

Kedua inovasi tersebut dipresentasikan dalam acara Diseminasi Hasil Riset Terapan Berdikari yang digelar di Satoria Hotel, Sleman, pada Kamis (30/10/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh akademisi, pemangku kebijakan bidang hortikultura Kementerian Pertanian, pelaku usaha salak dari Magelang, hingga perwakilan SMKN 1 Salam, Magelang.

Ketua tim peneliti, Darmawan Lahru Riatma, menjelaskan bahwa IoT Rabuk bekerja dengan sensor pintar untuk memantau nutrisi tanah—termasuk unsur N, P, K, kelembapan, pH, dan anomali iklim—secara real-time.

Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis oleh AI Rabuk Apps untuk memberikan rekomendasi dosis pupuk yang tepat sesuai kondisi masing-masing tanaman.

“Dengan teknologi ini, pemupukan tidak lagi berdasarkan kebiasaan atau asumsi. Semua rekomendasi berbasis data aktual lapangan, sehingga lebih tepat, efisien, biaya bisa ditekan, dan produksi berpotensi lebih optimal,” ujar Darmawan.

Penelitian ini berlangsung selama satu tahun dengan uji coba di beberapa kebun salak di Magelang. Hasil awal menunjukkan potensi penghematan pupuk hingga 8–20% serta efisiensi tenaga kerja yang signifikan.

“Setiap 100 tanaman bisa menghemat tenaga kerja setara Rp120 ribu,” jelas Darmawan, yang juga Kepala Program Studi D3 Teknik Informatika SV UNS Madiun.

Ia menambahkan, hasil produktivitas buah salak dari uji coba masih menunggu proses hingga 21 hari ke depan.

Apresiasi juga datang dari Dina Rosita, perwakilan Direktorat Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian. Menurutnya, teknologi pertanian presisi menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan daya saing hortikultura nasional.

“Salak memiliki potensi ekspor besar. Teknologi seperti IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps akan membantu petani meningkatkan kualitas dan konsistensi hasil, sehingga mampu bersaing di pasar global,” ujar Dina.

Dina juga berharap inovasi ini dapat diperluas ke komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi lainnya, seperti mangga dan cabai.

Dukungan senada disampaikan oleh Margono, eksportir sekaligus petani salak asal Magelang. Ia menilai teknologi pemupukan presisi sangat dibutuhkan oleh petani di lapangan.

“Selama ini pemupukan sering tidak merata dan tidak tepat waktu. Dengan sensor dan AI, kebutuhan tanaman bisa dipenuhi secara tepat. Ini membantu menjaga kualitas ekspor dan kontinuitas pasokan,” ungkapnya.

Riset terapan Berdikari ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju penerapan smart farming yang lebih luas, berdampak bagi peningkatan kesejahteraan petani salak dan penguatan ekosistem hortikultura nasional.

Sebagai institusi pendidikan vokasi yang berorientasi pada solusi nyata, Sekolah Vokasi UNS berkomitmen untuk terus menghadirkan riset terapan yang berdaya, berkarya, dan berdampak bagi masyarakat serta dunia industri.

Melalui inovasi seperti IoT Rabuk dan AI Rabuk Apps, UNS meneguhkan perannya dalam mewujudkan pertanian cerdas yang adaptif terhadap tantangan era digital. (ima)

Editor : H. Arif Riyanto
#vokasi #uns #salak #Pemupukan