RADARMAGELANG.ID--Bangunan bekas Stasiun Kereta Api Grabag Merbabu (GMB) sudah lama tidak beroperasi, sekarang berubah fungsi.
Setelah lama tidak beroperasi, kini menjadi bagunan tempat belajar, yaitu SMP Ma’arif Grabag, Kabupaten Magelang.
SMP Ma’arif Grabag tersebut berada di Dusun Pagonan, Desa Sidogede, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.
Tepat di tengah sekolah terdapat bekas rel kereta api yang menjadi tanda pernah adanya stasiun di lokasi ini.
Stasiun ini dulunya ramai oleh orang yang ingin pergi ke Semarang-Jogja.
Namun penumpang menurun drastis pada tahun 1970.
Kereta api saat itu diniai berjalan pelan, dan sering terjadi kecelakaan karena relnya di pinggir jalan raya.
Hal itu menyebabkan para penumpang lebih memilih menggunakan moda transportasi, seperti mobil pribadi, bus dan sebagainya.
Tahun 1976, stasiun ini pun ditutup.
Jalur Bedono-Tuntang saja yang masih aktif sampai sekarang yang mendukung berjalannya Museum Kereta Api Ambarawa.
Bekas stasiun ini beralih fungsi menjadi gedung sekolah sejak 1987.
Diresmikan oleh KH Umar Sahid (sekarang almarhum), dan sekarang dipegang oleh anaknya yaitu Gus Akim dan Gus Lukman.
Untuk saat ini hanya ada sekitar 70 siswa saja di sekloah ini.
Sedikitnya siswa ini menyusul munculnya wacana jika stasiun ini akan kembali dioperasikan melayani penumpang.
Wacana tersebut membuat masyarakat waswas dan ragu ingin mendaftar di sekolah ini.
Salah satu bukti yang menyatakan dahulu tempat ini sebuah stasiun adalah, dua rel kereta api yang sedikit tertimbun tanah, tepat di depan gedung sampai bagian luar depan sekolah.
Dua rel ini adalah penghubung jalur Jogja dan Semarang.
Selain itu, terdapat bangunan asli dengan dua ventilasi dari pagar besi bentuk lingkaran di setiap ruangnya.
Gedung asli tersebut juga memililki sebuah pembatas dari semen batu, dengan lantai depan keramik kecil-kecil.
Bagian pojok kanan bangunan memiliki dua lantai.
Lantai bawah dipakai untuk kegiatan seni.
Sedangkan bangunan bagian atas tersebut adalah bangunan baru, bukan bekas stasiun asli.
Tempat yang dulunya menjadi proses transaksi dan membeli karcis, sekarang menjadi kantor guru.
Bagian bawah sekolah juga terdapat sebuah bangunan, namun bangunan itu baru.
Bukan asli bekas stasiun.
Bagian samping kiri gedung sekolah ini dahulunya adalah Terminal Andong.
Sekarang menjadi rumah warga.
Bagian kanan dan belakang gedung adalah hutan dengan pohon-pohon.
“Dulu itu yang ada tulisan “kantor” adalah loket karcis. Semua bagunan asli bekas stasiun kecuali samping pojok-pojok itu, sama yang atas. Terus yang bawah sama juga, bangunan baru. Yang samping gedung ini dulu Terminal Andong,” ujar penjaga sekolah yang biasa dipanggil Mbah Sawabi kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (28/1/2025).
Meski sudah menjadi sekolah, namun tanah ini tetap milik PT KAI dan pengelola SMP Ma’arif statusnya adalah menyewa.
Bagian depan dan seberang jalan sekolah ini terdapat papan nama bertuliskan jika tanah tersebut adalah milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Sejak stasiun berhenti beroperasi, bangunanya sangat disayangkan jika rusak dan mangkrak.
Kemudian dimanfaatkan untuk menjadi tempat menimba ilmu sampai sekarang.
“Daripada membangun, dan bangunan stasiun ini rusak nganggur terus dijadikan sekolah. Pas sudah tidak beroperasi itu cuma jadi kebonan, ya masih ada bekasnya stasiun ini. Tapi tempat ini nyewa,” kata Sawabi.
Sawabi menambahkan, bekas stasiun ini hanya meninggalkan dua rel dan sebuah bangunan. Tidak ada foto, mesin, atau alat lain yang tertinggal menandakan jejak stasiun. (najwa amalia husna/aro)
Editor : H. Arif Riyanto