RADARMAGELANG.ID, Magelang— Pembangunan ruas Tol Solo Yogyakarta Kulon Progo seksi 1 Kartasura-Klaten yang dimulai pada 2021 dan selesai pada 2024 dengan total anggaran mencapai Rp 5,6 triliun ini merupakan salah satu proyek strategis yang sangat dinantikan.
Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk mempercepat perjalanan antara Semarang, Solo dan Yogyakarta serta meningkatkan daya saing transportasi di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Dengan adanya jalan tol ini, diharapkan waktu perjalanan dapat dipangkas drastis.
Bila dahulu masih mengalami kemacetan yang panjang.
kini setelah tol beroperasi, perjalanan Solo-Jogja hanya akan memakan waktu sekitar 30-50 menit.
Hal ini tentunya akan membawa dampak besar bagi masyarakat, baik dalam hal efisiensi waktu, pengurangan kemacetan, maupun peningkatan kualitas hidup.
Proyek tol ini mencakup dua ruas penting dalam “Segitiga Emas” transportasi antara Semarang, Solo, dan Yogyakarta.
Ruas tol yang saat ini telah beroperasi adalah Kartasura-Klaten, untuk dibuka secara penuh pada liburan Natal dan Tahun Baru 2024, dengan gerbang tol yang mengarah langsung ke Candi Prambanan, salah satu tujuan wisata utama di Yogyakarta.
Di sepanjang ruas tol Solo-Yogyakarta Kulon Progo, ada beberapa seksi yang sedang dibangun.
Salah satunya adalah seksi pertama, yang meliputi Kartasura-Klaten dan telah beroperasi.
Seksi berikutnya, yang menghubungkan Klaten ke Prambanan, juga akan segera dibuka untuk memudahkan akses wisatawan menuju destinasi budaya di sekitar Candi Prambanan.
Pembangunan tol ini juga mengharuskan penyelesaian masalah pembebasan lahan dengan masyarakat sekitar.
Beberapa titik masih dalam proses pembebasan, dengan progres yang berbeda-beda di setiap daerah.
Misalnya, untuk seksi yang menghubungkan Bawen hingga Ambarawa, progres konstruksi sudah mulai terlihat.
Namun, untuk jalur yang lebih jauh ke arah Temanggung dan Magelang, masih terdapat banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan.
Ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi dalam menyelesaikan proyek infrastruktur berskala besar seperti ini.
Selain itu, pembangunan jalan tol Solo-Yogyakarta Kulon Progo juga menyertakan pembangunan elevated road (jalan tol di atas tanah) di beberapa titik, seperti di wilayah ring road utara Kota Yogyakarta.
Ini bertujuan untuk menghindari kemacetan yang sering terjadi di area padat penduduk dan memastikan jalan tol tetap lancar meski di tengah kota.
Dengan proyek ini, diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antara Yogyakarta, Solo, dan Semarang.
Hal ini akan mempercepat mobilitas barang dan orang, mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, serta membuka peluang baru bagi pengembangan sektor pariwisata, terutama dengan akses yang lebih mudah ke tempat-tempat wisata ternama seperti Candi Prambanan.
5 Simpang Susun di Tol Bawen Jogja
Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan infrastruktur transportasi guna mempermudah mobilitas masyarakat, baik untuk keperluan ekonomi maupun sosial.
Salah satu proyek jalan tol yang sangat dinantikan adalah Jalan Tol Jogja Bawen, yang akan memberikan dampak besar pada efisiensi waktu perjalanan dan konektivitas antarwilayah di Jawa Tengah.
Jalan Tol Jogja-Bawen adalah bagian dari proyek infrastruktur besar yang bertujuan untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan efisiensi waktu perjalanan di daerah Jawa Tengah.
Proyek ini memiliki panjang total 67,5 kilometer dan melintasi dua wilayah penting, yakni Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Dengan adanya jalan tol ini, diharapkan masyarakat dapat menghemat waktu dalam melakukan perjalanan antar kota, serta mempercepat distribusi barang dan jasa, yang pada gilirannya mendukung perekonomian daerah.
Jalan tol ini menghubungkan beberapa ruas jalan utama, termasuk Jalan Tol Semarang Solo dan Jalan Tol Solo Yogya, yang akan membentuk segitiga emas yang sangat penting untuk pengembangan kawasan Yogyakarta, Magelang, dan Semarang.
Koneksi ini akan memperlancar akses menuju beberapa destinasi wisata populer, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan, yang akan memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata di wilayah tersebut.
Pembangunan jalan tol Jogja-Bawen melibatkan lima simpang susun yang sangat penting dalam meningkatkan konektivitas antar daerah.
Simpang susun ini antara lain:
Junction Bawen
Simpang Susun Ambarawa
Simpang Susun Temanggung
Simpang Susun Magelang
Simpang Susun Borobudur
Simpang Susun Banyurejo, yang akan terhubung dengan Junction Melati Sleman.
Selain itu, jalan tol ini juga akan terhubung langsung dengan Jalan Tol Solo-Yogya dan Jalan Tol Yogyakarta Kulonprogo, yang memberikan akses lebih mudah dan cepat antara berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Proyek Tol Jogja-Bawen ini terdiri dari enam seksi, dengan rincian sebagai berikut: Seksi 1: Jogja-Banyurejo (8,25 KM)
Seksi 2: Banyurejo-Borobudur (15,26 KM)
Seksi 3: Borobudur-Magelang (8,8 KM)
Seksi 4: Magelang-Temanggung (16,46 KM)
Seksi 5: Temanggung-Ambarawa (22,56 KM)
Seksi 6: Ambarawa-Bawen (5,21 KM).
Setiap seksi jalan tol akan diselesaikan bertahap, dengan harapan dapat mempercepat akses antara kawasan-kawasan yang terhubung.
Begitu selesai, jalan tol ini diperkirakan akan mengurangi waktu perjalanan yang signifikan, terutama bagi masyarakat yang hendak bepergian dari Yogyakarta ke Semarang, Yogyakarta ke Solo, atau menuju kawasan wisata Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Selain itu, jalan tol ini juga akan mendukung pengembangan sektor pariwisata dan industri di daerah-daerah yang dilalui, meningkatkan arus distribusi barang, dan mendukung pertumbuhan ekonomi di kawasan sekitar.
Sementara itu, Tol Jogja-Solo dan Tol Jogja-Bawen akan segera tersambung seiring dengan rencana pemasangan girder di Junction Sleman dalam waktu dekat ini.
Secara umum proyek tol Jogja-Solo ruas Trihaggo-Junction Sleman menembus angka 49%.
Humas Proyek Tol Jogja Solo Seksi 2 Paket 2.2 PT Adhi Karya, Agung Murhandjanto mengatakan kontraktor kini memang mulai bersiap untuk pemasangan atau stressing girder.
“Jadi nanti yang balok-baloknya itu kita nanti mau pasang di sana, ini yang ada di Ketingan,” ujarnya.
Pemasangan girder akan dilakukan di lokasi pertemuan Tol Jogja-Solo dan Tol Jogja-Bawen atau yang disebut dengan Junction Sleman.
Titik inilah yang nantinya akan menjadikan tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen tersambung.
“Di junction-nya itu, junction pertemuan dengan Tol Jogja-Bawen,” ujarnya.
Ia menegaskan progres penggarapan Tol Jogja-Solo yang membentang dari Trihanggo hingga Tirtoadi ini telah menyentuh angka 49% pada awal tahun 2025.
Baik di sisi at grade maupun elevated, sejumlah pekerjaan terus digulirkan kontraktor.
“At grade ini sudah mulai ada perapian yang timbunannya itu.
Terus persiapan itu pasang girder ya, erection girder itu,” katanya
Sementara pekerjaan rigid pavement atau pengecoran jalan saat ini belum dilakukan di proyek tol Jogja-Solo ini.
Kontraktor masih mempersiapkan kesiapan timbunan terlebih dahulu.
”Rigid belum, masih persiapan dulu yang timbunannya,” katanya.
Adapun pada pengerjaan tol Jogja-Solo melayang atau elevated yang terpusat di ring road area Simpang Kronggahan, penggarapannya mulai kembali normal usai libur Nataru.
Saat libur Nataru, waktu keluar masuk kendaraan berat ke tengah ring road sempat disesuaikan untuk mendukung kelancaran lalu lintas kendaraan yang melintas di ring road “Ini sudah bekerja seperti biasa, yang di tengah [ring road].
Per tanggal 4 ini lah mulai kencang [penggarapan] di tengah ini. Ini mulai ngebor-ngebor,” tegasnya.
Di siang hari, pekerja proyek tol Jogja-Solo akan fokus pada pengeboran dan perangkaan besi.
Pengecoran borepile yang menjadi bakal pilar penyangga tol Jogja-Solo melayang dilakukan malam tepatnya mulai pukul 19.00 WIB.
“Ini bikin borepile, terus memasukkan besinya itu, terus nanti ngecornya ya malem. Kan harus dicor itu, tidak boleh lebih dari 24 jam.
Begitu besi kerangkanya masuk ke bawah tanah, langsung dicor,” ujarnya. (fal/aro)
Editor : H. Arif Riyanto