Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Berburu Tembakau Campalok Madura, Harganya sampai Rp 5 Juta per Kg, Karena Jumlahnya Terbatas, Harus Pesan 1-2 Tahun Sebelum Panen

H. Arif Riyanto • Kamis, 26 September 2024 | 15:24 WIB
Tembakau Campalok  hanya tumbuh di sekitar lokasi pemakaman di Dusun Jambangan, Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep.
Tembakau Campalok hanya tumbuh di sekitar lokasi pemakaman di Dusun Jambangan, Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep.

RADARMAGELANG.ID—Madura dikenal sebagai pulau garam.

Namun pulau di Provinsi Jawa Timur ini juga dikenal sebagai penghasil “emas hijau” alias tembakau.

Hampir sama seperti Kabupaten Temanggung, di pulau ini, khususnya Kabupaten Sumenep adalah penghasil tembakau terbesar.

Banyak petani yang menggantungkan hidupnya dari tanaman tembakau.

Di Sumenep, juga ada tembakau unggulan, yakni tembakau Jambangan dan Campalok.

Ada cerita mitos dari tembakau Jambangan dan Campalok.

Harga tembakau Jambangan bersaing dengan tembakau populer lain dari penjuru Indonesia yang harganya juga fantastis.

Misalnya, tembakau Kayumanis dan Tambeng di Situbondo, Srintil di Temanggung, serta Tembakau Seina di Lombok.

Sayangnya, di daerah Jambangan sendiri, yang letaknya ada di ujung paling barat Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, hanya beberapa petak tanah saja harganya melambung.

Dari semua petak itu, yang paling mahal adalah tembakau Campalok.

Di daerah itu, terdapat beberapa petak tanah yang hasil panen tembakaunya sangat bagus.

Harganya ratusan ribu, antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per kilogram.

Masyarakat setempat lalu memberi julukan tembakau dari hasil petak-petak tanah tersebut dengan nama yang unik, seperti Maronggi, Salaka, dan Tarebung.

Namun Campalok tetap yang paling mahal.

Di samping itu, tembakau Campalok juga merupakan tembakau yang derajatnya naik bukan saja karena tanahnya yang bagus, hasil panen tembakaunya juga berkualitas tinggi, melainkan juga mitos.

Banyak orang percaya bahwa tanah Jambangan dan sekitarnya, khususnya Campalok, merupakan tilas tempat bermain atau pernah ditempat-tinggali oleh Pottre Koneng dari Keraton Sumenep.

Mitologi ini mengatakan bahwa Potre Koneng menjatuhkan bunga di atas tanah Jambangan.

Sehingga aromanya luar biasa istimewa.

Karena itu, standar penilaian tembakau yang mengandalkan daya indera manusia (dilihat, diraba, dicium) mungkin juga telah dipengaruhi lebih dulu oleh cerita-cerita yang mengungkunginya.

Ada ada satu hal lagi yang mungkin membuat tembakau ini berbeda dengan yang lain.

Petani pemiliknya mandiri dan merdeka.

Tembakau Jambangan, termasuk Campalok, tidak seapes tembakau lain sesaudaranya, yang bagaimanapun bagus kualitasnya, harganya tetap ditentukan oleh pembeli, bukan oleh petani.

Untuk tembakau Campalok ini selalalu diborong orang-orang berduit dan berkelas, sehingga tidak diperjualbelikan di pasaran.

Warga yang ingin menghisap aromanya biasanya cuma diberi sedikit saja.

Jika dinikmati malam hari sambil duduk bersandar, tanpa terasa membuat tertidur secara perlahan.

Nama Campalok sendiri diambil dari tempat tumbuhnya.

Campalok adalah lokasi pemakaman di Dusun Jambangan, Desa Bakeong, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep.

Tembakau yang terletak pada tiga petak tanah ini sangat istimewa, dan tidak didapat didaerah lain.

Itu dimungkinkan karena lokasinya memang berada di dataran tinggi, tekstur tanahnya mendukung untuk tembakau berkualitas, serta bibit dan perawatannya dilakukan secara alami.

Bagi para pecinta tembakau yang ingin mendapatkan tembakau Campalok, mereka bisa berkunjung ke lahan Campalok yang berada di Sumenep. 

Pengunjung nantinya harus menempuh waktu selama 1 jam untuk menuju ke tempat itu dan harus melewati empat kecamatan, yakni, Batuan, Lenteng, Ganding, dan Guluk-Guluk.

Yang istimewa, meski petani Dusun Jambangan  belum mulai menanam tembakau jenis Campalok, namun para calon pembeli telah mengantre untuk mendapatkan tembakau rajangan yang dihasilkan dusun di puncak perbukitan itu.

Bahkan, ada yang sudah pesan sejak setahun atau dua tahun sebelumnya.

Selain menunggu lama, pembeli harus merogoh kocek dalam-dalam karena harga tembakau Campalok rajangan kering bisa mencapai Rp 5 juta per kg, berkali lipat lebih mahal dari tembakau biasa yang berkisar Rp 70.000-Rp 120.000 per kg.

Ada dua petak ladang di Bukit Jambangan dengan luas 10 x 20 meter dan 7 x 15 meter.

Hasil panen tiap tahun hanya 14-15 kg.

Petak-petak ladang itu berada di bawah pohon Campalok yang berusia ratusan tahun.

Menurut mitologi, bunga penghias mahkota putri Kerajaan Sumenep, Potre Koneng yang berteduh di bawah pohon Campalok jatuh ke tanah dan menguarkan wangi.

Karena itu, tembakau yang ditanam di bawah pohon tersebut memiliki aroma wangi yang kuat, daun tembakaunya berwarna kuning keemasan.

Daun yang sudah dirajang dan dikeringkan memiliki tekstur lembut.

Pelanggan tembakau Campalok biasanya menggunakan tembakau berkualitas istimewa tersebut sebagai campuran pada industri rokok.

Bisa juga disimpan di gudang untuk menguatkan aroma tembakau biasa. (*/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#jambangan #srintil #guluk-guluk #Kabupaten Sumenep #Tembakau campalok #situbondo #madura #pottre koneng #lombok #tembakau madura #Kayumanis #tembakau Temanggung