RADARMAGELANG.ID—Bertugas di wilayah berkonflik sudah dua kali dirasakan Serda Marinir Iwan Tri Wibowo.
Bahkan, baru tiga tahun bergabung dengan TNI Angkatan Laut, Serda Marinir Iwan langsung diterjunkan ke wilayah konflik Aceh.
Serda Marinir Iwan bertugas menghadapi pemberontakan yang dilakukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Meski hanya tiga bulan, pengalaman baku tembak jarak dekat pada 2005 itu sulit dilupakan.
”Saat itu saya masih berusia 23 tahun,” kata pria yang kini bertugas di Pusat Latihan Tempur Marinir (Puslat purmar) Purboyo 4, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang tersebut.
Selepas bertugas di Aceh, Serda Marinir Iwan kembali pada markasnya di Jakarta.
Enam bulan kemudian, Serda Marinir Iwan malah mendapat kabar akan diberangkatkan ke Lebanon.
Tugasnya menjadi peacekeeper.
Mewakili Indonesia bersama 240 personal Marinir AL yang lain.
Pengumuman penugasan Serda Marinir Iwan diterima pada Juni 2006.
Serda Marinir Iwan cukup kaget lantaran kala itu pernikahannya baru berusia empat bulan.
Meski demikian, Serda Marinir Iwan menerima penugasan tersebut dengan rasa bangga.
Setelah melakukan persiapan yang cukup, Serda Marinir Iwan diberangkatkan ke Lebanon pada November 2006.
”Waktu berangkat ke Lebanon, istri saya sedang hamil empat bulan,” kenang pria yang kini berusia 43 tahun itu.
Serda Marinir Iwan sama sekali tidak mengetahui kondisi yang akan dihadapi di Lebanon.
Bekal terkuatnya adalah doa dan restu dari istri maupun orang tua.
Dalam bayangannya, medan di Lebanon berupa padang pasir yang gersang.
Ternyata Serda Marinir Iwan ditugaskan di daerah yang hijau dan berdekatan dengan kebun Zaitun.
Tahun itu Serda Marinir Iwan ditugaskan menjadi peacekeeper pada saat terjadi perang antara Lebanon dengan Israel.
Pemandangan pertama yang menyambut kedatangannya adalah hamparan tanah lapang dengan satu gedung bertingkat.
Serda Marinir Iwan membatin, bangunan tiga lantai itu tidak akan muat jika ditempati seluruh personel Marinir yang baru datang.
“Ternyata bangunan itu untuk pimpinan saja. Kami tinggal di tenda-tenda sembari menunggu pembangunan hunian,” tambah Serda Marinir Iwan.
Bergeser sedikit ke daerah kota, banyak bangunan-bangunan yang roboh dan hancur akibat ledakan bom.
Tak sedikit jembatan-jembatan putus.
Kondisi perang yang dihadapi saat itu sudah lebih mengandalkan rudal dan bom.
Beda dengan di Aceh yang mengandalkan baku tembak jarak dekat.
Sehari-hari Serda Marinir Iwan berkeliling daerah-daerah perbatasan konflik untuk memantau situasi.
Apabila ada salah satu warga dari dua negara melanggar aturan, Serda Marinir Iwan bertugas melaporkan pelanggar itu pada pemerintah masing-masing negara.
Masalah datang saat musim dingin.
Padahal saat itu Serda Marinir Iwan dan timnya masih tinggal di tenda.
Tiga minggu selanjutnya mulai turun salju.
Suhu pun semakin menurun hingga 3 derajat Celsius.
Serda Marinir Iwan yang terbiasa dengan cuaca daerah tropis mati-matian bertahan dengan rajin berolahraga dan bergerak.
Kondisi itu dirasakan selama satu bulan.
“Saya sempat tinggal di hunian yang selesai dibangun selama tiga bulan. Lalu tugas saya selesai,” kata Serda Marinir Iwan.
Kepulangan Serda Marinir Iwan sempat tertunda karena tiba-tiba status keamanan Lebanon berwarna hitam.
Artinya, keadaan saat itu benar-benar genting.
Ternyata ada tga tentara Spanyol yang tewas setelah berperang dengan Israel.
Serda Marinir Iwan yang seharusnya bisa bertugas sembilan bulan harus menggenapkan tugasnya hingga satu tahun.
Dari dua wilayah konflik yang pernah dijajal oleh Serda Iwan, menurutnya, ada satu kesamaan.
Warga dari daerah konflik sama-sama memiliki trauma dengan orang luar.
Mereka cenderung berhati-hati ketika berinteraksi dengan petugas dan orang asing lainnya. (aff/fat/aro)
Editor : H. Arif Riyanto