RADARMAGELANG.ID, Semarang--Sarung kerap diidentikkan dengan gambaran keimanan, dan ketakwaan seseorang.
Tapi kini sudah menjadi tren berpakaian masyarakat biasa sampai pejabat.
Sejarah awal, Kaum Sarungan dulu dianggap sebagai barisan kolot dan tertinggal.
Tapi seiring perkembangan zaman, kini kaum sarungan justru menjadi tren sebagai barisan kaum agamis, berbudaya dan memiliki keilmuan.
Bahkan kini, sarung menjadi mode fashion yang mulai digandrungi seluruh kalangan lapisan masyarakat.
Tokoh-tokoh negara, seperti Presiden Joko Widodo pun sering mengenakan sarung dalam acara kenegaraan.
Bahkan di Jateng, banyak pejabat tampak mengenakan sarung dalam kegiatan sehari-hari. Salah satunya mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen yang nyaris mengenakan sarung dalam kesehariannya.
Gus Yasin --sapaan akrabnya-- mengaku lebih nyaman memakai sarung ketimbang celana. Katanya tidak ribet, juga lebih cepat ketika bergerak.
Termasuk saat bertugas sebagai Wakil Gubernur dulu, sangat padat.
Sehingga butuh pakaian yang mudah dan simpel.
Suami dari Nawal Nur Arafah ini menyampaikan, sarung merupakan warisan budaya maupun bagian dari tradisi Jawa.
Terlebih di kalangan pesantren, sarung sudah menjadi budaya keseharian.
Makanya, sarung identik dengan kaum santri.
“Saya memakai sarung karena saya nyaman dan itu yang diajarkan, senantiasa menunjukkan identitas kami dari pesantren,” jelas Taj Yasin.
Keistimewaan sarung baginya selain menggambarkan sebagai anak santri.
Memakainya dapat menghindarkan dari perbuatan yang mengarah kejahatan.
Sebab, ketika memakai sarung, pasti konotasinya pasti ini anak pesantren.
“Sehingga, hasilnya orang yang memakainya berpikir untuk bersikap baik saat memakai sarung. Itu salah satu keutamaan memakai sarung. Sehingga akan lebih terjaga,” akunya.
Terlebih saat ini, sarung layak dikenakan untuk menghadiri acara formal dan non formal.
Kini juga banyak dijumpai masyarakat di Jateng yang mengenakan sarung saat jalan-jalan di pusat perbelanjaan.
Gus Yasin menyebut motif kain sarung semakin apik seiring perkembangan zaman.
Tokoh budayawan seperti Sujiwo Tejo saja sering memberikan hadiah sarung kepada penggemarnya.
Hal ini membuktikan bahwa makna sarung tidak hanya digunakan untuk ibadah maupun menyimbolkan suatu agama.
Melainkan menjadi tren fashion baru. (kap/aro)
Editor : H. Arif Riyanto