Curug Surodipo, salah satu tempat wisata di Kabupaten Temanggung yang pemandangannya eksotis. Di antara perbukitan hijau, Memiliki lima air terjun yang masing-masing ketinggiannya berbeda.
Curug Surodipo berada di Desa Tawangsari, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung. Ada lima air terjun di kawasan Curug Surodipo. Tertinggi mencapai 120 meter.
Curug ini berada di dataran tinggi. Akses ke curug menggunakan sepeda motor dan jalan kaki.
Medan jalan sebagian berbatuan dan lainnya tangga. Karena akses ke curug yang cukup tinggi dan curam, penggunaan sepeda motor kurang disarankan.
Tiket masuk di objek wisata Curug Surodipo sejak tahun 2018 hingga sekarang Rp10 ribu, sudah termasuk biaya parkir.
Waktu yang ditempuh apabila trakking dari parkiran mobil sampai ke curug sekitar 40 menit. Namun jika dari parkiran atas khusus motor berkisar 15 menit.
Setelah sampai di atas, lelah selama jalan kaki akan terbayar dengan indahnya pemandangan. Hijau pepohonan dan sawah terhampar memanjakan mata.
Di curug itu ada tempat untuk menikmati sunrise, yang rencananya spot tersebut akan dijadikan tempat untuk camping wisatawan.
“Kita sering kedatangan turis asing dari Belanda. Berkunjung ke sini untuk camping. Dibawa oleh tour guide dari Jogjakarta. Ada juga dari Wonosobo, Pekalongan, Sulawesi, Kalimantan.
Bahkan para YouTuber juga berdatangan ke Curug Surodipo,” ungkap salah satu pengelola wisata Curung Surodipo, Budi Supriyono.
Curug pertama dapat dilihat dari dua area. Area pertama di atas. Pengunjung dapat menyaksikan puncak air terjun pertama dan perbukitan serta hamparan ladang petani.
Di area bawah, dapat melihat lebih dekat air terjun pertama serta tersedia homestay yang berkapasitas tiga orang. Tarifnya mulai Rp 200.000.
Dahulu Curug Surodipo bernama Curug Trocoh karena berada di Sungai Trocoh. Nama Curug Surodipo konon diberikan oleh salah satu perangkat Desa Rejosari, desa tetangga dari Desa Tawangsari.
“Dahulu ada tokoh bernama Mbah Sugeng, yang menjabat sebagai sekretaris desa. Beliau yang memberikan nama Curug Surodipo,” imbuh Budi.
Nama Curug Surodipo berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro dan pengikut setianya.
Surodipo merupakan salah satu panglima perang Pangeran Diponegoro saat perang melawan Belanda pada tahun 1825-1830. Surodipo sempat berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya menetap di Batur, desa yang dekat dengan Sungai Trocoh.
Kawasan wisata Curug Surodipo kurang terawat akibat pandemi Covid-19 yang menerpa beberapa tahun lalu.
“Sebenarnya tiap tahun pasti ada program sosialisasi atau pelatihan agar kita bisa bersama-sama mengembangkan wisata, tapi peminatnya masih kurang,” tandasnya.
Dengan adanya pembangunan infrastruktur yang sudah direncanakan, diharapkan dapat menarik minat wisatawan. Serta dapat mengembangkan berbagai potensi di Curug Surodipo. (mg1/mg3/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo