Oleh: Gantari Puspa Huwaida
RADARMAGELANG.ID—Sulit membayangkan kehidupan sehari-hari tanpa plastik. Ketika membeli makanan, berbelanja, atau membawa barang, kantong plastik sering menjadi pilihan paling mudah.
Tinggal pakai, lalu dibuang. Praktis, murah, dan tidak merepotkan. Justru karena terlalu praktis itulah penggunaannya menjadi sulit dikurangi.
Bagi sebagian orang, menggunakan satu kantong plastik mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun, jika dilakukan berulang kali oleh banyak orang, jumlahnya tentu tidak lagi sedikit. Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dapat terbawa ke sungai dan laut. Dampaknya bukan hanya membuat lingkungan terlihat kotor, tetapi juga dapat mengganggu ekosistem dan kehidupan di dalamnya.
Pembatasan kantong plastik sekali pakai dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi persoalan tersebut. Berdasarkan studi yang diberitakan Kompas pada 25 Januari 2024, kebijakan larangan kantong plastik sekali pakai diperkirakan dapat mengurangi penggunaan sekitar 300 kantong plastik per orang setiap tahun.
Perubahan kebiasaan masyarakat juga terlihat di San Mateo County, California. Setelah larangan diterapkan, proporsi pelanggan yang memiliki setidaknya satu tas yang dapat digunakan kembali meningkat 162 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebijakan dapat memengaruhi kebiasaan masyarakat. Ketika kantong plastik tidak lagi menjadi pilihan yang mudah, masyarakat dapat terdorong untuk menggunakan pilihan lain yang dapat dipakai kembali.
Namun, bukan berarti plastik harus langsung dihapus dari kehidupan sehari-hari.
Bagi pedagang kecil, misalnya, plastik masih menjadi pilihan karena harganya relatif murah dan mudah diperoleh. Plastik juga memiliki kelebihan lain, seperti ringan dan tahan air. Jika larangan diterapkan secara tiba-tiba tanpa memberikan pilihan pengganti yang terjangkau, kebijakan tersebut justru dapat menambah beban bagi mereka yang memiliki keterbatasan biaya.
Bahan pengganti pun tidak otomatis menjadi solusi. Tas yang dapat digunakan kembali akan lebih bermanfaat apabila benar-benar digunakan berkali-kali. Jika hanya digunakan sekali atau beberapa kali kemudian dibuang, tujuan untuk mengurangi dampak lingkungan tentu tidak tercapai secara maksimal.
Jadi, persoalannya bukan sekadar melarang atau tidak melarang plastik. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengurangi ketergantungan terhadap plastik secara masuk akal.
Pemerintah dapat menerapkan pembatasan secara bertahap dan menyediakan alternatif yang harganya masih dapat dijangkau masyarakat. Pelaku usaha juga perlu diberi waktu untuk menyesuaikan diri. Di sisi lain, masyarakat perlu mulai membiasakan diri membawa tas belanja sendiri atau menggunakan kembali barang yang masih layak.
Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Satu orang membawa satu tas belanja sendiri mungkin tidak langsung menyelesaikan masalah sampah plastik. Namun, jika kebiasaan itu dilakukan oleh banyak orang dan berlangsung terus-menerus, dampaknya tentu berbeda.
Kepraktisan plastik memang sulit ditinggalkan. Tetapi lingkungan juga tidak seharusnya terus-menerus menanggung akibat dari sesuatu yang kita gunakan hanya sebentar. Mengurangi plastik bukan berarti menghilangkan kepraktisan dalam kehidupan sehari-hari. Yang perlu kita ubah adalah kebiasaan menggunakan sesuatu sekali, lalu membiarkannya menjadi masalah bagi lingkungan dalam waktu yang jauh lebih lama. (*/aro)
Taruni SMA Taruna Nusantara Magelang
Editor : H. Arif Riyanto