Oleh : Satria Aji Abhipraya*
RADARMAGELANG.ID- Aktivitas kenakalan remaja di Indonesia sudah banyak contohnya. Salah satu bentuknya adalah sekelompok gangster, kreak, dan klitih yang aksinya sangat meresahkan masyarakat. Karena tindakannya mengganggu ketertiban umum bahkan mengarah pada kriminalitas.
Saya mengambil contoh fenomena kenakalan remaja di daerah asal saya, Kota Semarang. Sekelompok remaja yang dikenal dengan nama “kreak”.
Sebagai masyarakat biasa, setiap hari saya melintasi sudut-sudut Kota Semarang untuk menjalankan rutinitas keseharian.
Seperti pulang sekolah, les atau bermain dengan teman. Aktivitas tersebut seringkali dibayang-bayangi ancaman kreak. Ancaman kelompok kreak bukan lagi sekadar narasi sosiologis.
Saya pernah berada di posisi itu merasakan langsung kepanikan saat harus memacu kendaraan lebih cepat di kawasan daerah rawan yang mendadak riuh oleh konvoi pemuda membawa senjata tajam.
Serta menyaksikan sendiri bagaimana rasa aman warga terenggut hanya dalam hitungan detik.
Baca Juga: Tren WFC : Antara Kebutuhan atau Gaya Hidup?
Pengalaman traumatis tersebut mengubah cara pandang saya secara drastis—bahwa fenomena ini adalah ancaman nyata yang teramat dekat dan menuntut tindakan yang jauh lebih tegas dari sekadar imbauan normatif.
Ketakutan yang dirasakan masyarakat saat ini memang tidak bisa dipungkiri lagi. Jalanan yang dulunya ramah dan aman bagi pelajar yang pulang malam, pekerja shift larut, kini berubah menjadi tempat yang diliputi rasa waswas.
Saat kita hampir menjadi korban sabetan senjata tajam secara acak, rasanya sulit untuk terus memaklumi tindakan tersebut atas nama "sekadar kenakalan usia muda".
Ada garis batas yang terlanggar, yaitu hak paling dasar setiap warga negara untuk selamat dan tenang saat beraktivitas di ruang publik. Banyak korban yang tidak berdosa dari aksi nekat sekelompok remaja tersebut.
Sekelompok remaja ini biasanya aktif berkeliaran mencari mangsa dan musuh untuk tawuran pada malam hari.
Di saat jalanan mulai sepi mereka melancarkan aksinya untuk melakukan tawuran dan semacamnya.
Maraknya fenomena ini disebabkan dari longgarnya pengawasan di lingkungan terdekat kita. Banyak dari remaja ini terjebak dalam dahaga validasi di media sosial, di mana aksi pamer senjata dan konvoi malam dianggap sebagai tolok ukur keberanian yang keren.
Di rumah, pengawasan orang tua yang longgar, memberi kebebasan pada jam malam, juga adanya ketidakharmonisan keluarga, bisa menjadi pemicu kenakalan remaja yang memunculkan kelompok kreak ini.
Di lingkungan sekolah ada yang sekadar datang untuk menumpang absen, tidak meresapi makna pendidikan serta tidak belajar dengan serius dan sungguh sungguh.
Sementara penanganan yang diambil dengan langsung mengeluarkan siswa yang bermasalah, justru memutus akses pendidikan mereka.
Lantas melempar sepenuhnya ke dalam pelukan kelompok jalanan yang siap memanfaatkan gejolak emosi tersebut.
Meredam aksi jalanan ini perlu ketegasan aparat kepolisian. Aparat harus bertindak tegas dan terukur di lapangan untuk memberikan efek jera yang nyata.
Tanpa memberikan celah kelonggaran berlebih hanya karena status usia pelaku. Meski mereka masih pelajar atau disebut anak-anak, menurut saya kelakuan mereka tidak bisa disebut lagi sebagai anak-anak.
Tindakan tegas harus diimbangi oleh peran Pemerintah Kota Semarang, sekolah, dan para orang tua serta berbagai elemen masyarakat juga pihak berwenang.
Kota Semarang dan semua kota di Indonesia harus menjadi wilayah yang aman dan hangat bagi siapa saja.
Aktivitas masyarakat harus berjalan normal, anak-anak remaja kembali menjadi remaja pembelajar yang ceria, berkegiatan positif sesuai dengan tujuan bangsa dan negara.
Menyelesaikan fenomena kreak membutuhkan keberanian untuk menindak tegas pelaku di lapangan.
Sekaligus kesadaran kita bersama untuk membenahi sistem pengawasan yang bocor di rumah dan sekolah. Kita tidak boleh membiarkan fenomena ini begitu saja dan mengalah oleh teror sekelompok remaja yang kehilangan arah. (*/lis)
*Siswa SMA Taruna Nusantara Kampus Magelang
(Disclaimer : pendapat dalam tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis, tidak mewakili pendapat dan pandangan redaksi)
Editor : Lis Retno Wibowo