Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Menghidupkan Budaya Literasi melalui Pendekatan 3H

H. Arif Riyanto • Senin, 29 Juni 2026 | 20:07 WIB
Irene Nadia Ayuningtyas, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untidar. (DOKUMEN PRIBADI)
Irene Nadia Ayuningtyas, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untidar. (DOKUMEN PRIBADI)

Oleh: Irene Nadia Ayuningtyas

RADARMAGELANG.ID--Budaya literasi menjadi salah satu fondasi utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Namun, literasi di sekolah masih sering dipahami sebatas kegiatan membaca selama beberapa menit sebelum pembelajaran dimulai.

Aktivitas tersebut memang memberikan manfaat, tetapi belum mampu membentuk peserta didik yang berpikir kritis, kreatif, dan mampu mengomunikasikan gagasannya dengan baik. 

Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna melalui penguatan kompetensi literasi.

Oleh karena itu, budaya literasi perlu diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran, bukan hanya menjadi kegiatan rutin semata. Kenyataannya, berbagai perangkat pembelajaran Bahasa Indonesia masih belum sepenuhnya mendukung terciptanya budaya literasi yang berkualitas.

Modul ajar, pendekatan, metode, media pembelajaran, maupun asesmen sering kali masih berorientasi pada penyelesaian materi dan pencapaian hasil belajar. 

Peserta didik lebih banyak membaca untuk menjawab soal ketimbang memahami isi bacaan secara mendalam dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

Kondisi tersebut menyebabkan kemampuan berpikir kritis, bernalar, dan menyampaikan gagasan belum berkembang secara optimal. Akibatnya, tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya tercapai karena budaya literasi belum terintegrasi secara menyeluruh.

Salah satu pendekatan yang dapat menjadi solusi dalam menguatkan budaya literasi adalah Pendidikan Holistik Integratif 3H yang dikemukakan oleh Dosen FKIP Universitas Tidar Dr. Drs. Hari Wahyono, M.Pd.

Pendekatan ini menekankan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga harus mengembangkan karakter dan keterampilan peserta didik secara seimbang melalui tiga unsur utama, yaitu Heart, Head, dan Hand

Aspek Heart berorientasi pada pembentukan karakter, empati, tanggung jawab, serta kecintaan peserta didik terhadap kegiatan membaca dan belajar.

Aspek Head menekankan pengembangan kemampuan berpikir kritis, analitis, kreatif, dan reflektif dalam memahami serta mengolah informasi dari berbagai jenis teks.

Sementara aspek Hand diwujudkan melalui keterampilan nyata, seperti menulis artikel opini, berita, resensi, cerpen, mempresentasikan hasil diskusi, maupun menghasilkan karya lain sebagai bentuk penerapan pengetahuan.

Pendekatan 3H memiliki keterkaitan yang erat dengan konsep deep learning dalam Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran bermakna, sadar, dan menyenangkan. Ketika peserta didik belajar melalui aspek Heart, mereka terdorong untuk memiliki motivasi belajar dan kepedulian terhadap isi bacaan.

Melalui aspek Head, peserta didik diajak menganalisis, mengevaluasi, serta menghubungkan informasi dengan pengalaman nyata, sehingga pemahaman yang diperoleh menjadi lebih mendalam.

Sementara melalui aspek Hand, peserta didik mampu mengimplementasikan hasil belajarnya dalam bentuk karya atau tindakan nyata yang bermanfaat.

Oleh karena itu, guru perlu mengintegrasikan pendekatan 3H ke dalam modul ajar, metode, media pembelajaran, dan asesmen agar pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih bermakna.

Pada akhirnya, budaya literasi tidak cukup dimaknai sebagai kegiatan membaca, tetapi harus menjadi bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang terintegrasi dengan Kurikulum Merdeka.

Pendekatan 3H dan konsep deep learning menjadi landasan penting dalam menciptakan pembelajaran yang mampu mengembangkan karakter, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik secara seimbang.

Guru memiliki peran strategis dalam merancang modul ajar, memilih metode dan media pembelajaran, serta menyusun asesmen yang mendukung budaya literasi.

Sekolah juga perlu menciptakan lingkungan belajar yang mendorong peserta didik untuk gemar membaca, berpikir kritis, dan menghasilkan karya.

Dengan upaya tersebut, pembelajaran Bahasa Indonesia akan mampu melahirkan generasi yang literat, berkarakter, kreatif, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21. (*/aro)

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untidar

 

Editor : H. Arif Riyanto
#3h Hari wahyono #modul ajar #budaya literasi #Deep Learning #FKIP Untidar