Oleh: Rifka Ihsanul Fahuna
RENCANA pemerintah menutup jurusan keguruan disebabkan karena tingginya jumlah lulusan yang tidak sebanding dengan kebutuhan guru di Indonesia. Banyak lulusan keguruan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Dilihat dari teori pendidikan Holistik-Integratif 3H, masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menutup program keguruan. Peran pendidikan lebih luas tidak hanya mencangkup jumlah tenaga kerja. Sehingga diperlukan pemahaman yang lebih mendalam sebelum mengambil keputusan tersebut.
Dalam teori 3H, pendidikan dilihat sebagai proses yang mengembangkan tiga aspek utama, yaitu Heart, Head, dan Hand. Ketiga aspek ini saling berkaitan karena dapat membentuk peserta didik yang berkualitas. Teori 3H tidak hanyak menekankan kemampuan akademik, namun juga sebagai pembentukan karakter serta keterampilan hidup. Melalui tiga aspek tersebut diharapkan mampu mengasilkan siswa yang cerdas dan juga berakhlak mulia. Dengan demikian, teori 3H menjadi salah satu pendekatan pendidikan yang relevan dan dapat diterapkan dalam dunia pendidikan di Indoensia.
Dimensi Heart yang berkaitan dengan nilai, moral, sikap, dan karakter peserta didik. Seorang guru bertanggung jawab besar dalam membentuk karakter dengan membimbing peserta didik agar berperilaku baik, disiplin, dan memiliki empati. Pembentukan karakter ini tidak dapat dilakukan dengan instan, tentu membutuhkan proses yang cukup lama, serta membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Apabila jurusan keguruan ditutup, maka peluang pendidik yang berkompeten dalam memahami karakter semakin berkurang. Tentu pada era sekarang, pendidikan karakter dibutuhkan untuk menghadapi masalah sosial yang ada di masyarakat.
Selain membentuk karakter peserta didik, guru juga berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Hal ini masuk dalam aspek Head. Pendidikan sekarang tidak cukup hanya dengan menghafal materi. Tetapi pendidikan harus memapu melatih berpikir kritis, kreatif, dan dapat memecahkan masalah. Karena itu, guru yang inovatif dapat membantu siswa dalam memahmai materi pembelajaran dengan berbantuan media yang menarik dan efektif. Jika profesi guru diisi oleh pihak yang tidak memiliki latar belakang kependidikan, maka calon guru yang kreatif dan profesional tentu dapat dipastikan tidak banyak dan terbatas. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas intelektual generasi muda.
Dalam teori 3H aspek Hand berhubungan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Juga menekankan pentingnya keterampilan. Guru tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mengajarkan penerapam materi dalam kehidupan nyata. Misalnya, melalui kegiatan praktik dan kerja kelompok, peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar yang dapat berguna dalam kehidupan sosial maupuan dunia kerja. Namun jika rencana penutupan jurusan ini terjadi, maka dapat memperlemah proses pembentukan keterampilan peserta didik. Akibatnya, peserta didik menjadi lebih sulit dalam mengembangkan kemampuan praktik dan kreativitas.
Berdasarkan teori Holistik-Integratif 3H, solusi masalah pendidikan bukanlah dengan menutup program studi keguruan. Namun dengan memperbaiki sistem dan pemerataan tenaga pendidik. Di sini pemerintah dapat meningkatkan kualitas guru, memperluas pelatihan, dan dapat menyesuaikan kebutuhan pendidik di setiap daerah. Dengan demikian, lulusan kependidikan dapat memperoleh dunia kerja yang sesuai dengan latar belakang dan dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan. Kesimpulan penulis, jurusan keguruan masih dibutuhkan agar generasi muda memiliki karakter, cerdas dalam berpikir, serta terampil. Sehingga pendidikan di Indonesia dapat berkembang. (*/aro)
Mahasiswi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untidar
Editor : H. Arif Riyanto