Oleh: Azis Subekti*
ADA banyak sebab sebuah bangsa kehilangan arah. Kadang bukan karena perang. Bukan pula karena minimnya sumber daya alam. Tetapi karena para pemimpinnya perlahan gagal memahami manusia yang dipimpinnya sendiri.
Padahal negara pada hakikatnya bukan infrastruktur modern yang berhasil dibangun, bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar undang-undang atau tumpukan program pembangunan.
Negara adalah manusia: dengan harapan-harapannya, kecemasannya, harga dirinya, kemarahannya, keyakinannya, dan rasa ingin hidup layak sebagai warga bangsa.
Karena itu, kualitas paling mendasar dari seorang pemimpin sesungguhnya bukan hanya kemampuan berbicara, punya strategi memimpin, memenangkan pemilu, atau menyusun kebijakan. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan memahami manusia secara utuh.
Baca Juga: Narkotika Digital dan Kejahatan Siber Transnasional
Dan Indonesia adalah salah satu bangsa yang tidak mudah dipahami. Itu terlalu besar untuk dibaca hanya lewat statistik. Terlalu beragam untuk dipahami hanya dari ruang elite.
Indonesia hidup dari ribuan lapisan pengalaman manusia: desa-desa yang jauh dari pusat kekuasaan, pasar tradisional yang tetap bertahan di tengah modernisasi, rumah ibadah yang menjaga nilai, anak-anak muda yang tumbuh dalam dunia digital, petani yang cemas harga panennya jatuh, guru honorer yang bertahun-tahun mengabdi dalam ketidakpastian, hingga masyarakat kecil yang diam-diam memikul beban hidup jauh lebih berat daripada yang terlihat di paparan angka dan statistik.
Itulah sebabnya Indonesia tidak bisa dipimpin hanya dengan pendekatan administratif dan teknokratis. Ia membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang manusia.
Sebab manusia Indonesia tidak bergerak hanya karena logika ekonomi. Bergerak karena rasa dihormati. Karena merasa dilihat. Karena merasa aman. Karena percaya pada pemimpinnya. Karena merasa masa depan masih mungkin diperjuangkan.
Dan semua itu, hari ini sedang diuji oleh perubahan zaman yang bergerak sangat cepat.
Dunia modern telah mengubah hampir seluruh cara manusia hidup.
Teknologi digital mengubah cara manusia berpikir. Media sosial mengubah cara manusia marah.
Algoritma perlahan menentukan apa yang kita lihat, kita percaya, bahkan apa yang kita benci.
Yuval Noah Harari pernah mengingatkan bahwa di abad ini, data dan algoritma mulai memahami manusia lebih dalam daripada manusia memahami dirinya sendiri.
Apa yang kita klik, kita sukai, kita tonton, bahkan yang kita takutkan, perlahan dibaca sebagai pola perilaku.
Akibatnya, dunia hari ini tidak hanya menjadi arena perebutan ekonomi atau kekuasaan politik. Ia juga menjadi arena perebutan perhatian dan kesadaran manusia.
Kemarahan bisa diproduksi. Ketakutan bisa dipelihara. Kebencian bisa disebarkan dalam hitungan detik. Dan Indonesia hidup tepat di tengah arus besar itu.
Masyarakat yang dulu lebih banyak berinteraksi lewat ruang sosial nyata—kampung, sekolah, pasar, rumah ibadah, organisasi masyarakat—kini juga hidup dalam ruang digital yang sering kali lebih bising daripada kehidupan sehari-hari mereka sendiri.
Di sinilah tantangan kepemimpinan menjadi jauh lebih rumit dibanding masa lalu. Karena pemimpin hari ini tidak cukup hanya memahami negara.
Ia juga harus memahami psikologi masyarakatnya.
Dalam ilmu psikologi modern, Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia ternyata lebih sering mengambil keputusan berdasarkan emosi cepat dibanding pertimbangan rasional yang mendalam. Penjelasan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini.
Mengapa hoaks lebih cepat dipercaya dibanding klarifikasi resmi. Mengapa kemarahan sosial lebih mudah menyebar daripada penjelasan panjang berbasis data.
Mengapa simbol, sentimen identitas, atau rasa diperlakukan tidak adil sering jauh lebih kuat pengaruhnya dibanding paparan dan penjelasan teknokratis?
Karena manusia memang bukan mesin. Ia punya rasa takut. Punya ego. Punya kebutuhan untuk dihargai.
Dan sering kali masyarakat tidak sedang mencari pemimpin yang paling pintar, melainkan pemimpin yang membuat mereka merasa dipahami.
Di titik inilah kita menemukan banyak kebijakan tidak optimal bahkan gagal. Negara merasa sudah bekerja. Tetapi rakyat merasa tidak diajak bicara.
Padahal dalam kehidupan sosial, rasa didengar kadang sama pentingnya dengan bantuan penyelesaian masalah itu sendiri.
Pemahaman tentang manusia Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari sisi budaya dan sejarah keteladanan para pemimpinnya.
Bangsa ini sejak awal tumbuh bukan hanya karena kekuatan senjata atau kekuasaan formal, tetapi karena hadirnya figur-figur yang mampu menyentuh jiwa rakyatnya.
H.O.S. Tjokroaminoto misalnya, bukan sekadar pemimpin organisasi. Ia adalah guru pergerakan yang memahami manusia Indonesia dari akar sosialnya.
Di rumah sederhananya di Surabaya, lahir banyak tokoh besar bangsa dengan jalan pikir berbeda-beda: Soekarno, Semaun, hingga Kartosoewirjo pernah berada dalam ruang pendidikan dan perdebatan yang sama.
Tjokroaminoto memahami bahwa bangsa besar tidak dibangun hanya dengan kemarahan terhadap penjajahan, tetapi dengan membangunkan kesadaran manusia tentang martabat dirinya sendiri.
Kalimat terkenalnya, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat,” sesungguhnya bukan hanya nasihat pribadi.
Ia adalah fondasi kepemimpinan: ilmu tanpa moral melahirkan keserakahan, moral tanpa strategi melahirkan kelemahan, dan strategi tanpa kemanusiaan melahirkan penindasan baru. (*/put/lis)
*Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
Editor : Lis Retno Wibowo