Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Pohon Tidak Tumbuh dari Seremoni

Lis Retno Wibowo • Senin, 1 Desember 2025 | 21:30 WIB
Drs Satriyatmo, MM
Drs Satriyatmo, MM

Oleh : Drs Satriyatmo, M.M.*

Tanggal 28 November adalah Hari Menanam Pohon Nasional. Hal ini mungkin memanfaatkan momentum bulan basah sehingga  penanaman pohon dapat tumbuh tanpa disirami.

Kemudian, beberapa institusi, komunitas, hingga lembaga pemerintahan menggelar kegiatan tanam pohon sebagai simbol kepedulian pada lingkungan.

Jumlah bibit yang ditanam sering dihitung sebagai indikator keberhasilan gerakan, dan publik pun menyambutnya dengan antusias. Di atas kertas, ini menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap ekologi.

Namun di balik kesadaran ekologis tersebut ada permasalahan yang cukup menggelitik, yaitu tidak adanya gerakan yang memastikan pohon-pohon itu tumbuh dan berkembang menjadi vegetasi yang benar-benar melindungi alam.

Menanam itu relatif mudah, tetapi memastikan pohon hidup dalam jangka panjang adalah hal yang terpenting.

Sayangnya mekanisme ini sering dilupakan. Kebanyakan dijumpai gerakan menanam pohon terjebak dalam logika seremoni. Ribuan bibit ditanam dalam satu hari, dokumentasi, publikasi dilakukan, lalu acara selesai. Secepat jepretan kamera DSLR.

Pada hari-hari berikutnya sebagian besar bibit dibiarkan menghadapi nasibnya sendiri tanpa pemeliharaan, perlindungan dari hama, tanpa penggantian bibit yang mati, tanpa pemantauan.

Bahkan pada beberapa kasus tanaman pohon tersebut dicabut oleh pemilik lahan sekitar, karena "kelahirannya tak dikehendaki".

Petani menganggap bahwa pohon yang rindang mengganggu intensitas sinar matahari sampai ke tanaman produksi di bawahnya, sehingga pohon dianggap biang keladi penurunan produksi tanamannya.

Sementara itu manfaat pohon secara ekologis tidak datang dari banyaknya bibit yang ditancapkan, melainkan dari banyaknya pohon yang berhasil hidup menjadi bagian dari ekosistem.

Tanpa perawatan, tentu tingkat kematian bibit sangat tinggi. Artinya, energi dan anggaran besar bisa saja habis tanpa menghasilkan perubahan nyata pada lingkungan.

Jika ingin gerakan menanam pohon benar-benar bermakna, maka seharusnya ada perencanaan matang yaitu memastikan pohon tumbuh dan berkembang. Reforestasi adalah proses panjang, bukan proyek satu hari. Untuk itu maka diperlukan beberapa prinsip dasar.

Di antaranya yaitu: monitoring berkala, menunjuk penanggung jawab lapangan untuk menjaga kelangsungan hidup pohon, tersedianya pendanaan khusus untuk perawatan, dan pemilihan jenis tanaman yang tepat untuk kawasan yang akan ditanami.

Pengalaman penulis pada tahun 2012 dan 2013 terdapat praktik baik di sebuah desa di Kabupaten Wonosobo, yaitu pada musim kemarau para pemuda bergotong-royong secara rutin menyiram pohon yang ditanam sebelumnya.

Lokasi penyiramannya berada di tempat yang sangat terjal dan sulit dijangkau, mendekati puncak Gunung Pakuwojo lereng sebelah timur.

Simpulannya, kelestarian alam tidak dihitung dari banyaknya seremoni menancapkan bibit pohon, tapi dari berapa banyak pohon yang berhasil hidup.

Masa depan ekologis terjaga jika kita mampu memastikan pohon itu tumbuh dan berkembang menjadi vegetasi tutupan lahan yang luas. (lis)

*Pemerhati Sosial Budaya Wonosobo

Editor : Lis Retno Wibowo
#Menanam #hari menanam pohon #perawatan