Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Sampah Jadi Listrik, Solusi Energi Bersih dan Penyelamat Lingkungan

H. Arif Riyanto • Selasa, 25 November 2025 | 05:32 WIB
Rayhan Putra Garias Sakti, Mahasiswa Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Tidar
Rayhan Putra Garias Sakti, Mahasiswa Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Tidar

Oleh: Rayhan Putra Garias Sakti

RADARMAGELANG.ID--Pembangkit listrik adalah sekumpulan peralatan yang digunakan untuk membangkitkan energi listrik lewat transformasi energi dari berbagai sumber. Berdasarkan data KESDM 2024, sekitar 85 persen kapasitas pembangkit di Indonesia masih memakai bahan bakar fosil yang menimbulkan dampak negatif seperti polusi udara dan efek rumah kaca. Karena itu, dunia mulai beralih pada pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT).

Energi Baru Terbarukan adalah energi yang berasal dari alam, dapat diperbarui, dan lebih ramah lingkungan. Sumber ini menghasilkan emisi rendah, bersifat berkelanjutan, membuka peluang ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung kemandirian energi terutama di daerah terpencil. Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat besar sehingga beragam jenis pembangkit bisa dikembangkan.

Jenis pembangkit yang populer adalah PLTS. Selain itu ada PLTB yang memanfaatkan angin, serta PLTA dan PLTMH yang memanfaatkan aliran air atau bendungan untuk memutar turbin. Salah satu teknologi EBT yang kini mendapat perhatian khusus adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

PLTSa adalah teknologi yang memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Sampah dipilah dan dikeringkan agar mudah dibakar. Proses pembakaran dilakukan pada suhu tinggi agar lebih sempurna dan tidak meninggalkan residu berbahaya. Gas hasil pembakaran juga diolah agar aman bagi lingkungan. Melalui metode ini, sampah berkurang sekaligus menjadi sumber energi.

Energi panas dari pembakaran digunakan untuk memanaskan air hingga menjadi uap bertekanan tinggi yang memutar turbin. Efisiensi konversi energi berada pada kisaran 10-25 persen. Setiap ton sampah dapat menghasilkan sekitar 300 kWh, cukup untuk kebutuhan dua rumah selama sebulan. Gas buang kemudian diproses melalui sistem deasidifikasi, karbon aktif, dan penyaring debu sehingga emisi tetap aman. Dengan demikian, PLTSa menjadi solusi penyedia energi bersih sekaligus penanganan sampah.

Manfaat utama PLTSa adalah mengurangi sampah di TPA serta menekan penggunaan bahan bakar fosil yang jumlahnya terbatas. Namun, penerapan PLTSa juga memiliki tantangan. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah membuat bahan baku pembakaran tidak optimal. Selain itu, biaya pembangunan fasilitas PLTSa cukup tinggi, sehingga membutuhkan perencanaan matang, investasi besar, dan pengelolaan profesional.

Edukasi pemilahan sampah menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas bahan baku PLTSa. Pemerintah dapat bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengatasi masalah pendanaan. Dengan penanganan yang tepat, PLTSa dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan lingkungan.

Implementasi PLTSa di Indonesia sudah dilakukan di beberapa kota besar. Salah satu yang telah beroperasi adalah PLTSa Benowo di Surabaya yang memproses ratusan ton sampah per hari menjadi listrik. Teknologi serupa juga dikembangkan di Bandung, Denpasar, dan Jakarta sebagai proyek percontohan. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memperluas penerapan PLTSa.

Keberhasilan PLTSa sangat bergantung pada peran aktif masyarakat dan pemerintah. Pemerintah bertugas merancang kebijakan serta mendukung pelaksanaannya, sementara masyarakat berperan dalam memilah sampah agar proses PLTSa berjalan optimal. Dengan kerja sama semua pihak, manfaat PLTSa dapat dirasakan secara maksimal.

Kesimpulannya, PLTSa mampu mengubah sampah menjadi sumber energi bersih dan berkelanjutan. Teknologi ini mengurangi sampah di TPA sekaligus menyediakan listrik bagi masyarakat. Harapannya, PLTSa dapat berkembang lebih luas dan menjadi solusi energi terbarukan yang berkelanjutan di Indonesia. (*/aro)

Mahasiswa Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Tidar

Editor : H. Arif Riyanto
#Universitas Tidar (Untidar) #Fakultas Teknik #teknik elektro #pembangkit listrik tenaga sampah #energi baru terbarukan