H. Arif Riyanto• Sabtu, 15 November 2025 | 01:41 WIB
Salsabila Ika Putri, Mahasiswi Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Airlangga 2025
Oleh : Salsabila Ika Putri
RADARMAGELANG.ID--Merantau bagaikan layar yang terbentang di lautan luas. Jika dikemudikan dengan arah dan niat yang benar, maka membawa kita ke pelabuhan ilmu. Namun tanpa kendali dan prinsip yang teguh, layar itu bisa karam di tengah gelombang kehidupan.
Sebagai mahasiswa perantau, kita dituntut memiliki pendirian yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing oleh arus pergaulan, gaya hidup, maupun tekanan lingkungan baru.
Di perantauan, tidak ada lagi orang tua yang mengingatkan kapan kita harus belajar atau menegur ketika kita sedang lalai. Keputusan sepenuhnya berada di tangan kita.
Oleh karena itu, karakter dan prinsip pribadi menjadi bekal utama yang harus dijaga agar perjalanan menuntut ilmu tidak berubah menjadi sumber masalah.
Dalam menjalani kehidupan di perantauan, terdapat beberapa hal yang sebaiknya dihindari agar tidak menjerumuskan diri pada kesalahan yang tampak sepele, tetapi berdampak besar.
Pertama, jangan menjadi people pleaser. Menurut Devanti (2021), people pleaser adalah individu yang mudah merasa tidak enak saat menolak permintaan orang lain dan lebih memprioritaskan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.
Mereka cenderung kurang percaya diri, sulit berkata tidak, mudah segan, dan kerap mengesampingkan kebutuhan pribadi demi orang lain. Sikap seperti ini justru dapat membuat seseorang kehilangan jati diri.
Stasiun menjadi salah satu tempat yang "bersahabat" dengan para perantau.
Bagi mahasiswa perantau, kebiasaan tidak enakan bisa menjadi jebakan. Padahal, belajar berkata tidak bukan berarti egois, tetapi merupakan bentuk kedewasaan dalam mengatur prioritas dan menjaga diri dari tekanan sosial yang berlebihan.
Contohnya dapat kita lihat dari tokoh Tika dalam film Orang Kaya Baru (2019). Setelah mendadak menjadi orang kaya, Tika terjebak dalam pergaulan buruk dan mengikuti teman-temannya pergi ke klub malam serta menggunakan narkoba. Padahal sebelumnya, ia bergaul dengan teman-teman yang baik dan berprestasi.
Perubahan tersebut terjadi karena Tika tidak mampu menolak ajakan lingkungan barunya. Hal tersebut merupakan suatu gambaran nyata bagaimana sikap people pleaser dapat menyeret seseorang ke arah yang salah.
Kedua, hindari kebiasaan titip absen. Sekilas tampak sepele, namun praktik titip absen mencerminkan kurangnya integritas dan tanggung jawab. Sekali kita terbiasa melakukan hal ini, lama-kelamaan akan muncul pembenaran dalam diri bahwa “tidak apa-apa asal tidak ketahuan.”
Dari kebiasaan kecil inilah nilai kejujuran mulai luntur, dan rasa malas pun pelan-pelan tumbuh tanpa disadari. Padahal, ketika kita menoleransi kebohongan kecil, kita sedang menyiapkan ruang bagi pelanggaran yang lebih besar di masa depan.
Nilai akademik bisa menurun karena tidak mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh, dan orang tua pun akan kecewa karena perjuangan mereka tidak dihargai.
Lebih dari itu, kebiasaan menipu diri sendiri akan berdampak jangka panjang, mulai dari sulit dipercaya orang lain, susah mendapat pekerjaan, bahkan bisa menghambat kesuksesan. Kita tentu tidak ingin masa depan yang makmur hancur hanya karena kebohongan kecil yang dulu kita anggap sepele.
Ketiga, jangan mudah meminjam atau meminjamkan uang. Meminjam uang baik di pinjol maupun kepada teman tidak selalu menyelesaikan masalah, bahkan sering kali justru menambah beban baru. Meminjam uang ke pinjol memiliki risiko bunga yang mencekik yang membuat kita mengalami tekanan psikologis dari penagih.
Sedangkan meminjam uang ke teman atau meminjamkan uang ke mereka bisa menimbulkan gesekan dalam hubungan pertemanan. Berdasarkan data dari Polresta Bogor Kota, terdapat 311 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengalami kerugian total sekitar Rp 2,1 miliar akibat terjebak pinjol (Ikhsan dan Putri, 2022).
Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya pengendalian diri dan pengelolaan keuangan dapat berujung fatal bahkan bagi kalangan terdidik sekalipun.
Sebagai mahasiswa perantau, seharusnya kita belajar hidup sederhana dan menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial sendiri. Jika selalu bergantung pada utang, kita justru sedang menunda masalah, bukan menyelesaikannya.
Selain itu, uang sering kali menjadi ujian terbesar dalam hubungan sosial karena tidak sedikit persahabatan yang rusak hanya karena urusan uang. Maka dari itu, lebih baik menahan diri dan mencari solusi lain seperti menambah penghasilan melalui kerja part time atau mengatur ulang pengeluaran daripada terjebak dalam lingkaran utang yang menggerogoti kepercayaan diri dan ketenangan hidup.
Pada akhirnya, merantau bukan hanya tentang mencari ilmu di tempat baru, tetapi juga tentang membentuk jati diri dan belajar bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
Hidup jauh dari orang tua menuntut kita untuk lebih mandiri, disiplin, dan bijak dalam bersikap. Tantangan yang datang silih berganti seharusnya menjadi ajang pendewasaan, bukan alasan untuk menyimpang.
Dengan menjaga integritas, prinsip, serta kemampuan mengendalikan diri, mahasiswa perantau dapat menjadikan perjalanan hidupnya di tanah rantau sebagai proses berharga menuju kedewasaan dan kesuksesan yang sejati. Karena sejatinya, merantau bukanlah tentang seberapa jauh kita pergi dari rumah, melainkan seberapa dekat kita dengan nilai dan tujuan hidup yang ingin dicapai. (*/put)
Mahasiswi Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Airlangga 2025