RADARMAGELANG.ID, Magelang – Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari yang namanya komunikasi. Melalui komunikasi, manusia dapat menyampaikan ide, pesan, informasi, dan segala yang ada di otaknya.
Dalam hal berkomunikasi, baik pria dan wanita memiliki gaya berkomunikasinya masing-masing yang unik dan berbeda-beda.
Melansir dari artikel berjudul “How Men and Women Communicate Differently” dari The University of Texas Permian Basin, pria lebih berfokus pada pembentukan hubungan emosional yakni pembicaraan hubungan yang baik.
Sementara itu, wanita lebih menyukai gaya berkomunikasi secara langsung (pembicaraan laporan).
Perbedaan ini membuat pria dan wanita perlu memahami isi pesan dan bagaimana cara menyampaikannya antara satu dengan yang lain agar proses komunikasi berjalan efektif dan menghindari kesalahpahaman.
Pada dasarnya, sebagai manusia terlepas dari gendernya, baik pria dan wanita memiliki satu tujuan yang sama dalam berkomunikasi yakni menyampaikan apa yang ingin disampaikan dan mengekspresikannya melalui panca indera.
Namun, seiring berjalannya waktu, semakin dewasa manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan kemampuan dalam berbahasa dan berbicara.
Dalam hal ini, pria dan wanita dapat mulai berkomunikasi dengan menyampaikan pikiran melalui pola pikir maju dan sesuai dengan kemampuan cara berpikir dan karakteristiknya masing-masing.
Berikut ini beberapa fakta unik pria dan wanita dalam berkomunikasi:
Wanita: Membangun ikatan
Wanita lebih cenderung menjadikan komunikasi sebagai alat untuk mempererat dan memelihara hubungan, mengandalkan empati, pengertian, dan inklusivitas dalam merumuskan pemikirannya.
Contohnya ketika wanita ingin terhubung dengan pasangannya, mereka bisa berkata “Bisakah kita bicara?”
Jadi, bagi mereka berkomunikasi merupakan bagian dari menjalin hubungan, mempererat, dan memperkuat hubungan serta eksistensi hubungannya.
Pria: Memecahkan masalah
Ketika wanita ingin pria mendengarkannya untuk berbicara, pria bisa saja memiliki asumsi negatif, seperti bertanya ada apa dan berpikir bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.
Hal ini karena saat hubungan berjalan mulus, pria tidak melihat alasan untuk membicarakannya.
Bagi pria, sebagian besar mereka tidak ingin hanya bicara, namun bukan berarti mereka tidak memiliki perasaan dalam melakukan komunikasi dan menjalin hubungan.
Perbedaan pendekatan komunikasi yang berbeda ini dapat menjadi salah satu penyebab mengapa pria dan wanita tidak selalu dapat sependapat dalam konteks berkomunikasi.
Wanita berkomunikasi untuk mempertahankan hubungan, sementara pria dalam berkomunikasi lebih cenderung suka untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan.
Berdasarkan penelitian dari Albert Mehrabian dalam bukunya yang berjudul “Silent Messages” dan terbit pada tahun 1971, dijelaskan mengenai tingkat signifikansi komunikasi verbal dan nonverbal.
Ternyata, sebanyak 7% komunikasi terdiri dari verbal dan 93% dari nonverbal, terutama bahasa tubuh dan nada bicara.
Berikut ini beberapa perbedaan unik pria dan wanita dalam berkomunikasi verbal dan nonverbal:
Verbal
Pria: Komunikasi to the point dan tegas
Dalam berkomunikasi, pria lebih cenderung berkomunikasi secara langsung, tanpa basa-basi, langsung pada intinya, dan tegas.
Misalnya, pada skenario pengiriman pesan secara online, pria cenderung akan mengatakan “Idemu sangat bagus, mari kita gunakan itu” Kalimat singkat tersebut menunjukkan kepercayaan diri dan mengutamakan efisiensi daripada mempertimbangkan hubungan dan perasaan.
Wanita: Kolaboratif dan penuh pertimbangan
Saat berkomunikasi, wanita lebih cenderung mengutamakan keselarasan ketika mengutarakan pendapatnya dengan melembutkan kalimat-kalimatnya untuk menghindari konflik atau menyinggung orang lain.
Misalnya, pada skenario pengiriman pesan secara online, wanita cenderung akan mengatakan “Aku rasa idemu ini memang bagus, tapi kita juga perlu mempertimbangkan pendapat yang lain” Kalimat tersebut memiliki sifat kolaboratif dan mendorong percakapan tanpa adanya dominasi.
Nonverbal
Pria: Minim gestur nonverbal
Dalam berkomunikasi, pria lebih sedikit menggunakan komunikasi nonverbal. Sebagian besar pria menghindari kontak mata yang terlalu lama karena berkaitan dengan kerentanan emosional.
Pria lebih suka menggunakan gestur fisik yang mungkin masih jarang digunakan. Gestur-gestur tersebut digunakan untuk menunjukkan otoritas dan ketegasan, namun memiliki kekurangan detail emosional bernuansa seperti halnya ditemukan pada komunikasi wanita.
Wanita: Dominan gestur nonverbal
Banyak wanita lebih banyak menggunakan gestur nonverbal dengan tujuan menunjukkan perasaan mereka saat berkomunikasi.
Contohnya seperti ekspresi wajah seperti mengangkat alis dan senyuman tipis saat menunjukkan kegembiraan atau terkejut terhadap suatu hal.
Wanita juga lebih sering mempertahankan kontak mata untuk menunjukkan perhatian lebih dan kedekatan ikatan emosional terhadap lawan bicara.
Kemampuan gestur nonverbal ini membuat wanita lebih dapat memahami ekpresi atau isyarat nonverbal orang lain, termasuk dalam penafsiran nada emosional dan gerak tubuh, serta wajah lawan biaca dalam berkomunikasi.
Menurut Dr. Furlich, wanita dengan kadar estrogen yang lebih tinggi dapat meningkatkan keterampilan bahasa seperti melakukan percakapan yang rumit dan menjelaskan perasaan seseorang.
Sementara itu, pria dengan testosteron dapat meningkatkan kemampuan spasial, seperti menavigasi dan mengukur jarak, yang mungkin dari sinilah stereotip lama bahwa pria lebih baik dalam membaca peta dan petunjuk.
Ia mengatakan bahwa orang yang lahir secara biologis sebagai perempuan ternyata memiliki otak yang jauh lebih terintegrasi.
Artinya, wanita memiliki banyak koneksi di kedua belahan otaknya. Sementara itu, pria memiliki lebih banyak koneksi di masing-masing belahan otak.
Selanjutnya, ia juga berpendapat bahwa otak perempuan memiliki lebih banyak materi putih, yang membantu mengoordinasikan berbagai area. Sementara otak pria memiliki lebih banyak materi abu-abu, yang membantu memproses informasi.
Berdasarkan argumen ini, perbedaan struktur otak membentuk interaksi sosial.
Perempuan memiliki konektivitas yang lebih baik di seluruh belahan otak. Mereka mampu terlibat dalam percakapan sekaligus menganalisis perilaku pasangannya.
Sebaliknya, laki-laki memiliki pemahaman yang lebih literal mengenai percakapan karena mereka hanya dapat menganalisis atau bercakap-cakap. Hal ini secara teoritis membentuk gaya komunikasi yang berbeda antar gender.
Berkaitan dengan pola komunikasi pria dan wanita, Dr. Furlich berpendapat bahwa adanya perbedaan struktur otak membuat wanita lebih baik dalam komunikasi non-verbal.
Wanita juga memiliki aliran darah yang lebih banyak ke area otak yang bertanggung jawab atas emosi, bahasa, dan memori selama percakapan. Hal ini membuat pusat-pusat di otak menjadi sangat aktif ketika berkomunikasi dengan orang lain.
Dijelaskan lebih lanjut, bahwa ketika wanita berkomunikasi, mereka mengaitkan ingatan dan emosi ke dalam topik yang sedang dibahas.
Laki-laki cenderung lebih banyak menggunakan pembicaraan laporan atau secara langsung tanpa basa-basi. Hal ini berarti pria mungkin cenderung memberikan respons literal dan non-emosional selama berkomunikasi.
Jadi, dapat diambil kesimpulan dan dipahami dalam kehidupan sehari-hari, bahwa wanita dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya lebih unggul dari pria di mana mereka dapat memahami komunikasi non-verbal, sering melibatkan perasaan, memperhatikan lawan bicara, dan sambil memperhatikan apa yang sedang dibicarakan.
Namun, wanita juga cenderung ragu-ragu, kurang deklaratif, dan sering terlibat “uptalk” atau mengakhiri pembicaraan dengan kalimat yang seperti pertanyaan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wanita kekurangan dalam hal kepercayaan diri ketika sedang berkomunikasi. Berbanding terbalik dengan pria, meski kurang dalam hal komunikasi nonverbal dan emosional, pria dapat berbicara dengan lantang, tegas, percaya diri, lugas, dan cenderung rasional. (mg1/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo