Oleh : Siti Maryani, S.ST., MPH, Sri Winarsih, S.Pd., M.Kes., Wahyu Joko Saputra, S.Pd., M.Pd.
STUNTING merupakan salah satu permasalahan yang terjadi di Indonesia. Stunting merupakan kondisi dimana tinggi badan anak lebih rendah dari seusianya.
Prevalensi stunting di Indonesia cenderung bervariasi dari tahun ke tahun. Prevalensi stunting secara nasional mengalami penurunan dari 21,5 persen pada tahun 2023 menjadi 19,8 persen di tahun 2024.
Di Indonesia terdapat banyak program untuk menanggulangi kasus stunting. Antara lain Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024, 1000 PHK (periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan), dan pemberian makanan tambahan (PMT).
Dalam upaya mendukung penurunan kejadian stunting pada balita perlu adanya kegiatan satu kader satu keluarga sehingga satu kader dapat mendampingi 1 keluarga yang mempunyai balita untuk membantu dalam mendeteksi kejadian stunting.
Namun jumlah kader kesehatan terbatas. Untuk itu, tim pengabdian masyarakat Prodi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang mengadakan kegiatan pemberdayaan kader kesehatan di Desa Kalijoso, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.
Diharapkan pengabdian masyarakat dengan mendampingi satu kader satu keluarga ini akan mampu mendeteksi dini stunting Desa Kalijoso.
Dalam kegiatan ini kader mendampingi satu keluarga yang memiliki balita. Pendampingan berhasil jika terdapat peningkatan pengetahuan keluarga yang didamping kader dan peningkatan berat badan (BB) bayi/balita di lingkungan keluarga yang didamping oleh kader.
Tujuan kegiatan ini adalah menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan.
Selain itu, membentuk atau meningkatkan jumlah kader kesehatan yang peduli stunting.
Pengabdian masyarakat di Desa Kalijoso dilakukan pada 12 Juli 2025. Melibatkan 20 kader kesehatan Desa Kalijoso, bidan desa, Kepala Desa Kalijoso, 3 dosen dan 3 mahasiswa Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang.
Setelah dilakukan kegiatan pendampingan oleh dosen, selanjutkan setiap kader akan melakukan pendampingan ke satu keluarga. Keluarga yang didampingi akan dievaluasi pengetahuan tentang stunting.
Baca Juga: Deteksi Dini dan Pencegahan Penyakit Ginjal Kronis di Desa Kalijoso, Magelang
Waktu pendampingan setiap kader ke keluarga berbeda-beda tergantung dari kesepakatan antara kader dengan keluarga.
Setelah melakukan pendampingan, kader akan dievaluasi oleh tim dosen dari Poltekkes Kemenkes Semarang.
Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan pada 16 Agustus 2025. Dalam kegiatan evaluasi membahas kegiatan selama pendampingan dan kendala yang dijumpai selama kegiatan tersebut.
Kegiatan pemberdayaan kader sangat bermanfaat bagi kader maupun keluarga yang memiliki balita.
Terdapat peningkatan pengetahuan baik kader mapupun keluarga terkait stunting. Kader dan keluarga berkomitmen untuk membantu menurunkan stunting di wilayah Desa Kalijoso.
Kegiatan pemberdayaan kader dalam deteksi stunting perlu dipertahankan agar kejadian stunting di Desa kalijoso dapat menurun.
Keluarga yang memiliki balita akan terpantau dengan baik sehingga kejadian stunting dapat diminimalisasi. (web/lis)
*Dosen Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang
Editor : Lis Retno Wibowo