Oleh: Naufal Amrul Firdausi
RADARMAGELANG.ID—Dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali hanya menyimpulkan sesuatu dari apa yang kita lihat.
Menghakimi seseorang dari penampilannya, dari cara bicaranya, melihat kemiskinan berarti kebodohan, atau melihat keberhasilan hanya dari akademiknya saja.
Padahal di setiap tindakan tak lepas oleh struktur sosial, nilai budaya, dan konteks historis yang membentuk individu.
Contoh sederhananya adalah kemiskinan.
Banyak yang beranggapan bahwa kemiskinan adalah buah yang harus dipetik dari kebodohan dan rasa malas.
Tapi jika kita melihat lebih dalam kemiskinan juga dipengaruhi akses pendidikan, distribusi kekayaan yang tidak merata, depresi ekonomi yang menyebabkan PHK (pemutusan hubungan kerja), dan masih banyak lagi.
Dengan melihat banyak sudut pandang kita tidak akan menyalahkan pelaku saja.
Namun kita juga mempertanyakan sistem sosial yang mengakibatkan ketimpangan.
Begitu juga melihat kenakalan remaja.
Dengan melihat lebih dalam, kita akan mempertanyakan apakah dia mendapatkan kekerasan di rumah?
Apakah lingkungan sekitarnya baik untuk dirinya?
Menurut C. Wright Mills, kesadaran akan hubungan pengalaman pribadi dan masyarakat luas disebut imajinasi sosiologi.
Di mana kita diajak melihat realitas menggunakan kacamata ganda.
Yang satu melihat tindakan individu, satunya lagi untuk melihat dan memahami bagaimana struktur mempengaruhi suatu tindakan.
Dengan cara berpikir seperti ini, kita bisa semakin bijak menanggapi suatu berita yang beredar secara cepat, tidak terprovokasi, dan tidak langsung menghakimi.
Di zamam sekarang, informasi sangat mudah didapatkan tanpa kita tahu benar atau salahnya.
Berpikir kritis adalah bekal penting agar kita tidak terjebak pada kesimpulan dangkal. (*)
Mahasiswa Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta
Editor : H. Arif Riyanto