Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Bahasa Indonesia di Kalangan Pelajar : Formalitas atau Kebanggaan?

Lis Retno Wibowo • Rabu, 25 Juni 2025 | 16:39 WIB
Salsabila Aulia Rahman
Salsabila Aulia Rahman

Oleh : Salsabila Aulia Rahman*

Pelajar Indonesia menghadapi dilema bahasa yang unik. Mereka lancar berbahasa gaul dan Inggris, tapi canggung saat harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Fenomena ini terlihat jelas di sekolah-sekolah.

Saat istirahat, siswa berbicara dengan campuran bahasa Indonesia, daerah, dan Inggris. Namun ketika presentasi atau ujian, mereka terlihat kaku menggunakan bahasa Indonesia formal.

Pergeseran ini bukan kesalahan pelajar semata. Media sosial menjadi faktor utama. Platform seperti TikTok dan Instagram didominasi konten berbahasa Inggris atau bahasa gaul. Anak-anak meniru gaya berbicara influencer favorit mereka.

Globalisasi juga berperan besar. Pelajar merasa lebih "keren" menggunakan bahasa asing. Bahasa Indonesia dianggap ketinggalan zaman.

Kurangnya teladan dari lingkungan terdekat memperparah masalah. Guru dan orang tua sering menggunakan bahasa campuran dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, pelajar tidak memiliki contoh penggunaan bahasa Indonesia yang menarik dan natural.

Padahal, bahasa Indonesia punya kekayaan luar biasa yang sering diabaikan. Kata "rindu" misalnya, punya makna yang lebih dalam dari sekadar "miss" dalam bahasa Inggris. Ada juga "galau" yang lebih kompleks dari "confused”.

Bahkan kata-kata sederhana seperti "gotong-royong" mencerminkan nilai-nilai budaya Indonesia yang unik.

Bahasa Indonesia juga terus hidup dan berkembang mengikuti zaman. Di sisi lain, anak-anak muda menciptakan kata-kata baru yang justru menunjukkan kreativitas berbahasa mereka.

Contohnya  "baper" dari "bawa perasaan" lebih ekspresif daripada "emosional". Ada juga "kepo" (knowing every particular object), atau "mager" (malas gerak) yang lahir dari kepekaan anak muda mengamati kehidupan sehari-hari.

Ini membuktikan bahasa Indonesia tidak statis, tapi dinamis dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan karakternya.

Agar penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar mampu diserap oleh generasi muda, pendidikan perlu direvitalisasi. Guru harus keluar dari zona nyaman mengajar dengan cara konvensional yang membosankan.

Metode baru harus relevan dengan dunia digital yang digeluti siswa setiap hari. Misalnya, menganalisis lirik lagu hits seperti karya Bernadya, Tulus, atau Pamungkas untuk memahami penggunaan majas dan diksi yang tepat.

Siswa juga bisa diajak debat online, podcast mini, atau menulis thread Twitter dengan bahasa Indonesia formal tapi tidak kaku bisa jadi alternatif tugas yang menyenangkan.

Bahkan mengulas film Indonesia atau membuat review buku dengan bahasa yang tepat akan lebih menarik daripada menulis esai konvensional.

Kampanye massal "Bangga Berbahasa Indonesia" juga harus dimulai dari akar rumput. Selebriti seperti Raditya Dika, Awkarin, atau Deddy Corbuzier yang sudah punya pengikut banyak bisa jadi duta bahasa yang menunjukkan bila berbahasa Indonesia itu cool dan modern.

Mereka bisa bikin challenge di media sosial untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam konten sehari-hari.

Pemerintah juga perlu gandeng platform digital untuk memberikan reward atau badge khusus bagi kreator konten yang konsisten menggunakan bahasa Indonesia berkualitas.

Bahasa Indonesia seharusnya menjadi kebanggaan, bukan beban. Generasi muda perlu menyadari bahasa Indonesia adalah identitas bangsa. Melestarikannya bukan berarti menolak modernitas, tetapi menunjukkan kecintaan pada warisan budaya yang tak ternilai.

Saatnya menanamkan paradigma : Berbahasa Indonesia yang baik itu keren, bukan kaku. Dengan begitu, generasi mendatang akan bangga dan percaya diri menggunakan bahasa Indonesia. (lis)

*Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tidar (Untidar)

Editor : Lis Retno Wibowo
#bahasa indonesia #media sosial #bahasa gaul #pelajar