Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Profesi Guru Kini Bukan Prioritas Pilihan Karir Generasi Z, Mengapa?

Lis Retno Wibowo • Senin, 2 Juni 2025 | 02:46 WIB
Oleh : Farhan Eka Prasetya
Oleh : Farhan Eka Prasetya

MENJADI guru tidak mudah.

Harus melewati berbagai tahapan dan perjuangan.

Pun, tidak semua orang bisa berprofesi sebagai guru.

Karena  memerlukan keahlian khusus dalam menjalankan pekerjaannya.

Sukses seseorang dalam karir apapun, tidak lepas dari peran guru.

Tak heran bila di masyarakat, profesi guru begitu terhormat.

Namun faktanya, saat ini profesi tersebut bukan menjadi pilihan pertama bagi generasi Z dalam menentukan karir.

Generasi Z adalah sebutan bagi sekelompok orang yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012.

Mereka cenderung memilih pekerjaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, bisnis, kesehatan.

Hal itu, dibuktikan dengan data dari BPS pada Agustus 2023 yang menyatakan mayoritas pengajar di Indonesia didominasi oleh generasi milenial (1981-1986) sebesar 51,95%, sisanya adalah generasi X (1965-1980) sebesar 29,89%, dan baby boomer (sebelum 1965) sebesar 3,43%. 

Sementara generasi Z (1997-2012) hanya 14,73% menduduki persentase terkecil dari keseluruhan guru berusia muda di dunia kerja.

Berdasarkan fakta saat ini, berkurangnya minat generasi Z menjadi guru dipengaruhi beberapa faktor sebagai berikut :

Banyak pendidik berstatus guru honorer.

Mengacu data yang dikutip dari media Antaranews tahun 2024, bahwa 2,6 juta (56%) guru masih honorer belum dilantik menjadi PNS/PPPK, dari total guru di Indonesia secara keseluruhan sebanyak 3,7 juta (100%).

Guru honorer dinilai bergaji rendah.

Orang berasumsi dengan status guru honorer, upahnya kecil, di bawah minimum kerja UMP/UMK yang ditetapkan pemerintah.

Padahal menjadi guru tidak mudah, perlu pendidikan lama, perjuangan yang memakan tenaga, waktu dan biaya tidak sedikit.

Berkaitan dengan upah guru honorer yang kecil diungkapkan oleh Sri, seorang guru honorer di Magelang.

”Saya menjadi guru honorer sudah 30 tahun, dengan gaji awal dulu Rp 400 ribu kemudian naik menjadi Rp 850 ribu. Sudah berkali-kali mengikuti seleksi PNS dan PPPK tetapi belum rezekinya, ya bersyukur aja saya,” ujar wanita berusia 46 tahun ini.

Sistem pendidikan yang lama dan bertahap.

Untuk menjadi guru tidak cukup hanya berkuliah Sarjana 1 (S-1), tetapi harus melanjutkan pendidikan program PPG (Pendidikan Profesi Guru) dalam 2 semester (1 tahun) untuk PPG prajabatan, sedangkan PPG dalam jabatan 3 bulan.

Maka, generasi Z lebih memilih karir yang berhubungan dengan teknologi informasi, digital, pemasaran, perkantoran, yang dianggap lebih menjanjikan dari segi upah dan karirnya cepat berkembang.

Mereka menganggap profesi guru kurang kekinian, dibandingkan pekerjaan lain seperti tenaga kesehatan, pegawai bank, pekerja kantoran, pengacara, TNI, maupun Polri.

Guru menjadi salah satu pekerjaan yang tidak akan pernah dapat tergantikan oleh perkembangan teknologi dan kemajuan zaman.

Oleh sebab itu, peran pemerintah dengan memberikan apresiasi terhadap profesi guru perlu ditingkatkan.

Selama ini, berbagai kebijakan pemerintah di dunia pendidikan sudah baik, tetapi faktanya banyak guru honorer yang belum sejahtera dengan pengabdian lama dan upah yang jauh dari kata layak.

Apabila kita melihat beberapa contoh gaji guru dari negara lain, dikutip dari media Suarausu.com, di Singapura terendah Rp 11,9 juta per bulan, sedangkan di Malaysia terendah Rp 5,5 juta per bulan.

Di Indonesia, gaji pokok guru PPPK (ASN) dikutip dari Databooks tahun 2023 berkisar Rp 2,4 juta per bulan.

Itu artinya di Indonesia besaran gaji guru sangat rendah dibanding negara lain.

Profesi guru sangat layak diberikan gaji yang tinggi sebanding dengan tuntutan pekerjaan, dan kontribusinya terhadap negeri ini.

Seorang guru juga berhak mendapatkan pengakuan atas jasanya dengan cara dilantik menjadi PPPK/PNS, tanpa harus melewati masa pengabdian yang lama sebagai honorer.

Merosotnya minat generasi Z untuk menjadi guru dalam skala besar akan berdampak pada kekurangan tenaga pendidik.

Dikutip dari media Antaranews, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek, Nunuk Suryani mengatakan pada tahun 2024 Indonesia kekurangan 1,3 juta guru. Karena banyak guru yang pensiun.

Pernyataan tersebut harusnya menjadi peluang generasi Z untuk menjadi guru.

Potensi mendapatkan pekerjaan dengan mudah setelah berkuliah sangat mungkin, mengingat jumlah sekolah banyak, mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, negeri maupun swasta.

Di sisi lain, kita berharap pemerintah lebih meningkatkan apresiasi terhadap profesi guru khususnya bagi guru honorer. Agar guru tidak kehilangan harga dirinya di mata masyarakat.

Juga agar generasi Z berminat menjadi guru.

Menjadi guru adalah mengabdikan diri untuk negeri dan bertanggung jawab besar terhadap kemajuan bangsa ini. (lis)

* Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tidar (Untidar)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#untidar #Universitas Tidar Magelang #generasi z