Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Keterampilan Menulis Rendah, AI Jadi Jalan Pintas, Solusi atau Ancaman bagi Pendidikan?

Lis Retno Wibowo • Senin, 2 Juni 2025 | 02:06 WIB

 

Oleh : Nurvina Khairunisa
Oleh : Nurvina Khairunisa

KEMAJUAN teknologi, seakan memudahkan manusia dalam bertahan hidup.

Namun, apakah semua kemudahan itu membawa dampak baik dalam bidang pendidikan?

Kemajuan tidak hanya berhenti di satu titik. Semakin lama akan terus berkembang dan menciptakan inovasi baru.

Salah satunya adalah hadirnya artificial intelligence (AI), suatu kecerdasan buatan dalam bidang teknologi yang memprogram komputer agar dapat berpikir layaknya manusia.

Ia dirancang untuk berpikir dan merespon layaknya manusia, mulai dari membuat tulisan, menjawab pertanyaan, hingga menyusun karya tulis yang dapat dilakukan dalam hitungan detik.

Di sinilah muncul dilema, apakah AI benar-benar dapat membantu proses belajar, atau justru menggerus keterampilan manusia?

Salah satu keterampilan yang penting dimiliki adalah menulis.

Menulis menjadi keterampilan esensial dalam dunia pendidikan.

Menulis bukan sekadar menyusun kata-kata manis, tetapi menjadi cerminan cara berpikir dan pemahaman seseorang.

Dalam proses belajar, menulis berperan penting sebagai sarana mengekspresikan gagasan dan mengasah kemampuan berpikir kritis.

Seorang peserta didik perlu menguasai keterampilan menulis, karena belajar tak akan lepas dari tulisan.

Penyusunan kalimat yang tepat sesuai ketentuan dan dapat dipahami oleh pembaca, menjadi jalan penentu keberhasilan mereka.

Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan Utari dkk. (2023) keterampilan menulis peserta didik masih tergolong rendah.

Mereka belum mampu memilih kosakata yang tepat, struktur penulisan yang masih berantakan, serta kurangnya rasa percaya diri akan hasil yang dibuat.

Beberapa faktor penyebab rendahnya keterampilan menulis di kalangan pelajar adalah rendahnya keterampilan motorik, kemampuan visual memori yang lemah, minimnya motivasi dan minat belajar, serta kurangnya bahan bacaan.

Peserta didik harus membaca buku, agar memiliki banyak kosakata, sehingga dengan mudah menuangkan ide dan gagasannya melalui sebuah tulisan.

Dalam kondisi seperti ini, AI kerap dijadikan solusi instan bagi peserta didik yang kesulitan menulis.

Banyak dari mereka merasa tidak perlu menguasai dan mempelajari tata bahasa, kosakata, serta struktur penulisan yang baik, karena adanya alat yang siap membantu mereka.

AI dapat dengan cepat menyusun karangan ataupun bentuk karya tulis sesuai perintah.

Sayangnya, hal ini berisiko menyebabkan keterampilan peserta didik menjadi tumpul karena tidak diasah.

Mereka dapat kehilangan kesempatan berpikir kritis dan berlatih menulis secara orisinal.

Jika fenomena seperti ini marak terjadi dalam bidang pendidikan, maka AI dapat menjadi ancaman baru.

Di saat pendidikan bergantung pada AI, maka terjadi penurunan kualitas dan daya saing peserta didik sebagai calon generasi penerus bangsa.

Di sisi lain, AI juga dapat menjadi jalan keluar dalam menghadapi tantangan global. Menulis merupakan salah satu keterampilan yang memerlukan latihan dan proses panjang agar menghasilkan karya yang baik.

Penggunaan AI secara bijak dapat memberikan manfaat dalam proses menulis.

Seperti meminta mengevaluasi tulisan yang telah dibuat, memberikan informasi terkait struktur, memberikan saran perbaikan pada tata bahasa dan kosakata yang tepat, serta membantu mencarikan sumber referensi atau contoh penulisan yang baik.

Pemanfaatan ini dapat memunculkan inspirasi ataupun perspektif baru dalam menulis.

Melalui analisis literatur yang terkini, AI dapat memberikan petunjuk serta motivasi peserta didik saat kehabisan ide.

Beberapa media yang berbasis AI, seperti, Grammarly, QuillBot, ProWrittingAid, Claude, dan yang lainnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas suatu tulisan.

Pemanfaatkan media ini perlu dilakukan, karena pada dasarnya   perkembangan zaman memberikan banyak perubahan dalam kehidupan.

AI bukan musuh dalam pendidikan, tetapi menjadi media yang dapat membantu proses pendidikan bisa berjalan.

Hal yang perlu dilakukan adalah peserta didik dan pendidik harus mampu menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab.

Peran pendidik dalam membimbing peserta didik juga diperlukan, agar penggunaan AI dilakukan dengan sebaik-baiknya dengan menanamkan kesadaran akan pentingnya membuat suatu karya yang orisinal dan berkualitas.

Peserta didik perlu dibekali literasi digital dan etika akademik agar dapat membuat keputusan yang tepat.

Jika pemanfaatan diarahkan dengan benar, AI justru menjadi solusi meningkatkan keterampilan menulis pada peserta didik dalam bidang pendidikan.

Di sinilah peran pendidikan, memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperbuat, bukan menggantikan potensi manusia. (lis)

 

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tidar (Untidar)

Editor : H. Arif Riyanto
#fkip #untidar #Universitas Tidar Magelang #ai