Oleh : Albertha Maida Endianto
Kota Magelang dijuluki sebagai kota sejuta bunga. Namun apa jadinya jika kota ini dihadapkan dengan masalah sampah. Dihitung dari April 2023 Magelang mengalami lonjakan sampah berkali lipat dari sebelumnya.
Dilaporkan selama kurang lebih 4 hari, sampah mencapai angka 80 ton per hari. Angka tersebut dapat naik hingga 20 persen apabila di hari-hari besar atau libur nasional.
Menurut Enti Sri Hardani, salah satu pengelola bank sampah Bougenville di Kelurahan Jurangombo Utara, Kota Magelang lonjakan sampah pada hari-hari besar berasal dari plastik bekas belanja ataupun sampah bekas oleh-oleh.
Sampah-sampah tersebut diangkut menuju TPA Banyuurip Kecamatan Tegalrejo. Sebelumnya pihak depo biasa menerima sekitar 2 ember meningkat menjadi 4 ember atau sekitar 17 liter sampah.(https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/04/27/peningkatan-volume-sampah-di-magelang-melebihi-kondisi-sebelum-pandemi).
Mayoritas sampah berasal dari limbah domestik yang belum dipisah-pisah. Sampah tersebut di antaranya terdiri atas 40 persen sisa makanan, 12,65 persen sampah daun 2,14 persen ranting kayu. Sedangkan 45 persen lainnya adalah sampah anorganik.
Sampai saat ini TPA Banyuurip masih dipaksa untuk menerima pasokan sampah, meskipun faktanya TPA tersebut telah dinyatakan overload sejak 2017 silam.
Tentunya ini dapat mengubah pandangan kita terhadap sampah. Untuk mengatasi persoalan sampah harus ada tindakan preventif atau pencegahan.
Dimulai dari limbah domestik. Masyarakat harus digalakan untuk memilah sampah sebelum diangkut ke TPA. Memilah sampah juga tak hanya berlaku untuk limbah domestik. Upaya pemilahan sampah dapat diawali dengan menyediakan tempat sampah yang berbeda-beda sesuai jenisnya. Seperti tempat sampah organik dan anorganik.
Menurut pengamatan penulis, masyarakat sudah menyediakan bak sampah lebih dari satu jenis. Namun dalam pelaksanaan, belum dapat membuang sampah sesuai tempat-tempat yang disediakan.
Masih banyak, bahkan dapat dikatakan mayoritas masyarakat mencampur pembuangan sampah tersebut. Program tentang sampah seharusnya mulai dijalankan dengan disiplin seperti program kampung organik, bank sampah, TPS 3R, dan TPST.
Dari data yang didapat, Kota Magelang memiliki sebanyak 139 unit bank sampah. Hal ini akan mempermudah dalam proses pemilahan sampah dan proses daur ulang. Masyarakat juga harus memahami konsep dari 3R. Reduce atau mengurangi sampah, reuse memakai kembali barang-barang yang masih dapat dipakai dan recycle atau mendaur ulang.
Tindakan yang sudah dapat dikatakan cukup berhasil yaitu pengurangan plastik kantong belanja. Para konsumen yang berbelanja di supermarket harus menyiapkan tas belanja yang dapat dipakai berulang kali.
Pihak supermarket tidak lagi menyediakan kantong belanja plastik, atau dikenakan biaya untuk penggunaan per plastik.
Adapun beberapa remaja mulai menggunakan sedotan stainless dan alat makan yang tidak sekali pakai, desain unik dan beragam juga menjadi daya tarik mereka untuk menggunakannya.
Sampah anorganik lainnya juga dapat diolah menjadi perabot rumah tangga seperti meja dan kursi. Teknik ini dikenal dengan nama ecobrick. Sampah-sampah yang memenuhi kriteria akan dilelehkan bersamaan kemudian dipadatkan.
Kemudian sampah organik dapat diolah dan dikembangkan menjadi pupuk. Inovasi lainnya yaitu diolah menjadi edible film, atau bungkus plastik yang ramah lingkungan dan mudah terurai oleh tanah.
Mengurangi sampah-sampah di lingkungan sekitar tak harus memakan biaya yang besar untuk pengembangan teknologi. Pengurangan limbah sampah dapat dimulai dari asal limbah tersebut berasal.
Menjadikan tindakan preventif menjadi kebiasaan akan sangat membantu dalam mengurangi timbunan sampah yang menimbulkan bau tak sedap. Dan mengurangi nilai estetika untuk kota kita. Semua itu dimulai dari diri kita yang sadar akan darurat sampah di lingkungan sekitar. (*/lis)
Mahasiswa Teknik Lingkungan Unversitas Islam Indonesia
Editor : Lis Retno Wibowo